Senja datang Tak Pernah Lama

: kepada ayah

Aku melepas kupukupu
pada senja yang merona.
ketika api pada bola Tuhan hampir padam
senja pergi bersama kupukupu.

“senja datang tak pernah lama, nona”
katamu sambil membawa gelap.

kau selalu datang saat malam
dan pergi ketika Tuhan melemparkan lagi bolaNya.

“agar aku dapat menemani sepimu”
selalu begitu kau ucap.

sepengelihatanku kau tak pernah membawa beban
di pundakmu, tanganmu, atau di dadamu.
aneh! padahal aku selalu mempunyai beban untuk kuceritakan padamu.
Dan kau duduk,
menikmati kepulankepulan tak berbentuk
sambil mengurai bebanku.

aku tahu, tak lama lagi kau akan mengajakku melihat indahnya malam.
belajar pada kelam..

Galuh Sakti Bandini

Advertisements

TERLALU KOSONG PAGI INI

tanpa ada pembuka saat mata perlahan membuka kelopaknya
tak ada tawa, bahkan tak ada tangis,
tak ada gurauan atau basabasi murahan
pagi ini benarbenar kosong tanpa apapun.
lunglai pintupintu terbuka
pagi ini terasa semakin kosong ketika seorang penyair jenuh dengan puisi
pagi ini serasa hambar ketika cerpenis mogok kerja
dan ketika novelnovel kehilangan gairah pembaca
benar, aku merasa sangat kosong pagi ini
sekosong gelas tanpa air di atas meja
kosong ternyata aneh sekali,
mati kelihatannya lebih bermakna daripada sekadar kosong.
Pagi ini aku merasa sekosongkosongnya kosong.

puisi-puisi tanpa judul

kalau kaku membuatmu bahagaia,
mengapa tidak kau menjadi keras?
aku akan tetap menjadi tenang,
karena -bahkan- dalam kekerasan masih dibutuhkan ketenangan

19 01 2011
******

di pinggir jendela aku dan burung senang bercengkrama
berbicara tentang daun jendela yang senang berayun
mempermainkan sang angin yang ingin mengisi sudut ruang.
aku senang diam,
burung senang mengangguk,
kita bicara dalam kekosongan
karena dalam kekosongan tak ada kepalsuan
riakriak rasa tak akan tercipta
apalagi buih benci.

**********

aku ingin menulis matamu
menulis rambutmu yang hitam lurus tanpa riak -apalagi gelombang-
menulis hidungmu
menulismu.
tapi tinta ini mengadat.
yasudahlah, kau ku patri saja di otakku.

gerak

rasa yang berdiam di sudut hati
melambung mengawang melambai
berayun atas bawah
menggeliat berputar
merekah meregang
limbung.

Eksodus

mari, mari bicara tentang mimpi
asa-asa liar berlari hilir mudik di ruangruang hati
harap tanpa kekang
biasbias bahagia terpancar dari sinar-sinar lampu teplok
denting dawai kehidupan melambungkan visualisasi akan waktu yang belum datang
hidup tak ada sekat, yang ada hanya perjanjian
persetujuan antara hatihati dan otakotak penghuni bumi
kaki memijak tanah yang rendah
wajah memandang langit tinggi tanpa pernah bertanya siapa menyangga
kabut pekat seringkali bermain menyelubung tubuh yang penat
sampai pada titik dimana kabut dan tubuh sama lelah untuk saling menyelubung dan terselubung
dan tawa berderai dari mulutmulut yang lelah terselubung kabut
mari, mari bicara tentang nyata
nyawanyawa bersembunyi di dalam raga
jiwa menyelusup di antaranya
kuping terpasang rapi di kepala, mendengar keluh mendengar tawa
tawa dan keluh mendengung
kunang dalam rumah kardus bertugas dengan baik tanpa gaji
kurakura mau mati dalam air laut campur asam
ada samar dalam nyata
asa bergerak malumalu di tengah terik
duduk diam si pelajar, merenungkan ilmu pasti yang tetap diam
ayo ayo kita masuk ke dunia mimpi wahai penghuni kenyataan
lekas keluar dari mimpi yang membumbung tinggi, wahai pemimpi!
lekas laksanakan eksodus besar-besaran!
dunia mulai lapuk!!

Curahan Hati Seorang Hamba

: Kepada Tuhan

Tuhan, kenapa malam ini Kau turunkan hujan?
tajamnya menghujam langsung ke hatiku.
Tuhan aku ingin bercerita tentang mataku yang tak dapat mengeluarkan air
layaknya awan yang tak kuat menampung beban saat tanganku diperkosanya.
_Tuhan, izinkan aku memanggilnya brengsek.
Jangan catat itu sebagai dosa, ya Tuhan._
Tuhan, bolehkah aku menangis tanpa air yang keluar dari mata
di pelukmu??
Sudikah Kau, wahai zat terkekal sejagat raya, menyentuh diriku?
Kuharap iya, ya Tuhan
karena Engkau adalah Tuhan.

Tuhan, ajarkan aku membaca hujan.
hujan malam ini seakan-akan berkata
“Habislah Kau!”.
Tuhan, aku takut pada malam sunyi tanpa suci.
Dapatkah kau menghadiahkan kesucian sebagai kado ulang tahunku?

Tuhan, undanglah aku ke rumahMu..
berikan aku air dalam cawan emasmMu yang dapat memusnahkan kekeringan jiwaku.
ya, di jiwaku tidak ada musim hujan.

Tuhan, aku benci diam.
diamdiam ku menyimpan dendam.
jangan salahkan aku tuhan,
aku mendendam karena diam yang meredam dendang.

Tuhan, aku tahu aku benci diam,
tapi tidak kepadaMu.
Kita selalu bicara dalam diam.
dan diamMu membawa damai yang riuh..

Tuhan, mereka bilang Engkau jahat.
maafkan mereka Tuhan.
mereka hanya tidak mengerti arti dalam diamMu.
mereka tidak mencoba memberi makna dalam diam.

Tuhan, jika nanti si brengsek itu datang
tolong hempaskan aku ke ujung dunia.
aku enggan berbalas kata, sedang aku benci diam.

Tuhan, ajarkan aku merajai kata.
agar aku dapat melalapnya dengan bungkusan kata yang menceritakan kelam.

Tuhan, ada yang menggedor pintu kayuku,
aku takut Tuhan..
biarkan aku meringkuk di sudut hatiMu
dan sudilah Engkau menjadi tamengku.

Tuhan, aku minta tangan dan jiwa baru untuk tahun baru.
tangan dan jiwaku sudah usang termakan waktu.

Tuhan, kenapa damai selalu merambat setiap kali kusebut namaMu?
adakah kau taruh sihir di dalamnya?
Jangan pecat aku sebagai hamba, Tuhan..

Tuhan, aku mengantuk.
simpan jiwaku Tuhan..
adakah Kau tahu Tuhan?
Kau adalah kekasih suciku dalam sunyi.

Surat Trijata

/I/

Hanoman,
aku baik-baik saja
kalau tak percaya tengoklah aku di sini,
-di tempat pertamakali kita jumpa-
hanoman, kenapa kau masih saja mempertanyakan perbedaan??
lalu mengapa kalau kita berbeda?
aku juga berbeda,
kau tentu tahu aku bertempat di dunia raksasa,
terbiasa sudah ku dengan beda.
kau tahu, wanara putih
mata beningmu telah mempesonaku,
matamu adalah mata terbening yang pernah kutatap.
mata kita sama,Hanoman
rasa kita sama.
dan aku telah memberimu kasih sejak kau datang dengan matamu yang bening,
rasa tak pernah mengenal raga.
raga tak pernah mengubah diri menjadi jurang pemisah bagi rasa yang hendak saling menggenggam.
wahai putra anjani, tak terdengarkah olehmu
saat aku membisikkan kata cinta apada awan yang sama putihnya denganmu,
dan tak sampaikah bisikan rinduku yang kutitipkan pada angin yang berlari?
saat kau membawaku melihat laut dari atas,
yang kulihat hanyalah biru,
betapa biru menenangkan…
yang kudengar hanyalah degup jantungmu…
semoga kau dapat membaca bahwa aku menikmati saat degup jantungmu terdengar di telingaku,
dan menggema hingga ke jantungku
yang membuat ia berdegup kencang tak keruan.
hanoman, setiap kali daun-daun di pohon taman itu bergemirisik,
aku harap yang menggodanya adalah engkau sang wanara jenaka
namun ternyata angin yang menggodaku,
dia tahu benar caranya menggoda insan yang merindu.
hanoman, matahari sudah pergi menjauhi rembulan yang sebentar lagi akan berjalan gontai ke atas atap rumahku
maka kusudahi saja surat ini,
dan tolong sampaikan salamku pada rama yang seolah mati raga
dewinya di sini masih suci tanpa pernah ragu bahwa rama kan meragu..

/II/

Hanoman,
aku, trijata, membayangkanmu menghampiriku di gelap malam sunyi.
salahkah aku yg mencintamu,
sedang aku baru belajar mengeja kata cinta.
Hanoman, kau wanara bermata bening,
hatimu selembut kapas,
kau mengetahui tiga dunia.
pantaskah aku, trijata, yang belum mengenal alam semesta bersanding denganmu?
kau tahu aku benci sunyi,
lalu bagaimana aku mengubur sunyi,
jika tak ada tawamu untuk menimbunnya?
hanoman, mari kita pergi jauh.
ajari aku berbincang dengan para lebah,
adakah mereka bosan dengan manisnya madu?
ajari aku memahami bahasa laut yang selalu bercerita lewat ombak dan gelombang
Hanoman, mari kita menikmati buih pantai
yang membelai kaki-kaki kita yang telanjang.
Mari kita terbang setinggi awan putih yang menggantung,
lihatlah! kau seperti menyatu dengan mereka.
maukah kau menyatu denganku?
Hanoman, putra Anjani,
mainkanlah serulingmu
antar aku ke alam imaji.
kau dan aku adalah makhluk penghuni bumi
yang baru belajar mencinta.
duniaku, duniamu tentu beda.
aku adalah manusia di tengah para raksasa,
sedang kau adalah kera di tengah kera lainnya.
aku sudah terbiasa dengan beda,
dan aku tak suka membedakan.
matamu, hatimu, jantungmu, rasamu sama denganku.
kau, aku terselubung rindu
mari menyatu
melebur dalam balutan kasih.

Surat Hanoman

/I/

apa kabarmu, dewi trijata?
dewi terindah di antara bunga-bunga.
adakah harimu menyenangkan??
melihat bunga, kupu-kupu, kumbang, dan angin bermain di taman indah
tempat Dewi Sinta merindu kekasih?
tak usah kau khawatirkan dewi sinta yang merindu,
ia akan segera bertemu dangan kekasihnya yang selalu meragu itu.
dan kau??
adakah kau sudah memiliki kekasih?
sudikah kau, anak wibisana yang bijaksana, melihatku dengan kasih?
aku sadar diri,aku hanyalah kera bukan manusia
tapi dewa memberiku hati manusia
degup jantung kita pun sama, beriringan.
sadarkah kau dewi dari segala keindahan,
pesonamu sungguh terang layaknya mentari yang setiap hari mengejar rembulan.
rindukah kau akan kebebasan?
kau, seorang dewi, sendiri menyebrang lautan tanpa takut terbersit di benak.
lihatlah, kebenaran menyambutmu di seberang sana!
lalu aku menemanimu menyebrang lautan _lagi_,
aku membawamu terbang jauh ke awan putih dan kau selalu terpesona melihat biru laut.
tak sukakah kau dengan putih?
apakah kau mendengar suara hatiku kala itu?
kau memandangku dengan begitu rupa, hingga aku tak sanggup menatap langsung matamu.
kau adalah wanita pertama yang melumpuhkan rasaku.
untuk pertama kalinya aku merasa sebagai manusia yang utuh.
kau adalah yang pertamakali memanusiakanku.
bukan, bukan dengan sihir atau kehendak dewata,
tapi hanya dengan rasa yang entah apa namanya, kau memanusiakanku.
terimakasih untuk itu.
dan maukah kau menunggu barang sebentar?
tunggulah di bawah pohon itu,
pohon yang menjadi penyimak saat aku jatuh di pangkuanmu saat itu.
aku akan menjemputmu dan kita akan terbang,
saksikanlah dengan sepuasnya laut biru yang tak habis-habis itu.
dan nikmatilah awan putih yang berarak menyambutmu

/II/

dewiku,
hari ini tak ada senja dengan langit merah atau kuning.
yang ada hanya putih lalu hitam
aku tahu kau tak suka putih,
lalu apakah kau tetap menyaksikan langit itu atau masuk ke dalam rumahmu?
aku tak punya rumah, manisku..
maukah kau menyiapkan tempat bertandang untukku??
hanya bertandang, tidak akan aku tinggal di rumahmu sebelum kau mengijinkanku..
maka, ijinkan aku ‘tuk bertanya
maukah kau menerimaku di rumahmu??
atau kau ingin aku membangun rumah yang lain??
aku hanyalah kera, trijata..
tak pandai aku membangun rumah.
jika kau tak menginginkanku tinggal bersamamu
maka aku akan terbang, membangun rumah di awan putih,
aku menyukai putih,
amat sangat menyukai putih
sayangnya kau tak sama denganku,
haruskah ku rubah warnaku??
dewi keindahanku, kadang aku bermimpi
kita sedang duduk berdua dibawah nyiur di pinggir pantai
melihat perpaduan biru dan putih
_warna kesukaan kita berdua_
lalu kau menyandar di bahuku,
tapi itu semua masih sebatas mimpi,
maukah kau trijata, dewi terindah di bumi dan kahyangan, membantuku mewujudkan mimpiku??
kau, dewi yang selalu dalam benteng,
pernahkah kau melihat angin menari?
ya, angin memang hilang bentuk,
namun, saat daun-daun menari, bukankah ia menari bersama angin?
benar angin memang dapat menari.
dan benar aku mencintaimu,
tapi bukan seperti angin yang harus hilang bentuk,
kau dan aku mempunyai bentuk,
sayangnya bentuk kita berbeda.
dan aku tetap mencintaimu dalam ragaku yang berbeda dengan ragamu..

Balada Sepasang Sepatu

sepasang sepatu digantung
tanpa sentuhan dan hentakkan telapak lembut kaki
sepatu rindu akan keluhan otot-otot kaki yang lelah

sepasang sepatu yang digantung melihat kaki-kaki telanjang
dan tiba-tiba merasa rindu membekap mereka.

Galuh Sakti Bandini