Hening

dua kubu jatuh

terpecah

belah

 

lalu, kita bisa apa?

Advertisements

Racauan Subuh

ada yang ingin diurai sebenanrnya. Tapi semua itu menggulung di kepala, saling bergumul dan menjadi semakin rumit. Semakin absurd saja semakin harinya. Pemahaman-pemahaman yang muncul karena pengalaman dan yang karena dialami orang lain membentuk sikap yang aneh. Sikap yang menerima semua sebagai kewajaran. Semua akan menjadi wajar saja kalau kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. Selama ini, masalah sudut pandanglah yang membuat banyak hal menjadi masalah. Tapi itu penting juga. Harus ada yang taat pada norma dan nilai-nilai, agar dunia tidak menjadi semakin kusut. Instansi-instansi memang harus ada. Sudah seharusnya begitu. Tapi aku yakin, sebenarnya rasa kemanusiaanlah yang mendasari norma, nilai, dan instansi yang ada. Jadi, orang-orang yang dengan sadar melakukan pembunuhan, pemerkosaan, dan hal lainnya yang kita anggap tidak baik adalah melawan kemanusiaannya sendiri. Betapa mengerikan melawan rasa kemanusiannya sendiri. Mungkin karena itu ada penjara, agar mereka merenung. Tapi, aku setuju pernyataan salah satu sosiolog (aku lupa namanya) yang mengatakan orang jahat itu diperlukan dalam suatu tatanan masyarakat. Orang-orang seperti itu menjadi tempat yang baik untuk bercermin, kan? tanpa harus membunuh, kita tahu membunuh itu salah.

Jangan terlalu serius membaca tulisan ini. Ini hanya racauan. Tak ada yang terlalu seius di dalamnya. Semua biasa saja dan cenderung sok tahu. Manusia adalah unik dengan segala (yang katanya) kemanusiaannya. Gejolak di dalam diri manusia muncul seiring dengan pengalaman yang didapatnya. Perenungan-perenungan dan pemikiran tidak berbanding terbalik dengan apa yang ia peroleh di dalam hidupnya.

Sudah, ah! makin sok tahu, makin gak seru!

Selamat menikmati pagi, orang-orang baik 😀

Kepada Ranum

Halo, Ranum. Apa kabar kamu? Lama sudah aku tak  mengirim surat padamu. Beberapa waktu lalu aku sempat menulis surat untukmu, tapi tidak kuselesaikan. Maaf ya, Ranum. Tapi aku sungguh Rindu Kamu.

Ranum, aku mulai suka stasiun, terlebih langit-langitnya. Aku suka aksen Eropa yang ditinggalkan di stasiun oleh para penjajah itu. Semuanya membuat stasiun tampak anggun dan berwibawa. Langit-langitnya adalah hal yang paling tabah di antara semua bagian stasiun. Ia tak seperti rel yang memiliki pasangan. Ia sendiri, selalu jadi persinggahan. Selalu menyaksikan kedatangan dan keberangkatan kereta. Betapa mengharukan, bukan?

Kemarin aku ke Kota Tua. Ramai sekali di sana, tapi museum tetap sepi. seandainya ada pengunjung, kebanyakan hanya foto-foto saja. Mereka tidak meresapi benda-benda di museum. Kemarin aku terjebak pada masa lalu. Aku rasa aku tergila-gila dengan pesona Batavia Zaman penjajahan. Entah kenapa aku menganggap zaman itu adalah zaman paling eksotis. Ketika Kerajaan lokal masih berdiri, tapi juga ada kekuasaan Eropa. Aku membayangkan suasana zaman dulu, ketika kaum Belanda, Peranakan, Cina, Pribumi, melakukan kegiatan di sana. Betapa mengagumkan.

Ketika aku duduk di taman Fatahillah, menghadap ke Museum Fatahillah, aku merenung. dulu, di depan museum itu ada pembantaian etnis Cina. Kali Besar jadi tempat pembuangan mayatnya. Kemarin, di sana berdiri panggung besar. Masyarakat bertamasya di sana, dihibur oleh grup musik-grup musik yang menyuguhkan tontonan meriah dalam rangka memeriahkan ulang tahun Jakarta. Betapa waktu bisa mengubah segalanya.

Ranum, aku rindu kamu. Sungguh. Lama tak mengabarimu membuatku rindu. Ada banyak cerita yang ingin kubagi denganmu, tapi waktu membuatku lupa. Kalau saja kumampu menulis surat setiap hari untukmu, pasti aku tak akan rindu. Apa kabar kotamu? Apa kabar motormu? Doakan aku ya semoga aku selalu bahagia. Aku juga mendoakanmu. semoga kamu selalu bahagia.

 

P.S: Ibuku kemarin berkata kalau orang baik adalah orang yang berbuat baik, berkata yang baik, dan akhirnya mendapat yang baik. kamu baik 🙂 

Racauan Bangun Tidur

sore. Apa kabar kita? Tidak ada. Aku tahu. Aku hanya bercanda. Kamu apa kabar? Kabarku baik. Tapi ini bohong. Aku tak sepenuhnya baik. Kamu juga sepertinya seperti itu. Baguslah kalau begitu.

Selalu ada yang tidak baik di balik ‘ Aku baik-baik’, selalu ada apa-apa di balik ‘tidak apa-apa’, selalu ada penolakan di balik ‘terserah’, ‘dan lebih banyak tidak di balik ‘ttidak tahu’. Semua ternyata negasi. Duh, aku kan negasi kamu. Sudah ah, aku rindu perjalanan. Aku mau jalan dulu.