Wanita Di Pewayangan

‘Apakah begini rasanya jadi perempuan di pewayangan?’ pikir Gendhis. Ibunya, neneknya, budhenya, semuanya bagai wanita di pewayangan yang menerima semua penderitaan dengan ikhlas dan mengabdi sepenuhnya terhadap suami. Ia juga ingin seperti itu.

Ia tahu bahwa Raffi, suaminya, tidak akan terlalu setia padanya. Dia tahu. Tapi dia berpura-pura tidak tahu. Tapi ketika suaminya menjadi begitu diam, ia tak tahan lagi. Ia butuh perhatian. Ketika suaminya begitu diam padanya, selalu muncul kecurigaan bahwa suaminya sedang menjadi pria yang penuh perhatian kepada wanita lain Read more

Advertisements

Ceracau pada petang

Terlalu hambar rasarasanya
Tak sedih, tak bahagia
Hanya tahu baik dan buruk.
Tapi itu sudah cukup. Untuk saat ini.
Semua hanya mungkin. Tak akan menjadi baik selamanya, pun sebaliknya. Dua dahan tak selamanya bertengger pada pohon; mungkin nanti patah, mungkin nanti bertambah.
Kalau dunia masih berputar, itu cukup. Kalau kemanusiaan masih manusia, itu cukup. Mungkin nanti manusia lupa pada kemanusiaan, mungkin lekat pada kemesinan, atau kehewanan. Tapi siapa aku untuk menghakimi seperti tuhan? Tuhan saja tidak menghakimi. Aku di sayang tuhan, aku sayang tuhan. Itu cukup.
Tentang rasa, mungkin nanti rasa baru akan bermakna. Sekarang belum waktunya. Dan soal waktu, siapa yang dapat menebaknya kecuali dia, semesta, dan tuhan?

Perpisahan

image

Kemarin segera menjadi kenangan

Akhirnya aku tiba pada perpisahan pertama. Perpisahan pertama yang berarti. Menjelang perpisahan, semua terasa begitu biasa. Tapi setelah sampai di batas, semua yang terpendam dan yang terlupa kembali muncul, kembali teringat. Semua penyesalan, semua kebahagiaan. Pada perpisahan aku sadar seberapa jauh aku diterima selama ini. Seberapa aku menyayangi apa yang kujalani. Semua terasa lebih bermakna pada saat ini. Untuk itu, terima kasih untuk Sasina yang telah menjadi keluargaku. Terima kasih telah ikut membentukku menjadi pribadi yang seperti sekarang ini. Maaf sebesar-besarnya pada semua pihak yang merasa telah aku perlakukan dengan kurang baik. Aku sadar, kekuranganku sangat banyak.terima kasih untuk semua memori dan pelajaran yang telah kalian berikan.

Salam termanis,
Galuh Sakti Bandini

Masih Ada Kita

“jadi bagaimana? kapan kamu mau dioperasi?”

“aku tidak tahu, mas”

“kenapa? masalah biaya? sudah kubilang tenang saja.”

“tapi operasiku tidak murah. kalaupun dioperasi aku akan operasi di RS Makmur saja, di sana jauh lebih murah dibanding RS yang biasa kita kunjungi.”

“sudah kubilang, masalah biaya kamu tidak usah khawatir. Aku tidak masalah dengan biaya, yang aku masalahkan adalah kualitas perwatanmu.”

“tapi kamu bilang kita sedang tidak punya uang?” Read more

Ternyata sudah hilang. Tidak tersimpan. Gagal mengenang. Selamat!

Pertanyaan-Pertanyaan Untuk Srikandi

Halo, Srikandi.

Aku bukan penggemarmu, aku juga tidak terlalu tahu cerita hidupmu. Tapi aku juga bukan pembencimu. Sungguh. Aku ingin bertanya padamu tentang beberapa hal. Hal-hal ini membuatku penasaran sehingga melahirkan tanya.

Apa rasanya membunuh Bhisma? Apa rasanya membalaskan dendam Amba? Apa rasanya mengakhiri perang Bharatayudha? Apakah luar biasa? Aku sungguh-sungguh penasaran tentang hal-hal tersebut. Oh, iya! Ada satu hal lagi yang membuatku penasaran. Apakah kamu benar-benar membenci Bhisma?

Jangan kesal dulu terhadapku yang cerewet dan banyak tanya ini. Aku sadar perang Bharatayudha memang aneh. Tidak harus membenci seseorang untuk membunuh di dalam perang. Musuh adalah musuh. Karena kalau tidak begitu, bagaiana bisa para Pandawa membabat habis saudara-saudara, guru, kakek, dan orang-orang terdekatnya sendiri? Read more