Kutipan Cerita dalam Kepala yang Agak Panjang

Apakah pagi manis itu? Pagi yang manis adalah pagi yang dimulai dengan percakapan yang tentunya juga manis. Bukan pagi yang dimulai dengan membuat sarapan yang manis untuk disantap sendirian. Gadis itu memijit nomor telepon di telepon selulernya. Dia ingin memulai paginya dengan manis.

“Halo.”

“Halo.”

“Apa kabar?”

“Ah, apa kita perlu memulai pagi dengan basa-basi?”

“Tidak. Hanya saja pagi ini tiba-tiba aku rindu kamu.”

“Nanti juga tiba-tiba rindumu hilang. Hidup penuh dengan ketiba-tibaan.”

“Kamu tidak merindukanku?”

“Dulu, iya. Sekarang sudah tidak.”

“Tega.”

“Waktu yang tega mengikismu dari ingatanku.”

“Iya, waktu yang tega. Ia tiba-tiba saja membawa ingatan tentangmu.”

“Kamu menelpon hanya untuk mengatakan itu?”

“Aku hanya ingin pagiku manis.”

“Apakah dengan menelponku lantas pagimu manis?”

“Tergantung apa yang kita bicarakan.”

“Jadi, kita akan berbicara tentang apa?”

“Tentang kita saja. Bukankah kita manis.”

“Kita pernah manis. Sekarang entah apa.”

“Baiklah, kita bicara saja tentang mimpi.”

“Mimpi apa kamu semalam?”

“Bukan mimpi kamu.”

“Sayang sekali. Kalau saja kamu memimpikanku semalam mungkin pagi ini akan ada pembicaraan yang manis.”

“Hahahaha. Kalau begitu, beri tahu aku bagaimana cara memanipulasi mimpi.”

“Bagaimana, ya? Kalau kau simpan aku di alam bawah sadarmu, kamu pasti memimpikanku. Ah, tapi ternyata aku tak ada di sana.”

“Kau ada di kotak kenangan, sayang. Pagi ini aku rindu ucapan selamat pagi darimu.”

“Aku kira kamu merindukanku.”

“Dua-duanya.”

…..

Dan pembicaraan terus berlanjut hingga siang, hingga mereka tertelan kesibukan.

Advertisements

Ayah

DSC_0153Untuk lelaki yang darahnya mengalir dalam darahku:

Lekas kembali ceria, ya. Masih banyak yang harus kupelajari darimu. Banyak doa baik mengalir untukmu. Tetap berjiwa muda, ya. Ayo kita jalan-jalan yang jauh!

Kalau matamu pindah ke mata jalan, kau akan mengerti tentang setia yang tabah.

Tapi matamu mata elang.

Selepas Siang

Ada rindu yang melesat-lesat
setelah pertemuan diakhiri dan
pertanyaan belum berbalas.

Akankah rindu seganas ini jika
kau tak digiring waktu menemukanku
siang ini dengan segenggam pertanyaan
dan sejumput pernyataan?

Apakah Trijata pernah merasa
rindu sehebat ini
sepeninggal Hanuman?

Aku masih di taman ini
jika kau tiba-tiba merasa ingin
bertemu dan
bertanya
dan
berkata
“Ternyata tak semudah itu.”

Tapi jika esok
taman ini masih saja
ramai
oleh sepi,
mungkin aku akan pergi.

mungkin
aku
pergi.

Ranum, Apa Kabar?

Ranum, apa kabar? Sudahkah lupa kepadaku? Jangan, ranum. Jangan sampai kau lupakan aku. Paling tidak, jangan sekarang. Aku masih mengingatmu, aku masih ingin diingat olehmu. Kamu pasti mengerti, setiap surat dariku adalah penanda bahwa sedang ada rindu yang bergejolak di sini. Kamu pasti mengerti bahwa setiap surat dariku adalah kegelisahan yang belum terurai. Kamu pasti mengerti bahwa ternyata hanya kepadamu aku lagi-lagi mengadu.

Sudahkah kau temukan rumah yang pas untukmu? Atau kau masih ingin berjalan dan berjalan. Aku ingin ikut denganmu, Ranum. Aku terjebak di kota ini. Di kota ini, aku terjebak pada sajak yang sentimentil. Aku ingin pergi dan bahagia, Ranum. Tapi jangan kau pikir aku tidak bahagia di sini. Aku pernah bahagia di sini. Aku pernah mencinta dan dicinta, tentu aku bahagia. Tapi aku ingin pergi dan tahu lebih banyak. Aku ingin belajar tentang hidup, kehidupan, dan menghidupi. Apakah aku jenuh? Mungkin saja tidak. Mungkin aku hanya sedang sedih.

Seperti yang sudah-sudah, nanti pasti sedihku akan hilang. Kau kan lebih paham daripada aku. Tapi proses menjadikan kesedihan menjadi kewajaran ternyata tidak mudah, Ranum. Kukira kuakan terbiasa juga pada semua itu. Tapi ternyata tidak. Sedih tetap sakit dan aneh. Limbung rasanya pijakanku. Tapi anehnya, tak ada airmata keluar. Aku ingin menjadi pemenang dan yang utama, Ranum. Salahkah? Aku tak mendapat jawaban, Ranum. Aku ingin pundakmu saat ini. Aku ingin bersandar sejenak. Melarung rasa yang mengamuk di dada dan kepala. Aku ingin istirahat.

Ranum, apakah di sana kau merindukanku? Kau pasti bosan, ya, dengan pertanyaanku ini. Tapi aku sungguh-sungguh penasaran. Apakah kau pernah merindukanku di sana? Kapan? Ketika kau sedang melakukan apa? Apakah aku cukup berarti buatmu hingga dapat menerbitkan rindu padamu? Aku benar-benar ingin mendengar jawabanmu. Tapi seperti biasa, kau hanya akan menjawab dengan siratan-siratan yang tak mampu kucerna. Mungkin bukan tak mampu. Mungkin aku hanya takut. Aku tak pandai membaca yang bukan kata. Aku tak pandai membaca tanda.

Bolehkah aku minta oleh-oleh darimu? Tenang saja, aku tak minta senja. Lagipula aku memang tak begitu mengagungkan senja. Aku lebih suka sore. Aku hanya minta topeng. Susah sekali rasanya menyembunyikan rasa ini, Ranum. Tapi aku terlanjur menjadi rahasia. Rasaku yang sesungguhnya tak dapat kuijinkan keluar dan dilihat oleh orang-orang. Tiba-tiba aku ingin bersembunyi di pelukanmu. Masihkah boleh kucari ketenangan dalam pelukanmu?

Ranum, aku ingin pergi ke tempat sepi dan berteriak sekencang-kencangnya. Apakah cinta pernah salah?  Apakah cinta dapat dimanipulasi? Apakah cinta pernah goyah? Apakah cinta hanya omong kosong belaka? Apakah cinta pernah bohong? Apakah cinta? Apakah pertanyaan-pertanyaanku ini mengganggumu? Tolong carikan jawabannya untukku dalam perjalananmu. Kali ini, aku sangat menunggu balasan darimu.

Kau pasti lagi-lagi kesal dengan suratku ini. Kau pasti bertanya, “Kali ini, siapakah yang menyakiti hatimu?” Dan aku akan menjawab “Bukan siapa-siapa.” Ah, aku belum pandai berbohong. Kau pasti akan segera tahu. Kenapa kau bisa mengetahuinya? Apakah dari sana kau juga memantauku? Sama seperti aku yang selalu memerhatikanmu?

Terima kasih, Ranum. Terima kasih telah mengada di duniaku. Terimalah semua rasaku. Kalau kau rasa terlalu menyusahkan, larung saja semua rasaku padamu di laut. Kusudahi suratku ini dengan doa agar kau selau baik-baik dan sehat-sehat saja di sana. Semoga kau temukan yang benar-benar bahagia dan membahagiakan. Aku masih di sini kalau kau ingin pulang. Mungkin kata pulang kurang tepat, tapi aku masih di sini kalau kau memutuskan untuk kembali. Aku menyayangimu.

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini.