Mari Bersenang-senang

kalau dapat, aku ingin menuliskan sajak untukmu

yang penuh tawa dan kesenangan

tapi dunia ini, sayang, lebih menyenangkan dan lebih menarik dari sajak manapun.

tertawalah, pada ironi yang sungguh lucu di hidup ini

tidakkah menurutmu demikian?

kalau omong kosong bisa menjadi sebuah panutan, apakah tidak lucu namanya?

mari bergembira di dunia yang sungguh menarik ini.

mari bersenang-senang.

 

Advertisements

Ranum, Rindu Aku?

Selamat pagi, Ranum. Apa kabar kamu? Rindu aku? Aku rindu kamu. Lama sekali aku tidak menulis surat kepadamu. Aku tertelan kesibukanku sendiri, Ranum. Kamu sedang sibuk apa? Aku selalu ingin mengetahui kesibukanmu. Mengetahui hal-hal yang kamu suka, yang kamu nikmati.

Sekarang aku sudah lulus kuliah, Ranum. Aku sempat menganggur, tapi sekarang aku sedang bekerja di sebuah kementrian sebagai seorang editor lepas. Aku hanya dikontrak selama sebulan, Ranum. Baru kali ini aku merasakan arti kerja yang sesungguhnya. Kamu kan tahu sendiri kalau aku ini anak manja yang memang dimanjakan. Read more

Puisi Sapardi

Aku langsung terpana, ketika mendengar puisi Sapardi yang berjudul Ketika Berhenti di Sini dimusikalisasi oleh Ari Reda.

begini liriknya:

 

Ketika berhenti di sini ia mengerti ada yang telah musnah

beberapa patah kata yang segera dijemput angin begitu diucapkan

dan tak sampai ke siapapun.

 

Alunan musik dan suara yang merdu, ditambah lirik yang sarat makna membuatku seakan memasuki lorong hatiku sendiri. Lagi-lagi, aku merasa Sapardi sengaja membuat puisi ini untukku. Atau mungkin hal yang dinyatakan puisi ini memang dialami oleh setiap orang. Aku tak begitu mengerti kenapa aku suka mendengar, membaca, dan membuat puisi. mungkin karena puisi mampu mewakili perasaanku dengan tidak terlalu cerewet. Hal itu pula yang aku suka dari puisi Sapardi ini.

membaca dunia

Sudah lama aku berhenti membaca dunia, membaca manusia.
Aku sibuk membaca diriku sendiri. Aku lupa bahwa diriku tak pernah benar-benar diriku. Ada bagian dari manusia lain di diriku, di dalam cara berpikirku.

Aku seringkali terpesona oleh kata atau kalimat atau cerita yang dibuat oleh orang lain karena mereka mampu merumuskan hal-hal yang selama ini berkecamuk dalam pikiranku.
Aku tak pandai merumuskan apa yang aku pikirkan, apa yang aku rasakan. Aku terlampau bodoh sepertinya.

Aku memikirkan hidup, waktu, manusia dan segala kerumitan yang ajaib di antaranya. Tapi aku tak mampu merumuskannya ke dalam katakata yg indah dan padu. Orang lainlah yang mampu dan aku senang membacanya. Aku mampu membaca banyak buku, tapi aku belum mampu membaca dunia. Bagaimana aku dapat membaca dunia kalau membacamu pun aku kewalahan?