Wanita Di Pewayangan

‘Apakah begini rasanya jadi perempuan di pewayangan?’ pikir Gendhis. Ibunya, neneknya, budhenya, semuanya bagai wanita di pewayangan yang menerima semua penderitaan dengan ikhlas dan mengabdi sepenuhnya terhadap suami. Ia juga ingin seperti itu.

Ia tahu bahwa Raffi, suaminya, tidak akan terlalu setia padanya. Dia tahu. Tapi dia berpura-pura tidak tahu. Tapi ketika suaminya menjadi begitu diam, ia tak tahan lagi. Ia butuh perhatian. Ketika suaminya begitu diam padanya, selalu muncul kecurigaan bahwa suaminya sedang menjadi pria yang penuh perhatian kepada wanita lain Continue reading “Wanita Di Pewayangan”

Ceracau pada petang

Terlalu hambar rasarasanya Tak sedih, tak bahagia Hanya tahu baik dan buruk. Tapi itu sudah cukup. Untuk saat ini. Semua hanya mungkin. Tak akan menjadi baik selamanya, pun sebaliknya. Dua dahan tak selamanya bertengger pada pohon; mungkin nanti patah, mungkin nanti bertambah. Kalau dunia masih berputar, itu cukup. Kalau kemanusiaan masih manusia, itu cukup. Mungkin […]

Perpisahan

Kemarin segera menjadi kenangan Akhirnya aku tiba pada perpisahan pertama. Perpisahan pertama yang berarti. Menjelang perpisahan, semua terasa begitu biasa. Tapi setelah sampai di batas, semua yang terpendam dan yang terlupa kembali muncul, kembali teringat. Semua penyesalan, semua kebahagiaan. Pada perpisahan aku sadar seberapa jauh aku diterima selama ini. Seberapa aku menyayangi apa yang kujalani. […]

Masih Ada Kita

“jadi bagaimana? kapan kamu mau dioperasi?”

“aku tidak tahu, mas”

“kenapa? masalah biaya? sudah kubilang tenang saja.”

“tapi operasiku tidak murah. kalaupun dioperasi aku akan operasi di RS Makmur saja, di sana jauh lebih murah dibanding RS yang biasa kita kunjungi.”

“sudah kubilang, masalah biaya kamu tidak usah khawatir. Aku tidak masalah dengan biaya, yang aku masalahkan adalah kualitas perwatanmu.”

“tapi kamu bilang kita sedang tidak punya uang?” Continue reading “Masih Ada Kita”