Blindness

jose saramago

 

Judul: Blindness
Pengarang: Jose Saramago
Tahun terbit: 2015
Penerbit: Matahari
Jumlah halaman: 487

 

Pernah jatuh sakit karena tertular? Ada banyak penyakit menular di dunia ini, misalnya demam berdarah, flu, cacar, dan masih banyak lagi. Penyakit-penyakit menular tersebut dapat diobati dengan perawatan intensif di rumah sakit. Akan tetapi, bagaimana jika penyakit yang menular itu adalah kebutaan dan belum ada yang mengetahui penyebab dan obatnya? Tentu saja perkaranya menjadi lain.

Jose Saramago, penulis asal Portugis yang pernah memenangkan hadiah Nobel di bidang kesusastraan ini mampu menceritakan tentang kebutaan menyeluruh di suatu negara dalam bukunya yang berjudul Blindness. Saramago mampu menuliskan kemungkinan terburuk dari suatu negara yang seluruh rakyatnya menjadi buta.

Awalnya kebutaan itu dialami satu orang secara mendadak. Seorang lelaki sedang menyetir mobil, lalu mendadak buta. Akan tetapi kebutaan yang ia alami bukanlah kebutaan biasa, ia buta dalam putih dan bukan hitam. Ia melihat semuanya seperti putih susu. Ia memeriksakan matanya ke dokter mata, lalu dokter mata tersebut menjadi buta. Orang yang membantunya pulang ke rumah juga menjadi buta. Tidak lama kemudian, istirnya juga buta.

Setelah banyak orang yang tiba-tiba menjadi buta, akhirnya pemerintah menetapkan bahwa kebutaan tersebut merupakan wabah. Orang-orang pertama yang mengalami kebutaan diisolasi di sebuah rumah sakit jiwa yang sudah tidak terpakai agar kebutaan tersebut tidak menyebar. Di dalam tempat isolasi tersebut awalnya hanya diisi oleh beberapa puluh orang, lalu lama-kelamaan dihuni oleh ratusan orang.

Tempat tersebut dijaga oeh para tentara. Para orang buta di dalam tempat tersebut diharuskan mengatur dirinya sendiri. bayangkan bagaimana orang-orang buta tersebut mengatur dirinya. Terjadi kekacauan. Awalnya pembagian tempat tidur, lalu masalah kebersihan dan kakus. Banyak yang tidak mencapai kakus untuk menuntaskan hajatnya dan akhirnya membuang kotoran di sembarang tempat. Selain itu, masalah lain adalah masalah pembagian makan. Para tentara menyediakan makanan, tetapi yang mengatur pembagiannya adalah para penghuni karantina tersebut yang semuanya adalah orang buta. Ketika seseorang kehilangan pengelihatannya, tentu saja sulit untuk membagi makanan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu mereka dapat mengatur pembagian makan.

Sebenarnya, cerita ini berfokus pada satu bangsal, yaitu bangsal pertama tempat orang-orang pertama yang mengalami kebutaan. Uniknya, ternyata di dalam bangsal tersebut terdapat satu orang yang tidak buta, yaitu istri dokter mata. Ia dapat melihat tetapi berpura-pura buta agar dapat menemani suaminya yang buta. Sesungguhnya ia yang membantu mengontrol keadaan agar tidak terlalu kacau. Di dalam novel ini tidak disebutkan satu nama pun. Semuanya menggunakan kata ganti dengan merujuk pada identitas lain para tokoh. Cerita ini berfokus pada tujuh orang, yaitu Lelaki Buta Pertama, Istri Lelaki Buta Pertama, Dokter Mata, Istri Dokter Mata, Bocah Juling, Wanita Berkacamata Hitam, dan Lelaki Bertampal Mata Hitam. Semuanya adalah penghuni bangsal pertama.

Ketika di tempat isolasi tersebut dihuni oleh sekelompok ‘mafia makanan’ yang menahan semua pasokan makanan para penghuni kecuali yang mampu membayar terjadilah kekacauan. Kekacauan tersebut diperparah ketika sekelompok mafia tersebut meminta bayaran dengan tubuh wanita. Para wanita harus menyerahkan tubuhnya agar mereka mendapat mekanan. Isti dokter juga menjadi salah satu wanita yang menyerahkan tubuhnya. Ia melihat bagaimana hal tersebut terjadi dan bagaimana seorang wanita mati karena diperkosa oleh empat belas laki-laki secara bergilir. Kemanusiaannya seperti diuji. Akhirnya istri dokter membunuh kepala ‘mafia makanan’ ini dengan gunting yang dibawanya. Pembunuhan kepala mafia itu merupakan perlawanan yang mewakili kaum perempuan di tempat tersebut.

Keadaan menjadi semakin kacau ketika terjadi perlawanan lainnya. Akhirnya salah seorang penghuni yang membawa pemantik membakar ruang ‘mafia makanan’ tersebut berkumpul yang berakibat terbakarnya seluruh tempat tersebut. Mereka akhirnya keluar dari tempat isolasi tersebut. Ternyata di luar keadaannya sama saja, bahkan lebih buruk. Semua orang telah menjadi buta. Tidak ada lagi tentara yang menjaga rumah sakit jiwa tersebut. Satu-satunya orang yang tidak mengalami kebutaan adalah istri dokter. Entah mana yang lebih buruk, orang buta di dunia buta atau orang yang dapat melihat di antara orang buta.

Semua orang mempertahankan hidup dengan mengais-ngais makanan. Kepemilikan atas rumah sudah tidak diakui karena sekarang semua orang berpindah tempat untuk mencari makanan. Banyak mayat di pinggir jalan, entah karena kelaparan atau karena hal lain. Banyak kotoran di mana-mana. Terdapat kelangkaan air bersih dan semua manusia terlihat kotor. Istri dokter yang mampu melihat mebawa rombongannya ke tempat aman dan pergi mencari makanan. Lalu ia membawa mereka ke rumahnya.

Di rumahnyalah mereka semua tinggal. Hujan deras menjadi anugerah baginya karena hanya jika hujan deraslah ia dapat mencuci semua pakaian kotor mereka dengan persediaan sabun yang ia miliki. Berkat hujan pula ia dapat mengumpulkan air untuk keperluan penting lainnya. Ia juga dapat membersihkan diri. Tidak hanya dirinya, tetapi juga yang lain.

Setelah sekian lama istri dokter hidup bersama orang-orang buta, akhirnya tiba-tiba salah satu dari mereka dapat melihat kembali, lalu disusul oleh yang lain. Akhirnya pengelihatan semua orang telah pulih. Tetapi istri dokter merasakan sesuatu yang lain di samping kebahagiaan, ia merasakan kesedihan hingga akhirnya ia menangis. Cerita ditutup dengan kejadian ironis, yaitu hilangnya pengelihatan istri dokter ketika yang lain memperoleh kembali pengelihatan mereka.

***

Buku ini bagus karena idenya yang sangat tidak biasa. Jose Saramago, sebagai pengarang, mampu berpikir tentang betapa chaos-nya sebuah negara yang semuanya kehilangan pengelihatan. Ketika salah satu indera yang paling penting yang dimiliki manusia itu tidak berfungsi secara tiba-tiba dan dialami oleh semua orang tentu saja akan menimbulkan kepanikan dan kekacauan. Pemerintahan sudah tidak berfungsi. Tidak ada lagi perintah. Keegoisan manusia muncul dan manusia kembali menjadi makhluk primitif. Siapa yang kuat, dialah yang menang.

Makanan yang pernah mudah didapat menjadi kemewahan tersendiri ketika semua orang menjadi buta. Kedisiplinan dan keteraturan kehilangan makna karena memang amat sulit menjaga kedisiplinan semasa mata masih melihat oleh orang yang kehilangan pengelihatan. Hal-hal paling buruk dideskripsikan Saramago dengan sangat baik.

Akan tetapi, dalam buku terjemahan terbitan Matahari ini terdapat kekurangan dalam hal bahasa yang mengganggu saya. Pertama adalah tentang sudut pandang yang berubah. Sejak awal, pencerita adalah orang ketiga mahatahu. Ia tidak terlibat dalam cerita. Pencerita tidak pernah melibatkan dirinya dalam cerita. Kata ganti yang ia gunakan adalah mereka, istri dokter, dan panggilan lain yang merujuk kepada masing-masing tokoh. Gaya penceritaannya kadang memang seperti mengajak pembaca menjadi bagian dalam cerita; seperti seorang teman yang menceritakan kisahnya kepada teman lainnya. Akan tetapi, di tengah cerita pencerita menggunakan kata ganti ‘kami’ yang berarti si pencerita juga termasuk ke dalam cerita sebagai orang yang bisa melihat (karena ia mampu mendeskripsikan semuanya dengan sangat baik). Hal tersebut membingungkan bagi pembaca. Lihat saja kutipan berikut ini:

“Menit-menit berlalu, sejumlah lelaki buta telah terlentang, berapa sudah terlelap. Sebab, teman-temanku, karantina memang dimaksudkan buat makan dan tidur…sepanjang mereka memasok kami dengan makanan, karena kami tidak dapat hidup tanpanya, ini seperti tinggal di hotel.” (Saramago, 2015: 160)

Dari kutipan di atas, seolah-olah pencerita adalah salah satu interniran buta yang dikarantina. Akan tetapi setelah itu tidak ada lagi kata ganti ‘kami’. Pencerita tetap bercerita seperti biasa dan ia menjadi orang ketiga mahatahu di luar cerita kembali. Ia bercerita tentang tujuh orang adalah penghuni bangsal pertama dan tidak ada dia di dalamnya. Entah apakah ini disengaja oleh pengarang, atau kesalahan tim penerjemah, atau kealpaan editor.

Selain itu, penggunaan bahasa yang tidak tepat juga mengganggu saya sebagai pembaca. Sejak awal, di dalam narasi tidak pernah digunakan kata-kata tidak baku. Tiba-tiba di dalam narasi, di halaman 354, terdapat kata-kata tidak baku.

“…lelaki tua yang bertampal mata hitam, yang kakinya gede, mengatasi problemnya dengan memakai sepatu basket, yang secara khusus dibuat untuk pemain basket setinggi enam kaki dengan tangan dan kaki sepadan tinggi badannya. Memang tampak menggelikan, kayak pakai selop putih..” (Saramago, 2015: 354)

Alih-alih menggunakan kata ‘gede’, penerjemah dapat menggunakan kata ‘besar’. Selain itu, kata ‘kayak’ jelas-jelas tidak baku karena bahasa Indonesia menyediakan padanannya, yaitu ‘seperti’. Kata-kata tidak baku yang terdapat di halaman tersebut juga tidak dicetak miring. Seharusnya, kata-kata tidak baku ditulis dengan cetak miring. Hal-hal menyangkut bahasa ini memang terlihat sepele, namun dapat mengganggu proses membaca. Kenikmatan pembaca dapat terganggu hanya karena hal-hal sepele seperti ini. Alangkah baik jika editor Matahari dapat menyunting hal-hal kebahasaan ini dengan lebih teliti. Tidak mungkin saya mengkritik Saramago karena saya memang tidak membaca karya ini dalam bahasa aslinya, tetapi terjemahannya. Jadi, yang harus membenahi diri adalah tim penerjemah Matahari dan editornya.

Terlepas dari segi bahasa, buku ini sangat menarik untuk dibaca karena mampu menghidupkan imajinasi kita tentang hal-hal buruk sehingga kita mampu mengoreksi kekurangan diri kita sendiri. Menggugah kemanusiaan kita yang selama ini dimanjakan oleh banyak kemudahan. Apakah kita sanggup kehilangan sesuatu yang paling esensial? Apakah kita mampu mempertahankan kemanusiaan ditengah kekacauan? Apakah kita siap dengan ketiba-tibaan dalam hidup? Saya merenung setelah selesai membaca buku ini. Ternyata banyak pertanyaan dalam diri yang harus dijawab.

Advertisements

Cerita Singkat untuk Ranum

Ranum, penulis yang kugeri sejak SMA itu menulis dengan sangat giat karena ia merasa perlu lebih giat dari orang giat agar semua tanggung jawabnya terpenuhi. Pantas ia menjadi penulis yang kugemari dan digemari oleh banyak orang lainnya. Ia produktif dan karya-karyanya nikmat dibaca. Aku ingat kata-kata teman baikku yang dulu diucapkan di jalan menuju stasiun Cikini dari sebuah acara di TIM, “Dalam menulis juga butuh kedisiplinan.” begitu ucapnya. Aku amini dia benar-benar. Penulis idolaku itu memberikan bukti nyata tentang hal tersebut. Aku sadar, aku bodoh dan malas. Aku akan berusaha rajin dan tidak malas agar pintar. Kalau aku pintar kau akan merasa bangga, kan?

lucu juga mengingat bagaimana aku secara tidak sengaja membeli buku penulis kesukaanku itu di sebuah pameran, buku kumpulan esai. Sampulnya tidak menarik perhatian remaja yang baru masuk SMA, tapi karena itulah aku membelinya. Setelah aku baca, aku jadi tahu banyak hal dan ingin mengetahui lebih banyak tentang hal yang dibicarakan buku tersebut. Diawali buku esai tersebut aku mulai membaca kisah-kisah pewayangan, membaca sastra, dan membaca apapun. Aku ingin seperti itu.

Of Mice And Men Karya John Steinbeck

OfMiceandMen

Judul: Of Mice and  Men
Pengarang: John Steinbeck
Penerjemah: Isma B. Koesalamwardi
Penerbit: Ufuk Press
Tahun terbit: 2006
Jumlah Halaman: 199

Kebanyakan dari kita pasti pernah menangis ketika menonton film. Biasanya air mata kita keluar karena cerita yang sangat menyayat hati. Kita sebagai manusia biasa, terenyuh karena terbawa oleh cerita pada film tersebut. Akan tetapi, pernahkah kita menangis karena sebuah bacaan?

Saya sendiri jarang sekali menangis karena sebuah bacaan, padahal baik bacaan–dalam hal ini fiksi— maupun film memiliki alur yang membuat saya terhanyut oleh cerita. Sejauh ini, hanya dua buku yang membuat saya meneteskan air mata, keduanya novel. Novel pertama adalah Horeluya karya Arswendo Atmowiloto dan yang kedua adalah Of Mice and Men karya John Steinbeck yag diterjemahkan oleh Isma B. Koesalamwardi. Dalam tulisan ini saya hanya akan membicarakan tentang buku ke dua.

Of Mice and Men pertama kali terbit pada 1937. Latar dari novel ini adalah California pada masa depresi. Novel ini bercerita tentang dua orang sahabat, George dan Lennie, yang telah melalui perjalanan panjang bersama. George bertubuh kecil namun cerdas, sedangkan Lennie bertubuh besar dan sangat kuat tetapi agak terbelakang. Lennie sangat mudah melupakan sesuatu. George selalu melindungi Lennie dari masalah yang ditimbulkannya. Mereka saling bergantung sama lain.

Mereka pernah bekerja di sebuah peternakan, tetapi harus kabur dari sana karena seorang perempuan yang ketakutan ketika Lennie menyentuh rok merahnya. Lennie menyukai rok merah gadis tersebut, tetapi gadis tersebut mengira Lennie melecehkannya. Teriakan gadis itu membuat Lennie panik dan malah menguatkan pegangannya. Akhirnya ia diburu oleh warga sekitar sehingga ia dan George harus bersembunyi di selokan untuk kemudian kabur. George sangat paham bahwa Lennie tidak pernah berniat jahat terhadap siapapun. Ia hanya tidak mampu mengontrol kekuatannya ketika panik.

Mereka memliki cerita kesukaan mereka yang berisi mimpi mereka, yaitu cerita tentang sebuah tanah lapang yang di atasnya berdiri rumah kecil beserta kebun dan beberapa hewan ternak yang dimiliki oleh mereka sendiri  sehingga mereka tidak perlu lari atau bersembunyi. Mereka akan mengatur hidup mereka sendiri tanpa suruhan orang lain dan mereka aman di sana. George akan menceritakan tentang hal tersebut ke Lennie dan ia sangat menyukainya.

Setelah kabur, mereka akhirnya mendapat pekerjaan baru di sebuah peternakan lain. Awalnya semua baik-baik saja hingga akhirnya Lennie secara tidak sengaja membunuh istri anak pemilik peternakan. Lennie sangat menyukai sesuatu hal yang lembut, awalnya ia membelai rambut istri anak pemilik peternakan ketika George sedang pergi ke bar. Lennie terus membelai rambut wanita itu hingga akhirnya wanita itu ketakutan oleh kekuatan Lennie. Ia berteriak dan membuat Lennie panik. Lennie mengguncangnya hingga lehernya patah. Lennie tidak menyadari keuatannya. Ketika perempuan itu tidak bergerak, ia baru menyadari bahwa wanita itu telah mati, sama seperti tikus-tikus yang mati karena ia belai. Ia bersembunyi ke sebuah sungai tempat ia dan George pernah bermalam sebelum tiba di peternakan.

Sekembalinya dari bar, George menemukan mayat istri anak pemilik pternakan dan mengetahui dengan pasti bahwa itu perbuatan Lennie. Suami perempuan mati tersebut juga mngetahui hal tersebut dan merasa sangat marah. Ia berkata ia akan menembak Lennie. Mengetahui Lennie dalam bahaya dania sama sekali tidak dapat menyelamatkannya, George akhirnya mengarahkan penghuni yang lain ke arah yang berseberangan dengan tempat Lennie bersembunyi. Ia tahu tempat persembunyian Lennie karena ia pernah memberi tahu Lennie tentang tempat tersebut jika Lennie membuat masalah.

George akhirnya menembak kepala Lennie dengan tangannya sendiri. Ia tidak ingin Lennie mati di tangan orang lain yang membenci Lennie. Ia tahu pasti bahwa Lennie tidak pernah bermaksud jahat, ia hanya tidak dapat mengontrol kekuatannya. Ia menembak Lennie di bagian belakang kepalanya sambil menceritakan kisah kesukaan mereka. Lennie tidak pernah tahu bahwa George akan menembaknya. Ia begitu senang diceritakan oleh George. Betapa menyedihkan ketika seorang sahabat menembak sahabatnya sendiri karena tidak ingin sahabat itu dihabisi oleh orang yang membencinya.

Sebenarnya, nasib Lennie sama dengan nasib anjing tua milik penjaga peternakan yang ditembak oleh salah satu penghuni yang tidak menyukai baunya. Setelah anjing tua itu ditembak, penjaga peternakan bergumam di dekat George bahwa harusnya ia sendiri yang membunuh anjing itu dan bukan orang lain. Nasib George dan Lennie sama seperti penjaga peternakan dengan anjing tua kesayangannya. Bukan sebagai majikan dan peliharaan, tetapi sebagai sahabat yang saling menyayangi dan melindungi.

Telah saya katakan di awal tulisan bahwa saya menangis membaca cerita ini. Cerita ini sangat mengharukan sehingga tidak mengherankan novel ini telah beberapa kali diadaptasi ke dalam film dan tv series. Tidak hanya alurnya yang apik, tetapi perwatakan tokohnya dibangun sangat kuat. Konflik dibangun dengan sangat hati-hati dan sudah ditunjukkan gejalanya di awal cerita, yaitu tentang Lennie yang tidak mampu mengontrol kekuatannya. Klimaks cerita ini berada di akhir, ketika George memutuskan bahwa ia harus membunuh Lennie sebelum anak pemilik peternakan yang membunuhnya. Meskipun akhir cerita tidak bahagia, pembaca tetap merasakan katarsis karena penyelesaian yang dipilih sang tokoh yang ternyata mengagetkan. Jika sebuah cerita adalah rajutan maka cerita ini adalah rajutan yang indah.

Novel ini memang berisis banyak ironi. Tidak hanya tentang George yang harus mengambil keputusan pahit, tetapi juga tentang perlakuan masyarakat Amerika saat itu kepada orang kulit hitam. Di peternakan itu terdapat satu orang kulit hitam yang bertugas menjaga istal kuda. Ia diperlakukan sangat tidak adil dan Steinbeck mampu menggambarkan dan mengungkapkan ketidakadilan tersebut dengan baik. Orang Negro sama sekali tidak dihargai di dalam masyarakat. Mengingat tahun terbit dan latar cerita, keputusan Steinback mengangkat hal-hal tabu tersebut dalam novelnya dapat dikatakan cukup berani.

Dalam hal ini sebenarnya saya tidak boleh hanya mengapresiasi Steinbeck sebagai penulis yang telah menghasilkan karya yang nikmat untuk dibaca, tetapi juga penerjemah yang mampu membuat karya ini tetap enak dibaca dengan bahasa lain. Penerjemahan bukanlah hal mudah. Penerjemah harus berusaha sangat keras agar karya yang ia terjemahkan artinya tidak melenceng atau tidak mengubah makna. Untuk itu ia harus memiliki kepekaan terhadap kata-kata. Jika penerjemah salah memilah kata, akibatnya makna yang dibangun kurang kuat dan dapat membuat kualitas karya tersebut turun. Jadi sudah seharusnya saya ucapkan selamat kepada penerjemah buku ini yang terjemahannya mampu membuat saya menangis.

Bagi saya, hal yang menyenangkan ketika membaca buku adalah ketika saya mampu mendapat katarsis atau kepuasan. Kepuasan pembacaan tidak hanya didapatkan dari bacaan dengan akhir yang menyenangkan. Kepuasan tersebut dapat diperoleh dari berbagai jenis bacaan, bisa jadi saya katarsis setelah membaca buku sejarah atau ensiklopedia. Membaca buku seperti menimbun kekayaan dan mencari harta karun. Selalu ada hal baru yang didapat. Selalu ada cerita baru untuk menambah khayalan. Jadi, mari membaca! 🙂

Sang Juragan Teh Karya Hella S. Hasse

sang-juragan-teh

Judul: Sang Juragan Teh
Judul Asli: Heren van de Thee
Halaman: 430
Pengarang: Hella S. Hasse
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Membaca buku Sang Juragan Teh karya Hella S. Hasse seperti bertamasya ke alam Priangan pada akhir abad 19 hingga awal abad 20. Latar waktu dalam buku ini adalah 1873–1918. Pembaca dibawa masuk ke dalam kehidupan Rudolf Kerkhoven semenjak muda di Gambung, perkebunan teh miliknya, hingga akhirnya harus meninggalkannya. Hasse mampu menggambarkan perkebunan teh milik Rudolf dengan sangat apik. Bagaimana perkebunan teh yang hijau terhampar luas itu dinaungi oleh Gunung Tilu dan dikelilingi oleh hutan-hutan.

Pembaca tidak hanya dikenalkan dengan kehidupan Rudolf, tetapi juga keluarga besarnya yang merupakan tokoh-tokoh Belanda yang cukup kaya di Hindia belanda. Rudolf Kerkhoven adalah anal laki-laki pertama dari enam bersaudara. Ia memiliki satu kakak perempuan yang beranama Bertha, dua adik laki-laki, Julius dan August, serta satu adik perempuan, Cateau. Ayahnya hijrah ke Hindia Belanda dan membuka perkebunan teh yang dinamakan Arjasari. Sebelum ayahnya, sudah ada beberapa orang dari keluarga besarnya yang lebih dulu membuka usaha di Hindia Belanda.

Rudolf Kerkhoven pergi ke Hindia Belanda setamatnya dari universitas di Delft. Ia pergi ke perkebunan ayahnya dengan harapan dapat meneruskan usaha ayahnya. Akan tetapi, ternyata ia dititipkan di perkebunan milik sepupunya dan diharapkan dapat belajar dari sana. Pada awalnya ia tinggal di perkebunan milik Adriaan van Holle di Parakan Salak, lalu kemudian ia pindah dan tinggal di perkebunan teh milik Eduard Kerkhoven yang masih terhitung sepupunya di Sinagar. Di sana, Rudolf belajar banyak tentang budidaya teh dan secara rutin menyurati ayahnya di Arjasari tentang keadaannya serta tips dalam membudidayakan teh karena ayahnya masih terhitung baru dalam bisnis tersebut.

Akhirnya Rudolf mendapat perkebunannya sendiri di Gambung dengan kepemilikan saham yang dibagi tiga. Setengah miliknya, lalu yang setengah lagi milik ayahnya serta kakak iparnya, Van Santern. Ia membangun perkebunan itu dari awal karena lahan miliknya merupakan lahan bekas pemerintah yang tidak terawat. Usahanya perlahan-lahan menuai hasilnya. Lalu ketika ia berkunjung ke Batavia, tempat adik perempuannya, ia bertemu dengan Jenny Roseegaarde. Mereka saling menyukai dan akhirnya menikah. Jenny ia bawa ke Gambung dan mengalami hidup yang benar-benar berbeda dari hidupnya di Batavia. Awalnya Jenny merasa bahagia, tetapi seiring bertambahnya anak mereka dan rumah yang tidak terlalu besar serta sikap Rudolf yang meskipun berhati baik tetapi cenderung keras kepala dan otoriter membuat Jenny merasa tidak bahagia. Ia menginginkan kebebasan, tetapi Rudolf tidak menyadari itu hingga Jenny wafat.

Bisnis Rudolf berkembang pesat. Bisnisnya tidak hanya budidaya teh, tetapi juga kopi dan kina. Ia memiliki lima orang anak, empat anak laki-laki dan satu anak perempuan. Anak pertamanya bernama Rudolf, anak keduanya bernama Eduard, anak ketiganya bernama Emile, anak keempatnya bernama Karel, dan anak bungsunya merupakan perempuan bernama Bertha. Rudolf dan Eduard (selanjutnya Ru dan Edu) dikirim ke Belanda karena masalah biaya. Mereka melanjutkan pendidikannya di sana, begitu juga Emile yang menyusul beberapa tahun setelahnya. Karel meneruskan pendidikannya di Batavia, sedangkan Bertha mendapatkan pendidikannya di rumah.

Semua anak Rudolf dapat dikatakan berhasil mandiri. Ru dan Emile kembali ke Gambung untuk meneruskan bisnis ayahnya, Edu menetap di Belanda dan bekerja di sana. Akan tetapi, sebenarnya hubungan Rudolf dengan keluarganya dapat dikatakan tidak mulus. Ia berselisih dengan adik-adiknya sendiri. Ia berselisih dengan August perihal perkebunan ayahnya, Arjasari, yang diwariskan kepada August. Ia juga berselisih dengan adik iparnya, Joan E. Henny suami Cateau, karena ia anggap memfitnah dan tidak mendukung keputusannya sehubungan dengan permintaan Rudolf untuk kenaikan gaji dan tunjangan janda untuk Jenny. Terdapat perbedaan pola pikir antara Rudolf dengan Joan E. Henny serta August. Masalah perselisihan itu tidak berakhir hingga adiknya wafat.

Hal yang menarik dari buku ini adalah cara hidup para Belanda totok yang datang ke Hindia. Bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan tempat baru mereka. Mereka belajar bahasa dan kebudayaan setempat, tetapi juga tidak ingin melepaskan budaya Belanda mereka. Mereka tetap ingin menjadi warga yang terhormat di kalangan pribumi yang merupakan pekerja mereka dengan cara memakai pakaian yang berbeda dan ketegasan sikap yang ditampilkan. Rudolf digambarkan tidak dapat beradaptasi dengan makanan dari Hindia Belanda dan hal itu merupakan salah satu masalah yang dihadapinya. Ada salah satu tradisi yang merupakan ajang bersosialisasi yang diperuntukkan untuk kaum Eropa, yaitu pacuan kuda yang sering dilaksanakan di Bogor atau Bandung. Pada acara seperti itu semua orang Eropa yang mengenakan pakaian terbaiknya, lalu setelah pacuan kuda selesai mereka bersosialisasi di pesta dansa. Keluarga Rudolf jarang menghadiri acara tersebut karena biaya yang terlalu mahal. Tetapi, setelah Rudolf mampu memperoleh banyak keuntungan, anak perempuannya serta ia dan istrinya mampu menghadiri pertemuan tersebut.

Tidak hanya itu, ternyata terdapat perbedaan kehidupan yang sangat signifikan antara masyarakat Belanda yang tinggal di perkebunan dan tinggal di kota besar, seperti Batavia. Kebanyakan wanita Belanda tidak menyukai tinggal di ‘udik’. Bertha dan Cateau, saudari Rudolf adalah gadis-gadis yang sangat tidak menyukai tinggal di pedesaan, begitu juga Marie, adik Jenny. Cara mereka agar tidak tinggal di pedesaan adalah dengan menikahi pria yang bekerja di kota. Menarik melihat kenyataan bahwa kehidpan wanita dibatasi oleh pernikahan. Mereka tidak pernah bekerja, hidup mereka didedikasikan untuk rumah tangga. Bagaimana mengatur pekerja dan bujang, menyiapkan jamuan untuk tamu, mendidik anak, serta mengurus rumah. Para wanita jarang sekali digambarkan memiliki wewenang khusus atas sesuatu, termasuk harta. Semua ada di bawah kendali suami. Seringkali pernikahan antara wanita dan pria tidak didasari oleh ketertarikan satu sama lain seperti halnya yang dialami oleh Rudolf dan Jenny, tetapi sebatas hubungan bisnis atau demi kemudahan hidup di masa mendatang. Contohnya, Cateau yang menikahi Joan E. Henny agar tidak perlu hidup di pedesaan. Masalah banyaknya anak juga menimbulkan masalah tersendiri bagi perempuan Belanda. Mereka merasa kerepotan dan akhirnya harus mengirimkan anak-anak mereka ke Belanda untuk diasuh oleh kerabat mereka di sana. Jenny mengirimkan dua anaknya ke Belanda. Ibu Jenny juga merasa sangat kewalahan karena memiliki sangat banyak anak dan akhirnya berakibat pada kesehatan jiwa dan raganya.

Hubungan antara orang Belanda dengan pribumi juga merupakan hal yang menarik yang digambarkan dalam buku ini. Rudolf memang dekat dengan pekerjanya, tetapi juga sekaligus mengadakan jarak dengan mereka. Rudolf sering membantu penduduk desa dan berbaik hati membuat pondok bagi para pekerja yang bekerja di kebunnya. Akan tetapi, ketegasan Rudolf yang enggan menaikkan upah dinilai olehnya sebagai salah satu cara agar ia tetap dihormati. Demikian pula cara berpakaiannya yang menggunakan pakaian Belanda meskipun tidak nyaman di udara tropis agar ia memiliki wibawa. Pada awal masa tinggalnya di Gambung, pekerja sempat melakukan pemberontakan kecil-kecilan dengan cara mogok kerja. Ternyata hal tersebut adalah hasutan dari salah satu asisten pribuminya, Jenggot, yang menghasut warga untuk meminta kenaikan upah. Hal itu diatasi oleh Rudolf dengan membina hubungan baik dengan pribumi serta Jenggot dengan cara memberikan hadiah dan sedikit menaikkan upah harian mereka.

Ketika terjadi pemberontakan oleh pekerja di perkebunan teh lain sehingga para mandor harus membawa senjata saat kontrol, Rudolf menganggap hal itu adalah suatu hal yang berlebihan. Menurutnya, jika terjadi suatu pemberontakan, pasti yang salah adalah para pemilik kebun teh dan pengelolanya yang mempelakukan pekerjanya secara tidak adil. Di perkebunan teh miliknya, Gambung, tidak pernah ada pemberontakan. Akan tetapi, bukan berarti Rudolf adalah salah satu orang Belanda yang memihak pribumi. Ia tetap memandang pribumi sebagai orang yang memiliki status yang lebih rendah dari orang Belanda.

Di antara keluarga besar Rudolf terdapat orang-orang yang dekat dan cukup memiliki nama baik di antara kaum pribumi. Salah satunya yang paling terkenal adalah Karel Holle. Karel merupakan salah satu sepupu Rudolf yang akrab dengan para pemuka agama Islam di tanah Priangan. Ia mahir berbahasa Sunda dan memahami sastra kuna Jawa dan Sunda serta memahami Islam. Ia dikenal ramah dan baik hati terhadap penduduk pribumi dan berusaha menyejahterakan mereka. Karel sempat dituduh menghasut pemberontakan oleh kaum Pribumi. Akan tetapi, kedekatan karel dengan pemuka agama Islam juga dimanfaatkan oleh pemerintah Belanda saat itu untuk mendapatkan informasi.

Selain Karel, Julius, adik Rudolf juga memiliki pandangan sendiri terhadap kaum pribumi, atau dalam hal Julius, Indo. Ia mengadopsi anak Indo Belanda dari kerabatnya. Hal ini merupakan salah satu hal yang dianggap memalukan oleh keluarga besar Rudolf karena anak itu telah bercampur dengan darah pribumi. Dalam surat Julius yang dialamatkan kepada Rudolf, ia menuliskan:

Kalian tidak menyadari betapa kerasnya diri kalian! Kalian berani menyebut pribumi sebagai ‘monyet-monyet’, meskipun dengan maksud bersenda gurau. Kalian menganggap orang-orang berdarah campuran sebagai orang-orang berkelas lebih rendah. (Hasse, 2015: 363)

Anak-anak Rudolf tidak mewarisi sifat keras ayahnya. Anak-anak Rudolf cenderung lebih terbuka. Emile, anak laki-laki Rudolf, membaca Nietzche tanpa sepengathuan ayahnya. Dan ia menyukai seni dan sastra terbaru, berbeda dengan Rudolf yang sangat tidak menyukai hal-hal baru. Ia digambarkan sebagai seorang lelaki konservatif.

Buku Sang Juragan Teh karya Hella S. Hasse menggambarkan sudut pandang lain tentang masyarakat Belanda yang hidup di Hindia Belanda. Pramoedya pernah juga menggambarkan suasana Hindia belanda pada abad yang hampir sama melalui Tertralogi Burunya, tetapi sudut pandangnya tetap sudut pandang pribumi. Hasse memperluas pandangan kita tentang keadaan Hindia Belanda. Bagaimana orang Belanda memandang kaumnya sendiri tergambar jelas dalam buku ini, begitu juga hubungan antara Belanda dan pribumi melalui kacamata orang Belanda. Buku ini menyenangkan untuk dibaca karena alurnya yang linear dan cara bertutur yang ringan yang dinarasikan oleh orang ketiga. Akan tetapi, di dalamnya juga terdapat surat-surat yang menggunakan sudut pandang orang pertama yang membuat pembaca semakin mendalami kehidupan para tokohnya.

Sesuai dengan pernyataan pengarangnya, buku ini ditulis berdasarkan surat-surat dan dokumen-dokumen milik Het Indische thee-en familie archief (Arsip Perkebunan Teh dan Keluarga Besar Hindia). Oleh karena itu, novel ini dapat dikategorikan sebagai sastra sejarah yang menarik untuk dibaca karena dapat menambah pengetahuan kita tentang kehidupan sosial di perkebunan teh di Hindia Belanda pada akhir abad 19 hingga awal abad 20. Novel ini juga termasuk Sastra Hindia Belanda karena ditulis oleh orang Belanda, menggunakan bahasa Belanda dan bercerita tentang kehidupan di Hindia Belanda. Akan tetapi, buku yang penulis baca sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Ranum, Ayo Bercerita lagi!

Halo, Ranum.

Apa kabar? Klise ya? Maaf kalau aku  membuka surat ini dengan pertanyaan klise. Harus dengan apa aku buka surat ini? Tentu saja, harusnya kamu sudah tahu bahwa surat ini dibuka dengan rindu, meskipun tidak tertulis. Aku masih merasa gembira jika mengingat liburanku kemarin. Aku semakin cinta dengan perjalanan dan kemanusiaan. Sudah kamu terima kiriman foto dariku? Benar katamu, aku kurang piknik. Hahahahaha. Liburan kemarin aku menikmati hutan pinus dan menikmati pemandangan dari atas bukit. Betapa melegakan, Ranum, melihat hamparan bumi yang hijau dan bukan gedung-gedung tinggi. Perasaanku yang lebam terobati oleh alam bebas.

Ranum, apakah kamu percaya ungkapan homo homini lupus? Apakah kamu percaya manusia adalah serigala bagi manusia lainnya? Aku sih percaya. Masalahnya, dalam ungkapan itu seolah-olah serigala mewakili hal yang buruk dan licik. Padahal ya, Ranum, serigala itu memiliki sisi yang manis. Ya, manusia memang licik dan sangat sulit dipercaya, tapi bukan berarti manusia selalu buruk. Tanpa manusia lainnya, kita bisa apa? Jangan-jangan serigala merasa tersinggung oleh ungkapan itu? Jangan-jangan manusia tidak lebih baik dari serigala. Bukankah pendiri Roma menyusu pada serigala? Berarti serigala tidak selalu buruk. Aku dengan jelas mengatakan bahwa aku mencintai manusia dan kemanusiaan dengan segala kebaikan dan keburukan yang  dikandungnya.

Bukan berarti aku mendukung segala bentuk kejahatan dan kelicikan dan kecurangan. Akan tetapi, cobalah bayangkan jika hidup ini yang ada hanya melulu kebaikan. Apakah tidak gawat? Hidup akan kehilangan gregetnya. Masyarakat Bali percaya bahwa Kebaikan selalu berperang melawan Kejahatan, dan hingga kini belum ada yang memenangkan perkelahian tersebut. Aku setuju benar dengan hal itu. Kebaikan belum tentu menang melawan kejahatan, begitu pula sebaliknya. Bukankah dalam diri manusia selalu ada pertentangan? Begitu pula dalam dirimu, kan? Tidak mungkin kamu selalu baik. hahahaha. Tapi kamu baik, Ranum, most of the time. And that’s why I like you a lot.

Dalam hidup ini sesungguhnya aku seringkali meragu. Bagaimana caranya memercayai orang sekaligus tak sepenuhnya percaya padanya. Bagaimana, Ranum? Tidak elok lah jika kita sama sekali tidak memercayai manusia, tapi juga tidak mengenakkan jika kita terlalu percaya hingga akhirnya bergantung. Aku tahu, selalu ada kemungkinan untuk dikhianati, tetapi ketika dikhianati tetap saja rasanya sangat tidak menyenangkan. Apakah sebaiknya tidak usahlah aku memikirkan hal itu? Aku begitu memercayaimu, Ranum. Apakah kamu merasa terbebani? Bilang saja kalau kamu merasa aku mengganggu.

Aku punya hobi baru, Ranum, yaitu melisankan puisi. Biasanya puisi-puisi kesukaanku hanya aku baca dalam hati. Tetapi belakangan ini aku merasakan kenikmatan jika melisankannya (meskipun aku hanya berani melakukannya di depan cermin). Kapan-kapan kamu harus mendengarnya. Aku akan bacakan puisi kesukaan kita, tentang manusia, waktu, dan kematian. Lalu aku akan mendengarmu menyanyikan lagu kesukaan kita, tentang penantian. Betapa menyenangkan. Ah, aku jadi benar-benar merindukanmu. Dalam surat terakhirmu, kamu mengatakan kamu merindukanku. Tahukah kamu bahwa aku sangat sangat senang membacanya? Aku baca dan baca berulang-ulang. Kapankah rindu ini terbayar? Tapi rindu bukan hutang yang harus dibayar. Rindu adalah sesuatu yang absurd yang tolak ukurnya sangat tidak jelas.  Apakah jarak? Apakah waktu? Entahlah.

Belakangan ini aku memikirkan tentang diriku. Aku masih belum benar-benar mengenal diriku, Ranum. Apakah mungkin seorang manusia mampu mengerti dirinya seutuhnya padahal manusia tidak pernah statis, manusia dinamis. Semua berubah, termasuk kepribadian, phanta rhei. Bukankah begitu? Betapa banyak keinginanku, betapa banyak pula keraguanku. Aku masih mencoba mengerti apa yang aku mau. Aku masih mencoba banyak hal baru sebelum tua. Aku merasa aneh dengan kalimatku barusan. Tidak ada yang salah dengan menjadi tua, tapi seolah-olah ketika kita tua, semakin sedikit yang dapat kita lakukan. Ada banyak kegiatan yang terasa aneh jika dilakukan oleh orang tua. Apakah memang begitu? Aku tak tahu. Mungkin benar. Siapalah aku ini yang mampu memutuskan benar dan salah?

Harus kusudahi surat ini, Ranum. Aku tak mampu merangkum apa yang berkecamuk di dalam kepalaku untuk kusampaikan padamu. Maaf jika suratku berantakan dan tidak runut. Gagasanku melantur dan meloncat-loncat. Maaf jika suratku tidak menyenangkan untuk dibaca. Doaku selalu untukmu, Ranum, semoga kamu selalu bahagia dan membahagiakan. Semoga kamu temukan apa yang harus ditemukan. Semoga doa-doa manismu untukku serta doaku untukmu dikabulkan oleh Pemilik Semesta yang mahasegala.

 

P.S: Aku takut aku tak memiliki waktu untuk mengatakan ini. Jadi, selagi masih dapat kukatakan, aku akan mengatakannya (atau dalam hal ini menuliskannya). Aku merasa sangat beruntung dapat mengenal dan dekat denganmu. Aku selalu berusaha ada untukmu. Jadi, jangan pernah merasa kesepian! Terima kasih karena selalu ada untukku. Aku menyayangimu.

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

Hai, Ranum

Hai, Ranum. Aku bahagia. Benar katamu, alam dapat menyembuhkan. Betapa menyenangkan dapat menikmati alam bebas. As you said, I should love myself at first. Caraku mencintai diriku adalah dengan berjalan-jalan. Viva jalan-jalan random! hahaha

DSC_0771
Ranum, ini pemandangan dari Puncak Becici, Imogiri, Yogyakarta. Betapa melegakan, kan?

Kutipan Cerita dalam Kepala

Ini entah cerita yang keberapa

 

Hidup memang penuh dengan ketiba-tibaan. Tiba-tiba kita bertemu dengan seseorang. Tiba-tiba kita berpisah dengan seseorang. Tiba-tiba daun jatuh dari rantingnya. Tiba-tiba lempengan bumi bergerak. Tiba-tiba gunung meletus. Tiba-tiba aku di sini.

Tiba-tiba saja cerita-cerita tentang kita berkelebat. Tentang semua yang pertama kali. Pertama kali kita bertemu, pertama kali kita menghabiskan malam, pertama kali kita berpisah. Tiba-tiba aku menceritakan itu semua kepadamu. Tiba-tiba aku cerewet tidak terkira.

Tapi hidup juga penuh dengan kepastian. Hidup pasti berhenti. Waktu pasti berjalan. Dunia pasti berputar. Ombak pasti berdebur. Awan pasti berarak. Kucing pasti mengeong. Kita pasti berpisah.

Pasti kita tak dapat menghindar dari perpisahan. Oleh karena itu, perpisahan menjadi penting. Aku tidak ingin berpisah dengan penuh dendam atau penyesalan. Aku ingin berpisah dalam kebahagiaan dan kerelaan. Aku ingin perpisahan yang manis.

Kita pernah manis. Kita pernah bahagia. Semoga itu cukup untuk mengekalkan aku dalam memorimu karena semua hal itu cukup untuk membekukanmu dalam kotak kenanganku. Semoga kamu tak lekas melupakanku.

Akan lebih mudah jika aku dapat pergi ke bulan, atau hinggap di Pluto dan dilempar keluar dari lingkaran planet. Akan lebih mudah jika aku berjalan ke Timur dan kamu ke Barat dan kita tidak akan pernah bertemu di garis khatulistiwa lainnya. Akan lebih mudah. Tapi aku dan kamu masih di taman yang sama. Masih akan menatap matahari yang sama. Dan bulan masih dapat kita saksikan bersama-sama. Aku masih akan terus dapat menatap bahu dan punggungmu. Kita masih dalam satu lingkaran yang sama. Bagaimana mungkin ini akan menjadi lebih mudah?

Tapi dalam hidup kita harus memilih. Kita telah memilih. Kamu telah memilih. Akhirnya kamu pulang. Akhirnya kamu memberitahuku bahwa kamu akan pulang. Ingat lagu yang liriknya berbunya “Beritahu aku jika kamu ingin pulang?” Akhirnya ia menjelma nyata. Kita tidak akan menyesali apapun. Kita akan bahagia dengan cara yang berbeda. Kita akan bahagia. “Jadikan bahagia sebagai hobi dan bukan cita-cita,” katamu. Baiklah. Terima kasih banyak untuk banyak hal. Selamat tinggal-atau sampai jumpa? hehehe