Ranum, Ini Permohonan Maaf

Ranum, apa kabar? Surat ini selalu dibuka dengan pertanyaan yang sama, menanyakan kabarmu. Ini bukan basa-basi, Ranum. Aku memang benar ingin tahu kabarmu. Apakah kamu benar bahagia di saat ini? Aku selalu berharap kebahagiaan menaungimu sehingga kau juga dapat memercikkan kebahagiaan ke sekitarmu. Dan apa kabar pula kotamu? Mana yang lebih sering menyapanya, terik atau […]

Ini Tentang Rindu, Ranum

Ranum, aku rindu kamu. Aku sungguh rindu kamu. Aku hampir menangis karena rindu ini–dan hal-hal lainnya. Aku butuh pundakmu untuk bersandar, dan petikan gitarmu untuk tenang. Aku ingin melepas beban di sampingmu dan bercerita tentang betapa mengerikannya prasangka. Tentang potensi menyakitkan yang dikandung harapan. Aku ingin bercerita dan bercerta terus sambil menghabiskan malam denganmu. Ranum, […]

Ranum, Akhirnya Aku Menulis Untukmu lagi

Pagi, Ranum. Sudah beberapa minggu ini aku tidak menulis untukmu. Aku tidak menulis karena memang tidak ada yang ingin kutulis. Tidak ada cerita yang ingin kubagi denganmu. Bukan karena aku melupakanmu, tapi karena memang tidak ada yang menarik dari hidupku. Aku tergilas dalam rutinitas yang rajin. Tapi dua hari belakangan ini aku mengalami hari yang di luar kebiasaan. Continue reading “Ranum, Akhirnya Aku Menulis Untukmu lagi”

Ranum…

Ranum, aku diburu gelisah. Aku diburu oleh kecemasan-kecemasanku sendiri. Betapa aku kerdil di tengah dunia yang mahaluarbiasa ini. Begitu banyak yang tidak aku ketahui, Ranum. Pram bilang, hidup hanya menunda kematian. Nah, kalau itu soalnya, bagaimana caraku menunda kematian. Harus diisi oleh apa hidupku yang kosong ini, Ranum? Tak selamanya waktu dapat dihabiskan untuk bersenang-senang, bukan? […]

Ranum, Ayo Bercerita lagi!

Halo, Ranum. Apa kabar? Klise ya? Maaf kalau aku  membuka surat ini dengan pertanyaan klise. Harus dengan apa aku buka surat ini? Tentu saja, harusnya kamu sudah tahu bahwa surat ini dibuka dengan rindu, meskipun tidak tertulis. Aku masih merasa gembira jika mengingat liburanku kemarin. Aku semakin cinta dengan perjalanan dan kemanusiaan. Sudah kamu terima […]

Ranum

Ranum, aku ingin menangis. Bukan. Bukan karena hidup ini indah, tapi karena ini terlalu menyakitkan. Terlalu menyesakkan. Ternyata sesakit ini, Ranum. Aku tidak sanggup menahannya. Aku ingin merinai pada dini hari yang sepi ketika ia bahkan tak tahu aku sedang merinai. Atau menjadi kabut pada pagi sehabis hujan dan menyaksikan daun-daun mulai terjaga. Atau menjadi sesuatu […]