Selamat Pagi

Selamat pagi untukmu dengan alunan merdu lagu kesukaan. 

Jangan sampai padam: kata-katamu, sejuk matamu

Karena apalagi yang akan aku cari jika kau padam sementara  hari-hari terasa kering?

Advertisements

Bacaan kesukaan

Aku masih suka membacamu,

Aku masih suka matamu.

Surat untuk Hanuman

hanoman_the_white_monkey_by_mad613-d36duvm

Sumber: Google

Halo, Tuan Hanuman yang saya kagumi.

Perkenalkan, Aku Galuh. Seorang perempuan biasa yang mengagumimu. Aku memang belum pernah bertemu denganmu atau melihatmu secara langsung, tapi aku sering membaca cerita tentangmu. Tentu saja, ceritamu hadir dalam berbagai versi. Ada yang menceritakanmu sepintas lalu saja, sebagai seekor kera di Goa Kiskenda, pasukan Subali yang disuruh Rama ‘menengok’ Sintanya. Tapi ada juga yang menceritakanmu lebih manusiawi. Maafkan kelancanganku menyebut ‘manusiawi’, seolah-olah hanya manusia yang paling benar di muka bumi ini. Tetapi aku hanya pernah menjadi manusia dan mengalami semua hal yang berhubungan dengan manusia. Jadi aku hanya bisa menganalogikanmu dengan perasaan-perasaan yang berhubungan dengan manusia. Padahal kau lebih dari sekadar manusia, kau titisan dewa berwujud kera yang dilahirkan oleh seorang manusia. Maafkan kemampuanku yang tidak sanggup melukiskan keistimewaanmu.

Jadi, sebenarnya aku menyukaimu setelah membaca cerita dari pengarang favoritku tentang cerita bebasnya mengenai peristiwa pascaperang di Ramayana. Kau digambarkan sebagai sosok yang memiliki kecerdasan luar biasa, bisa menembus dunia siluman, manusia, dan khayangan. Kau merelakan cintamu dan akhirnya hidup berselibat. Kau juga digambarkan cerdas, bijaksana, dan anggun. Dia menceritakanmu dengan kata-kata yang sangat indah, dan aku terpesona sehingga kini kau jadi satu-satunya sosok yang aku kagumi di dalam cerita Ramayana. Saking aku mengagumimu, aku pernah membuat puisi untukmu ketika aku masih duduk di SMA. Hahaha.

Tujuanku menulis surat ini hanyalah untuk bercerita padamu. Aku tahu, tak mungkin bagiku bercerita secara langsung padamu, jadi aku bercerita lewat surat. Semoga tukang pos tahu letak Goa Kiskenda dan surat ini sampai padamu. Ada yang bilang kau hidup berselibat, tapi ada juga yang bilang kau menikah. Tapi selama ini aku lebih percaya kau hidup berselibat. Terlepas dari berselibat atau tidak, aku tahu kau penuh dengan cinta dan keikhlasan. Aku juga ingin mencintai dengan keihlasan, tapi kadang egoku jauh lebih berkuasa atas diriku sehingga aku mencintai dengan egois. Setiap egoku menguasaiku, dan kenyataan tidak seperti yang aku inginkan, aku akan merasa sangat kesal atau sangat sedih. Baik rasa kesal atau sedih akan menyumbat tenggorokanku. Sungguh aku merasa kedua rasa itu terlalu besar sehingga tubuhku tidak kuat menampungnya. Tapi aku tidak dapat mengeluarkannya dan rasa itu tersangkut di tenggorokan dan membuatku sesak. Tapi kesedihan jauh lebih sering terasa di dada. Rasanya sungguh tidak menyenangkan, Hanuman. Aku harap aku dapat mencintai dengan ikhlas sehingga dua rasa yang tidak aku sukai itu lebih jarang hadir dalam hidupku.

Hanuman, dari siapakah kau belajar mencintai? Apakah dari ibumu yang menjelma bidadari itu? Aku belajar mencintai dari ibuku. Aku melihat ibuku sebagai seseorang yang penuh dengan cinta kasih. Ia baik sekali, Hanuman. Ia sangat baik bahkan kepada orang yang pernah melukainya. Bolehkah aku bercerita tentang ibuku, Hanuman? Ibuku manusia biasa dan hanya keturunan petani. Ibuku bukan dewa, bukan pula wanita yang gemar menekuni filsafat. Tapi, aku sering sekali melihatnya berfilsafat. Pemahaman dia mengenai hidup ini sunggguh bijaksana. Aku dibesarkan di lingkungan yang seringkali memandang sesuatu hanya hitam dan putih. Tapi ibuku mengajarkanku bahwa ada yang masih abu-abu. Waktu kecil aku kehilangan skuterku, padahal skuter itu masih baru. Aku lupa memasukkannya ke dalam rumah dan menaruhnya di teras. Aku sedih bukan kepalang, aku bilang pencuri skuterku pasti orang jahat karena ia mengambil benda yang bukan miliknya. Baru kali itu aku kehilangan benda kesayanganku. Tapi ibuku bilang, aku tidak boleh menghakimi seperti itu. Ibuku bilang, mungkin saja pencurinya memiliki anak yang juga ingin memiliki skuter, tapi ia tidak memiliki uang untuk membelinya, jadi ia terpaksa mencuri. Siapa tahu skuter itu memang bukan ditakdirkan untukku. Lagipula, aku kan sudah pernah mencobanya.

Baru sekarang aku sadar, waktu itu ibuku sedang mengajarkanku ikhlas. Tentu saja, masih ada kemungkinan lain, yaitu skuterku dijual lagi dan pencuri itu tidak punya anak. Ia hanya orang jahat yang suka mencuri. Tapi ibuku memilih menghadirkan kemungknan lain yang membantuku mengikhlaskan benda kesayanganku. Sedih boleh, tapi tidak boleh mendendam. Ibuku juga orang yang sangat pengertian. Pada suatu malam, ketika aku sudah besar dan dapat menjadi supir ibuku, kami melewati daerah prostitusi. Banyak wanita dengan pakaian minim menjajakan dirinya, Hanuman. Sebagian besar masyarakat memandang mereka sebagai masyarakat kelas bawah yang harus dihindari dan penuh dosa. Aku pikir ibuku termasuk orang yang memandang rendah wanita seperti itu. Tapi tiba-tiba ibu bilang “Kasihan mereka. Tidak mungkin mereka ingin menjadi pelacur kalau tidak terdesak. Mana udara dingin begini. Semoga mereka diberi rezeki yang banyak. Mungkinmereka punya anak atau keluarga yang ingin mereka bahagiakan”. Tentu saja aku kaget. Aku tidak pernah melihat pelacur sebagai masyarakat kelas bawah yang bersalah sepenuhnya. Tapi pemikiranku tentu saja dipengaruhi bacaan-bacaanku selama ini. Ibuku tidak suka membaca, pemikiran ibuku lahir karena ia memahami hidup ini. Karena ia seorang wanita. Karena ia seorang manusia. Ibuku cerdas, Hanuman. Aku bangga memilikinya. Meski Ibuku hanya ibu rumah tangga biasa dari keluarga yang biasa saja dan hanya tamat SMA. Aku tahu ibuku istimewa melebihi bidadari. Bagiku, ia sebenar-benarnya bidadari.

Hanuman, Sebenarnya kau tinggal di mana, sih? Goa Kiskenda itu ada di mana? Di sana ada politik juga? Apakah meminpin kera lebih mudah daripada memimpin manusia? Ada banyak hal aneh terjadi dalam politik, Hanuman. Amerika, negara adidaya itu, memilih seorang presiden rasis. Aneh betul, bukan? Kesetaraan yang telah diperjuangkan selama ratusan tahun, akan ia hancurkan. Ia seorang kulit putih dan berjanji akan meninggikan drajat orang kulit putih di sana. Tentu saja banyak yang menentang, mulai dari figur masyarakat, seleberitu, seniman, dan masih banyak lagi. Setahuku, NYC juga tidak setuju dengan Trump, presiden terpilih Amerika itu. Walikota NYC menjamin keamanan minoritas di sana. Untung masih banyak orang baik, Hanuman. Tapi terpilihnya Trump sebagai presiden mengagetkan banyak sekali pihak.

Di negaraku juga sedang banyak kejadian-kejadian lucu yang menggemparkan. Isu yang paling heboh adalah tentang isu penistaan agama oleh gubernur DKI, Ahok. Ahok adalah seorang keturunan Tionghoa dan seorang katolik (minoritas ganda. Hahaha). Ia dituduh menghina surat Al-Maidah ayat 51. Hal itu bermula dari unggahan video oleh Buni Yani yang menjadi viral. Akibatnya, terjadi dua kali demo besar-besaran di Jakarta. Demo pertama yang awalnya damai berubah ricuh. Aku tidak setuju dengan demo itu karena tuntutannya tidak jelas. Ahok yang dituduh menistakan agama kasusnya sudah diproses kepolisian, ia siap disidang, dan sudah meminta maaf di depan publik. Lalu mereka yang berdemo menuntut apa? Kalau Ahok dipenjarakan karena demo tersebut dan bukan karena bukti yang kuat, dan masyarakat menerima hasil itu, tentu saja ada yang tidak beres dari demokrasi dan pola pikir orang-orang di negeriku. Singkat cerita, kasus itu bergulir terus. Kebencian dikobarkan oleh-pihak-pihak tertentu yang tentu saja tidak lepas dari politik. Banyak orang yang tidak tahu-menahu soal politik dan kepentingan kaum atas yang ikut termakan isu. Mereka marah di media sosial, mendiskreditkan minoritas. Aku meneliti minoritas Tionghoa di skripsi dan tesisku, Hanuman, meski hanya dalam tahap sastra. Tapi aku belajar sejarah. Aku lihat perjuangan minoritas yang ditindas dari zaman dahulu. Aku tidak rela orang baik ditindas hanya karena mereka minoritas dan kalah jumlah. Ada juga orang islam yang membela Ahok. Kadang mereka membelanya juga kelewatan sih dan mendiskreditkan orang-orang yang melawan Ahok. Banyak yang tidak sadar bahwa isu ini hanya permainan dari beberapa pihak. Situasi yang khaos ini yang memang diincar. Keseimbangan negara tidak stabil, kepervayaan masyaraat goyah, lalu orang-orang itu akan memanfaatkan situasi ini. Misalnya, Setya Novanto yang kembali menjadi ketua DPR ketika perhatian masyarakat tersedot oleh isu Ahok ini.  Setya Novanto sebelumnya diberhentikan karena kasus pencatutan nama presiden dalam kasus korupsi.

Oposisi paling menonjol Ahok adalah Habieb Rizieq. Aku pernah melihat video ceramahnya. Ada banyak kata-kata kasar. Ia menyerang ahok, menyerang keyakinan pemeluk agaman lain, menyerang presiden, dan yang terbaru menyerang Megawati.  Kata-katanya kasar sekali, Hanuman. Dia bilang berkali-kali bilang “kurang ajar!” sambil berteriak dan matanya melotot. Akhirnya ia dilaporkan ke kepolisian atas berbagai tuduhan, yaitu penghinaan agama lain, masalah logo palu-arit di uang rupiah, serta oleh pihak Mega. Aku sempat baca di salah satu media onlie dia berkata “Video ceramah saya yang dua jam dipotong mnjadi beberapa menit saja. tentu saja itu memiliki maksud.” Aku tertawa membacanya, Hanuman. Sungguh lucu. Ahok ia serang habis-habisan dari video pidato yang dipotong. Kasusnya sama. Tapi Habieb Rizieq gentar. Ahok yang ia serang sama sekali tidak menggunakan kata-kata kasar, sedangkan ia jelas-jelas berkata kasar. Apakah itu contoh sebenar-benarnya dari peribahasa “tong kosong nyaring bunyinya”? Entahlah, Hanuman. Dari kasus Ahok dan Rizieq ini aku belajar bahwa kefanatikan dapat membuat kita buta. Aku tidak ingin buta. Dan manusia di negaraku makin mudah tersinggung. Apakah aku harus mengikuti jejakmu, Hanuman. Bertapa, menyendiri, dan berselibat? Hahahahahaha. Aku tidak akan sanggup berselibat. Tesisku saja belum selesai.

Suratku panjang sekali ya, Hanuman? Sudah panjang, membosankan pula. Maafkan aku. Aku sudah lama tidak bercerita. Biasanya hanya bercerita soal diriku sendiri, bukan hal-hal yang terjadi di sekelilingku. Jadi, harap maklum. O iya, apakah benar kamu menyukai konser empat musim? Aku juga suka. Dari Vivaldi, kan? Kalau bisa dan boleh, aku juga ingin menyaksikan konser empat musim di Goa Kiskenda seperti Maneka dan Satya. Aku penggemarmu yang suka iri. Hehehehe.

Semoga kau sehat dan bijaksana selalu.

Penggemarmu

 

Galuh Sakti Bandini

Last Romance

​“Adakah lagi penjual kata-kata tanpa nota?”
Kalimatmu terngiang terbang menggema dalam tempurung kenangku

Hinggap dalam renungan
Kalimatmu itu sempat terlupa, tersembunyi

Dalam catatan yang lama tertutup 

Hingga suatu masa yang tiba-tiba ia lepas

Terbang dan merasuk padaku

pada suatu sore yang tenang

dalam kota yang riuh
Kau adalah penjual kata

Aku penikmatmu yang ingin sekali membeli kata-katamu

Tapi kubeli dengan apa? doa?
***

“Kita akan abadi di harapan yang ke seratus”
Dulu begitu kita ikrarkan mimpi di siang bolong

Di bawah rindang daun pohon

Yang masih saja mencoba menghalau terik
Tiba-tiba kau beri aku kata-katamu

“tak usah beli,” katamu

****
“Adakah kepak sayap kupukupu menggeleparkan suara

ketika sunyi menyediakan beranda bernama kematian?”
Pernah kau lintaskan pertanyaan itu

Pada cerita kita

Adakah telah kau temukan jawabnya

Pada enam puluh delapan harapan yang sempat mati?
Bagaimana rasanya mati sebelum kita hidupkan harapan yang ke seratus?

Pertemuan

:Untuk temanku yang pemalu

Tapi kini kau tidak pemalu lagi
“Malu hanya awal. Setelah langkah pertama, semua mudah saja.”
begitu katamu.
Aku senang mendengarnya. Aku senang mendengarmu.

Percakapan seperti sudah usang di antara kita
dan jarak terentang seperti tak terjangkau
hingga kemarin, ketika kau datang kepadaku

lalu cerita tumpah dari bibirmu.
Telingaku gembira menerima tumpahan darimu
Kita berjalan menyusuri lorong
dengan kopi di genggaman
serta cerita di bibir
di bawah bulan yang terlihat seperti lampu jalan dan malam yang rimis

Tidak pada setiap pertemuan kita dapat bercakap sedekat ini
tidak pada setiap percakapan kita sehangat ini
Tapi pada setiap kehangatan selalu terselip kebahagiaan

Bahagialah, temanku
jalan bagi kita masih jauh
mungkin akan kita lalui lagi hari-hari panjang tanpa kata dan perjumpaan
mungkin masih akan ada lagi rindu yang hadir
mungkin penat akan lebih rajin mengurung kita
masih banyak ‘mungkin’ yang akan kita lalui

jadi, rentangkanlah sayap dan terbanglah dengan bangga
mari bertemu lagi dengan percakapan hangat
ketika kita sudah sama terbang tinggi dan jauh

Selamat Tahun Baru, Ranum!

Selamat tahun baru, Ranum!

Iya, aku tahu aku terlambat mengucapkannya. Tapi sekarang masih awal tahun, jadi ucapanku masih terasa baru. Iya, kan? kamu menghabiskan pergantian tahun dengan apa? Dengan kesendirian atau dengan tawa riuh rendah? Aku menghabiskannya dengan tidur, seperti malam-malam lainnya. Hahahaha. Aku tidak merasa pergantian tahun harus dirayakan. Tidak ada yang spesial di malam pergantian tahun kecuali penanda bahwa tahun telah berganti dan kita semakin tua serta waktu yang semakin berkurang dalam hidup. Tak ada yang lain.

Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis surat untukmu. Tapi selalu kuurungkan. Entah kenapa. Sejak sebelum pergantian tahun, aku ingin sekali bercerita kepadamu. Awalnya aku ingin bercerita tentang keasingan. Aku merasa saat ini aku berubah. Aku tidak lagi penuh rasa optimis. Aku seperti manusia skeptis dan dingin. Aku merasa asing dengan diriku sendiri. Aku juga merasa asing terhadap teman sekatku sendiri. Bahaya betul, bukan? Tapi ternyata perasaan itu hanya sementara.

Aku dan temanku berubah. Petemanan kami tetap. Tetap lekat seperti dulu, tapi cara kami memandang sesuatu sudah berubah. Tidak perlu dipermasalahkan. Aku masih menyayanginya, dan aku rasa dia juga begitu. Semakin umurku bertambah, inner circle pertemananku semakin sedikit. Aku tidak lagi mempunyai cukup banyak energi untuk tertawa di grup yang besar. Aku jauh lebih menikmati menghabiskan waktu dengan sekelompok kecil teman yang benar-benar aku sayang.

 Pada hari pertama tahun ini aku menyusun rencana jangka pendek tentang hidupku. Rencanaku sedikit, yaitu lulus, bekerja, dan semakin banyak bepergian. Tapi pada prosesnya aku yakin banyak hal menarik akan terjadi pada hidupku, seperti yang telah terjadi pada tahun-tahun yang telah lewat. Sebelumnya, aku tidak pernah memiliki resolusi tahun baru, pun memiliki rencana pasti dalam hidup, tapi setelah aku ingat-ingat banyak sekali hal menarik yang terjadi dalam hidupku. Dan semakin aku mengingat hal-hal baik tersebut, semakin aku merasa bahwa aku dicintai. Aku dicintai oleh teman-temanku, oleh Hidup, oleh Semesta. Dan aku merasa kerdil serta payah. Aku terlalu banyak mengeluh. Termasuk mengeluh padamu, kan? Hahahaha. Aku menyayangimu, Ranum. Terima kasih sudah mau menjadi temanku yang sangat baik. Aku mencintai hidupku dan Semesta.

Saat ini aku belum ingin bercerita apa-apa padamu, Ranum. Surat ini hanya penyampai rinduku padamu. Baik-baik di sana. Aku juga akan baik-baik di sini. Aku menunggu ceritamu. Jaga kesehatan dan jangan lupa berbahagia 🙂

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini