Halo lagi, Ranum

Ranum, maafkan aku yang sudah lama sekali tidak menulis surat untukmu. Ada banyak peristiwa yang terjadi selama aku tidak menulis untukmu. Awalnya aku ingin menulis surat untukmu setiap ada peristiwa yang menyita perhatianku, tapi ternyata energiku terkuras. Akibatnya, peristiwa itu kemudian berlalu begitu saja. Ada sebagian yang masih aku ingat, sebagian lainnya terlupakan.

Aku sudah lulus, Ranum. Kini aku punya gelar baru di belakang namaku. Aku pernah berniat menulis surat untukmu tepat setelah aku lulus, tapi ternyata aku tidak menulis apapun. Setelah aku dinyatakan lulus, aku masih mengurus dokumen-dokumen untuk mendapatkan ijazah. Lalu tiba-tiba aku wisuda. Sehari setelah wisuda aku pergi berlibur ke Jogja, kota kesayanganku. Aku terlalu lelah untuk menulis surat kepadamu. Maafkan aku, Ranum. Meskipun begitu, jangan pernah sekalipun berpikir bahwa aku melupakanmu. Kamu tidak mungkin aku lupakan.

Aku ingin bercerita betapa bahagianya aku menyandang gelar baruku. Aku juga ingin bercerita tentang perjuanganku dan kemalanganku dalam penulisan tugas akhirku. Aku ingin bercerita bahwa perjuanganku dalam menyelesaikan tugas akhir membuatku lebih menghargai gelarku, lebih menghargai kelulusanku. Hal ini tidak aku rasakan ketika aku lulus pada jenjang Pendidikan sebelumnya. Selama ini pendidikanku lancar sekali, tidak ada rintangan yang terlalu berarti, hingga kemarin ketika aku harus merombak penelitianku. Rasanya Lelah sekali. Jenuh sekali. Tapi aku ingin sekali lulus, lalu liburan. Akhirnya, setelah setahun berkutat dengan karya sastra yang sama, aku lulus. Rasanya bahagia sekali.

Tapi aku ingin bercerita tentang hal lain. Tentang kedukaan. Tentang kematian teman dekat. Tak apa, kan, Ranum? Beberapa sore yang lalu aku mendapat kabar yang sangat mengagetkan. Temanku mengabarkan bahwa salah satu teman baik kami telah meninggal dunia. Aku kaget, sedih, dan menyesal. Aku kaget karena dalam bayanganku dia masih akan hidup lama. Ternyata hidup dan mati hanya dipisahkan oleh garis yang tipis. Aku sedih karena menyadari bahwa ia sudah tidak ada. Ia dengan segala kebaikan dan suara merdunya telah tiada. Aku menyesal karena tidak menjenguknya ketika ia sakit dulu. Aku merasa semua sudah terlambat.

Ketika aku mengenangnya, aku hanya menemukan hal baik untuk diingat. Betapa ia sangat ceria. Ia tidak pernah mengeluh tentang apapun. Ia penuh dengan semangat, seorang wanita kuat yang baik hati. Ia tidak pernah absen mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Ia yang mengajarkan aku untuk disiplin dan menghargai waktu. Ia dan aku pernah terlibat satu kegiatan kampus, ia membimbingku menghadapi orang lain sehingga organisasi itu dapat berjalan dengan baik. Ia selalu menebarkan energi positif. Ia selalu bangga akan rambutnya yang mirip singa. Rambutnya indah, Ranum. Ia adalah seorang teman dan kakak yang baik.

Siapa yang lebih sedih ketika kematian memanggil? Mendiang atau orang-orang yang ditinggalkan? Aku tidak tahu apa-apa tentang perasaan orang yang telah meninggal. Tapi aku tahu kalua ada banyak orang bersedih karena kematian seseorang, berarti semasa hidupnya banyak orang yang menyayanginya. Atau dapat dikatakan, orang yang meninggal adalah orang baik. Cukup baikkah aku, Ranum? Akankah ada banyak orang bersedih jika aku sudah tidak ada di bumi ini? Aku tidak tahu.

Sudah selang beberapa hari semenjak kepergian temanku itu. Teman-teman dekatnya akan mengadakan pertunjukkan musik yang didedikasikan untuknya. Sebelum temanku itu meninggal, ia memang ingin datang ke pertunjukkan musik itu. Dulu ia tergabung di dalamnya. Siapa sangka ia telah terlebih dahulu berpulang? Akhirnya pertunjukkan musik itu didedikasikan untukknya. Ia yang bersuara merdu dan indah. Ia yang selalu menghargai karya yang indah. Ia yang selalu suka bernyanyi dan menyanyi. Ia akan selalu dikenang.

Aku rasa cukup aku bercerita tentang kedukaan. Lain kali aku akan bercerita tentang kerinduan atau mungkin tentang kerelaan. Atau mungkin tentang hal lain. Aku belum tahu akan bercerita apa untukmu, Ranum. Aku tidak tahu ada cerita apa di depanku. Aku harap aku dapat bercerita tentang kebahagiaan. Aku memohon kebahagiaan untukmu, Ranum. Semoga doaku sampai ke Tuhan. Amin

Salam termanis
Galuh Sakti Bandini

Advertisements

Apa lacur, perasaan itu sudah terbuang entah di mana