Adieu (2)

Pada suatu sore,

aku terkesima oleh pertemuan kita yang tanpa rencana

dan kita berbincang, lewat mata dan kata

dan diantara itu, ada tanya kutimbun

agar tak rusak ceritamu oleh prasangkaku.

 

Ketika malam baru saja tiba,

Kita berpisah

-sebuah peristiwa yang selalu berulang-

tanpa pernah tahu kapan lagi kan bertemu

dan aku tak lagi ingin bertanya apapun padamu

 

 

Advertisements

Sebuah Catatan

:tentang pembubaran acara di LBH 17092017

Telinga mendadak tuli dan hati menjadi buta kalau kepala tidak terbuka untuk segala kemungkinan lain.

Kepalaku sama dengan kepalamu sama dengan kepala mereka sama dengan kepala setiap makhluk; kita berharga.

Lantas jangan merasa kau di atas mereka atau bahkan merasa di bawah mereka sehingga kau merasa pantas menginjak atau terinjak.

Kita selayaknya paham, kebencian dapat menyebar lewat kata yang kau lempar. Begitupun pemahaman. Kenapa harus kau lempar benci kalau sebenarnya kita bisa sepaham?

Seandainya kita tidak sepaham, kenapa harus kau lempar caci. Apa kau benar paham tentang apa yang kau benci itu?

Tidak ada yang netral, aku paham. Ini tidak sesederhana “aku benci kau, maka aku ingin kau tiada.” Ini bisa jadi “Aku tak suka kau, maka aku gunakan kebencian mereka atas yang lain untuk pelan-pelan meniadakan kau.”

Sungguh menyeramkan ketika kebencian tidak dilandasi pemahaman. Akan ada berapa jiwa yang kau koyak dengan ujaran itu? Apalagi kalau sudah sampai ke perbuatan.

Kita tidak pernah berhak merusak hidup orang lain dengan sengaja. Kita tidak pernah berhak membuat luka di jiwa orang lain dengan sengaja. Kita tidak pernah berhak meniadakan orang lain.

Mari kita sama duduk dan belajar tentang masa lalu untuk memperbaiki pemahaman kita di masa ini. Mari kita saling bertukar pendapat tanpa harus dilandasi kebencian membabi buta agar kelak di masa datang, penerus kita tidak akan mengulang kebencian yang sama.

Mari kita sama-sama hapus kebencian yang gelap ini. Seperti yang dikatakan dalam sebuah lagu, “Buka mata, hati, dan telinga.”

Siapa tahu

Langit tahu bahwa ada yang tak terjelaskan dalam setiap helaan nafas panjang

Angin paham tentang kesabaran ranting yang melepas daun

Dan jalan setapak mengerti kelelahan yang terseret di atasnya

Tapi tak ada yang paham tentang keseluruhan cerita yang terjalin dalam jagad.

Tentang gugatan yang terbungkam, tentang keikhlasan yang sunyi, dan tentang harapan yang hilangtimbul. Tentang bahagia yang melonjak, tentang sayang yang mendayu, tentang rindu yang terpendam,

tentang hidup yang mengalir.

Saya

Saya lamat-lamat tak kenal siapa saya.

Banyak yang pelan-pelan lamur, tapi saya tak peduli benar.

Waktu toh memang mengaburkan banyak hal.

Saya lamat-lamat tak mendengar hati saya.

Banyak yang harusnya dikeluarkan, tapi saya tak peduli benar.

Telinga toh tak untuk menangkap kata hati.

.

.

.

Tapi di tengah ketakpedulian yang sunyi ini, saya pelan-pelan ingin mengenal diri saya lagi agar saya tidak benar-benar hilang.