rangkaian kata murahan

aku ingin sekali memuntahkan kata-kata di depanmu,
tapi entah kenapa hanya diam yang berpamer diri.
aku ingin berkata bahwa kau bajingan kudisan,
tapi entah kenapa hanya senyum yang teramu.
aku ingin meramu katakata yang menggetarkan
tapi hanya katakata murahan yang tersaji

maafkan aku kata,
bukan aku merendahkanmu
hanya memang aku yang payah
payah memang aku

kau mungkin muak saat membaca tulisanku ini
yang tidak bermakna
dan tidak menggugah

buang-buang waktu saja

tapi aku bingung
harus kuapakan rasa yang menjelma kata
jika tidak kutulis?

maka,
maafkanlah jika
aku membencimu perlahan

dan,
maklumilah jika
aku mengagumimu dalam benci

tapi,
percayalah jika
rasa tak akan pernah hilang seutuhnya

demikian rangkaian kata ini kutuliskan hanya untukmu
mungkin ini picisan
mungkin ini makian
maaf.

Advertisements

Hidup ini Indah, jika kita mengindahkannya

ini bukan puisi, apalagi cerpen fiksi. Tulisan ini cerita pendek tentang hidup yg berupa kenyataan. Tulisan ini adalah tuangan pikiran-pikiran saya, cerminan kehidupan sehari-hari warga negara biasa yang tak pernah dipandang karena terlalu marjinal, tidak lebih.

saya adalah seorang pelajar di salah satu perguruan tinggi negeri di negeri ini. banyak sekali saya mendengar keluhan-keluhan, makian, cemoohan, kritikan (yg ini saya juga pernah melakukan), dan hal-hal bernada sumbang lainnya. ya, saya tidak menyalahkan si pemuntah kata-kata negatif itu, karena di dunia ini tidak ada yang mutlak salah (apalagi mutlak benar).

saya kenal dengan orang yang perjuangan hidupnya sangat keras, hidup ini seakan sedang menginisiasinya dengan begitu kejam, tapi tak pernah sekalipun ia mengeluarkan makian kepada hidup. ia hanya tersenyum dan pasrah. bukan tak pernah ia berkata kotor, ia berkata kotor tanpa makna, seingga hidup tak akan merasa terhina. mungkin kalian menganggap saya sok tahu tentangnya. baiklah saya mengaku, saya sedikit sok tahu, karena saya tidak 24 jam penuh berada di dekatnya, jadi saya (seharusnya) tidak berhak menulis “tidak pernah sekalipun”. Tapi setidaknya, ia tidak pernah mengeluh di depan saya. Ia kadang menangis di depan saya. Tapi toh menangis adalah pembuktian bahwa ia masih normal sebagai manusia.

Hidup ini indah,kawan, jika kita mengindahkannya. Ya, kalimat ini memang mengandung ketaksaan. Kita bisa mengartikan kalimat tersebut dengan membuat hidup ini indah, berarti kita adalah pelaku, subjek. Namun, kalimat tersebut juga dapat diartikan bahwa kita harus memperhatikan “tanda” yang diberikan oleh hidup. dua-duanya saya terima, karena sebenarnya saya memang ingin mengungkapkan kedua hal tersebut.hahaha

oke, mari masuk ke dunia saya. waktu itu mengalami kejadian yang sungguh indah. Saya menginap di asrama teman saya, walaupun saat itu masih dalam suasana liburan. Kami terlalu lama berada di rumah, akhirnya secara mendadak memutuskan akan pergi ke kota tua. Semuanya serba mendadak, tak ada persiapan berarti. Sejak malam hari kami mempersiapkan bekal termurah, memperhitungkan biaya, dan sebagainya. oh, iya! kami bukan hanya memikirkan perjalanan kami, tapi juga hadiah ulang tahun untuk sahabat kami. Jujur, kami bukanlah mahasiswa yang mempunyai banyak uang untuk membeli kado yang bagus. Kami benar-benar kaum marjinal. Jadi kami menumpahkan ide kreatif kami agar kado yang sebenarnya murah dapat terlihat berarti dan tidak murahan. Akhirnya kami memutuskan membuatkannya sketsa, sketsa kami dengannya juga beberapa teman lain di tambah puisi. Malam itu kami pergi ke swalayan untuk berbelanja bahan. bahan untuk membuat kado, juga bahan untuk bekal yang kami bawa.
kami mengerjakan hadiah itu hingga larut malam. setelah hadiah tersebut selesai, kami langsung tertidur; mungkin karena terlalu lelah.

kami bangun pada pagi hari. kami tidak langsung siap-siap. kami bermain netbook kami terlebih dahulu. Mendengarkan lagu-lagu yang bersemangat sambil menyanyi. menambah semangat kami yang mungkin akan kendur nanti. lalu kami bersiap, dan akhirnya berangkat. perjalanan tak semudah yang kami bayangkan. kami pergi menggunakan kereta ekonomi tujuan jakarta, dan entah kenapa keretayang kami tunggu tak kunjung datang. kami menunggu hingga 2 jam! dan ternyata, kereta yang kami naiki padat sekali. sifat-sifat egois dan toleransi sungguh dapat kita lihat di dalam kereta yang penuh sesak. ada pemuda yang tidak mau memberi tempat duduknya pada ibu-ibu, tapi ada bapak-bapak yang rela membagi tempat duduknya untuk kami (saya dan teman saya). memang, penat sekali rasanya tapi sungguh indah mengetahui masih ada rasa toleransi di kereta sepadat itu.

teman saya betanya kepada saya, “menurut lo apakah semua orang itu baik?” saya langsung menjawab iya. karena memang pada dasarnya manusia itu baik. dasar bukan berarti dominan, tapi dasar adalah bagian terpenting. JIka dasarnya baik, maka kebaikan itu tidak akan hilang. orang-orang yang kita anggap tidak baik sekalipun sebenarnya mempunyai sis baik. sungguh saya percaya itu.
hidup ini indah bukan jika kita mengindahkannya?
ya memang, kadang kita temui keadaan yang sulit sekali kita kategorikan sebagai sesuatu yang indah, tapi ingatlah kalau akan sangat rugi jika kita mengubur sesuatu yang indah yang telah kita buat terlebih dahulu dengan kemuraman.

Sesuatu yang indah bisa datang tiba-tiba melalui hal kecil. seperti waktu itu saya sedang naik kereta, sungguh saya penat karena saya tidak kebagian tempat duduk dan merasa sangat lelah. akan tetapi ketika saya melihat lewat jendela, saya melihat sesuatu yang langsung membuat saya tersenyum. saya melihat seorang kakek pemulung yang sedang bercanda dengan seorang anak lelaki yang juga pemulung hanya dengan sebuah koin. Saya tidak tahu apa yang mereka tertawakan, tapi melihat tawa mereka yang lepas di tengah beban yang menekan mereka, saya merasa hidup ini memang sesungguhnya indah. kalau mereka saja masih bisa tertawa, lalu mengapa saya masih harus cemberut? bukankah lebih baik kita tertawakan saja masalah-masalah yang seolah meledek kita dengan tekanannya?

sudah lah, saya lelah berbicara terlalu panjang mengenai indahnya hidup. saya juga takut dicap sok tahu tentang hidup jika terlalu banyak bicara. lebih baik saya berhenti. saya bukan cendekia, bukan orang terpandang, omongan saya masih dipandang sebelah mata dan didengar sebelah telinga. lebih baik saya berhenti saja. semoga anda merasakan pula indahnya hidup ini 🙂
selamat menjalani hari..