Hei, Ranum!

Hei, Ranum, apakah Desember ini kotamu sebasah kotaku? Hampir setiap sore aku harus memakai pakaian hangat. Tapi aku suka hujan. Kadang aku ingin sekali disiram hujan, tapi aku pengecut, jadi aku tetap saja hanya menikmati hujan dari tempat kering. Kamu sedang sibuk apa, Ranum? Aku sedang jenuh menerka kata-kata, menyelam di dalamnya sambil mencari makna.

Kemarin aku membaca artikel mengenai kesepian. Katanya, orang yang gembira dan aktif secara sosial belum tentu terbebas dari rasa kesepian. Aku setuju. Orang ingin dihargai dan dimengerti, sementara ketika ia sedang berinteraksi di dalam kelompok besar, ia bisa saja tidak merasa dimengerti dan dipahami. Jadi, kesimpulannya, setiap orang perlu memiliki seseorang yang mampu diajak bicara dari hati ke hati, yang mampu mengerti kita dan menghargai kita. Begitu kata tulisan itu. Aku lagi-lagi setuju.

Teman-teman terdekatku sudah mulai menjauh karena masing-masing kita punya mimpi yang harus dikejar. Kami tidak lagi dapat berkumpul dan bercengkrama sesering dulu. Kadang aku merasa kesepian. Tapi beberapa hari lalu aku mendapat obrolan yang cukup dalam dengan temanku. Aku rindu percakapan yang seperti itu. Aku sangat menikmatinya. Kami berbicara mengenai perasaan. Tentang kehampaan yang selama ini kami rasakan tapi tidak kami ungkapkan karena memang tidak tahu harus berbicara dengan siapa. Aku senang percakapan kami dapat membuatku merasa lebih ringan. Selama ini aku kesepian dan malu mengakuinya.

O iya, aku belum bercerita tentang satu temanku yang selama ini baik sekali mau mendengar keluh kesahku. Sebenarnya dia adalah salah satu alasan aku tidak merasa kesepian. Tapi aku kadang malu mengakuinya. Kemarin aku bilang ke dia, “Terima kasih sudah baik kepadaku.”. Dia memang baik, Ranum. Dia memahamiku dan membuatku merasa spesial. Aku sering menyebutnya lelaki jahat karena ia bilang ia suka perempuan lain selain perempuannya. hahahahaha. Itu hanya ledekan. Aku tahu dia sebenarnya baik sekali. Aku juga sering mengatakan ke temanku yang lain kalau dia sebenarnya baik meski sering menimbulkan kesal. Dia menyebutku perempuan kesepian. Padahal karena dia aku tidak benar-benar kesepian. Kemarin di ruang tamu terjadi percakapan yang cukup intens antara lelaki jahat dan perempuan kesepian. Kesimpulannya tidak ada, hanya ada pertanyaan-pertanyaan yang mengambang. Apakah sesungguhnya ukuran rasa sayang itu? Dan apakah dalam kesetiaan ternyata rasa sayang itu tereduksi dan berubah menjadi sekadar kebiasaan? Eh, tapi kami sepakat, sebagai manusia yang memiliki rasa kemanusiaan, mati rasa adalah perasaan yang paling mengerikan.

Setelah dia pulang, dia mengirimiku pesan panjang yang intinya menyatakan bahwa aku baik karena aku dapat menghargai dia yang tidak dia dapatkan dari sebagian orang.Dia bilang, kebaikankulah yang membuatku spesial. Aku bahagia membaca pesannya. Aku tidak tahu kalau aku baik, aku malah sering merasa aku jahat kepadanya. Tapi ternyata ia merasa bahwa aku baik. Aku baru bnar-benar sadar bahwa mendapat kata-kata baik yang tulus dari orang lain membawa pengaruh baik dalam diri kita, Ranum. Aku senang sekali memiiki teman yang baik hati. Kami sama-sama tidak sempurna, tapi kami sama-sama menghargai ketidaksempurnaan kami.  “What goes around, comes around” .

Ranum, terima kasih telah menjadi salah satu teman baikku yang mau mendengar celotehanku. Aku bersyukur mempunyai teman-teman yang baik dan menyayangiku. Aku juga sangat menyangi temanku. I Love you, Ranum.

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

 

Advertisements

​STASIUN TUA PADA SUATU MALAM

Pernah pada suatu malam
ada aku dan kamu yang singgah pada stasiun

yang umurnya mungkin jauh lebih tua

daripada pohon di halaman rumahmu
Pada perjalanan menuju stasiun tua itu

kau menghentikan langkah kaki di depan rumah tua kesukaanku

Bertanya:

Tak inginkah kau sejenak menikmatinya?
Kita memandang dan berceloteh

seakan waktu tercerabut dari ketentuannya

dan kekal dapat terwujud
Malam memang biasa.

Lampu merkuri masih setia berdiri di ujung jalan 

sambil memberi  keremangan yang rawan.

Sementara orang-orang berlalu-lalang,

kita memilih berhenti

itulah yang tak biasa
Lalu kita meneruskan langkah menuju stasiun.

Stasiun memang hanya persinggahan dan kita

memang hanya singgah.
Memandang kereta-kereta yang kadang lowong

kadang rumit.

Aku bertanya: apakah yang pergi pasti akan pulang?
Tak ada jawaban darimu

Pun stasiun tua.

Kereta tetap datang

Kereta tetap pergi

Dan kita masih singgah.

Jakarta-Jogja

2016

Kunjungan

:untuk yang masih memberikan ketenangan

 

Ketika aku sampai di tempatmu,
langit sore masih biru dengan sedikit semburat jingga tipis di langit sebelah barat

Kita berdua menghabiskan sore itu di beranda

Di langit timur, bulan pucat bersembunyi di langit biru
Kita buka obrolan dengan menertawakan banyak hal

“Jangan kurung perasaanmu itu. Lepaskan. “ selalu begitu kau ucap

Dan kau ungkit lagi segala rasa yang mengendap di dasar diri

Aku tertawa, tergelitik.
Kulihat langit menjadi gelap sempurna

Rembulan purnama kuning

Langit bersih tanpa awan

Dan kita tak sadar kapan tepatnya semburat jingga di langit biru benar-benar hilang,

Sementara kata-kata semakin berwarna
“Waktu begitu cepat, kecuali bagi yang menunggu,” ujarmu

Memang begitu adanya. Dan aku masih saja menunggu

Tapi berkat kau, menunggu tidak terlalu menjengkelkan.
Kau bilang aku baik,

Aku bilang kau gelap.

Kita sama tahu ini tidak seimbang,

Tapi menyenangkan menghabiskan waktu bersama
Setelah kata-kata terasa lelah, aku kembali ke tempatku

Kau mengantarku hingga ke gerbang
Kita tak pernah merasa khawatir tentang perpisahan

Betapa nikmat

2016

Daun Kuning

“Aku ingin pulang ke awan”

Begitu katanya lirih ketika

kumbang sedang berjalan  pelan 

di kelopak bunga yang baru merekah
“Setidaknya, biarkan uap tubuhku menjadi awan”

Tambahnya sedetik kemudian.

Ia ingin sekali menjadi putih
Di taman itu, 

Tak ada yang datang kecuali kesepian yang beruntun.
Ayunan bergoyang pelan digoda angin pagi yang lembut

Dan daun kuning yang hampir putus dari rantingnya itu

Masih ingin pulang ke awan
2016