Perahu

Perahu

Akhirnya kau menepi juga, kekasihku. Aku tahu, seberapa besar pun cintamu pada laut, pada akhirnya kau akan menuju pantai. yang kutakutkan adalah suatu pagi ketika perahumu tak kunjung tiba. oleh karena itu, kutunggu kau di sini setiap pagi, kasihku.

Advertisements

sebuah pagi yang gelap di lantai tiga gedung tua

angin lebih garang berlari
dingin lebih menusuk
pohon lebih sering bergoyang
aku lebih diam

 

Ranum, Mari Berbicara Puisi

Hai, Ranum. Apa kabar hidup? Baik-baik saja, kan? Semoga baik-baik saja. aku juga baik-baik saja di sini. Bolehkah aku di surat ini membicarakan puisi? Kita belum pernah, kan, membicarakan puisi lewat surat? Aku akan membicarakan puisi Sapardi Djoko Damono yang menurutku sesuai dengan keadaanku saat ini. Belakangan ini aku seringkali memikirkan tentang hidup, waktu, dan diriku sendiri. Ya, aku memang selalu memikirkan diriku sendiri, sih.

Aku akan membicarakan puisi SDD yang berjudul Buat Ning dan Dalam Sakit. Ini adalah puisi yang berjudul Buat Ning: Read more

Kejutan

Kita bicara tentang hujan dan sore yang menjadi katakata manis.
Lalu kita bicara tentang kita yang menjadi manis karena katakata.
Kita katakata manis sore tadi.

(Sajak kejutan dari Ananto 140413 lalu)

Bahagia

kamu tahu apa itu bahagia? Aku juga tidak benar-benar tahu apa itu bahagia. Yang pasti bahagia adalah suatu perasaan senang. Sesenang saat ini, ketika sore tiba dan hujan menyapa. Setenang sore ini yang begitu indah. Duduk di beranda, mendengar lagu kesukaan dan ditemani hujan. Betapa nyamannya. Terlebih lagi jika harimu indah. Seindah ketika seorang yang baik datang ke rumahmu dan membawakan kue dan bunga. Atau ada seseorang lain lagi yang menelponmu sekadar menanyakan kabar dan berbincang ringan. Memastikan kamu baik-baik saja. Jadilah orang baik, atau setidaknya berusahalah jadi orang baik, maka di saat kau jatuh kau sadar betapa banyak orang yang menyayangimu. Bersyukurlah. Sangat menyenangkan menyadari bahwa kamu dicintai. Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau  dustakan?

 

*catatandarimasalalu

 

Entahlah

“yasudah, tak apa. Berarti tak ada harapanku lagi padamu selain kau bahagia”

Kalimat itu terucap dr bibir seorang ayah pada anaknya. Seketika dunia sang ayah kehilangan keseimbangan. Seketika dunia sang anak kehilangan keseimbangan. Keraguraguan tumbuh. Penyangkalan, pembenaran, pemahaman, keegoisan bercampur aduk, saling berkelindan. Sang anak menyesal, sang ayah menyesal. Tapi perasaan itu ditepis pertanyaan “menyesal untuk apa?”

Diam.
Tapi berisik

Mungkin nanti, kalau guncangan di dunia keduanya mereda, akan ada kata-kata terlontar, lalu hadir tenang. Nanti pasti. Tak mungkin tidak.
Ayah dan anak, dua individu yang entah mengapa selalu saling bergantung.

meracau

Satu-satu orang pergi perlahan. Perlahan orang baru mengendap-endap datang. Ada juga yang mencoba menetap. Aku tak benar-benar tahu tentang hidup, tentang manusia. Mungkin aku adalah manusia payah nan bejat. Bisa jadi. Tapi bisa jadi ternyata aku orang baik. Tak ada yang benar-benar bejat, tak ada yang benar-benar baik. Dadah. Siap-siap untuk ditinggalkan, ya!