“I’m enjoying this moment with you, so let’s not talk about us.”

Advertisements

Ceracau Minggu

Aku menggali kenangan tentangmu lagi. Di saat hidup terasa hambar seperti ini, menggali kenangan manis bukanlah suatu kesalahan. Aku ingat, saat itu bulan Juli, tapi aku tidak ingat tanggal atau harinya. Akhirnya aku pergi ke kotamu. Kita pergi bersama dari kotaku dengan kereta.

Malam pertama yang kuingat adalah malam dalam perjalanan. Kamu tertidur pulas di bahuku, sementara aku membaca buku. Kamu pasti lelah dan sudah bosan dengan perjalanan ini. Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku terlalu senang karena dapat pergi ke kotamu, bersamamu. Aku ingat, ketika kau terjaga, kau berkata padaku, “Kamu belum tidur juga?”. Aku menjawab dengan senyuman. Mungkin kau lihat mataku yang masih cerah, dan kantuk belum mampir. Gerbong kereta kita sepi, yang paling bising adalah suara kereta dari luar. Kebanyakan penumpang telah lelap di kursinya masing-masing. Menjelang dini hari aku terlelap juga. Aku bangun ketika matahari muncul dan sinarnya menerpaku. Pemandangan sawah terbentang, dan aku ingat bahwa aku bahagia. Tak lama kemudian kamu terjaga. “Selamat pagi!” sapaan pertamaku untukmu di pagi itu. Kau menjawab dengan senyum, meregangkan tangan, lalu minum seteguk air putih. “Sudah dekat,” katamu padaku.  Aku ingat, saat itu aku bahagia.

Di kotamu, kita berpisah. Aku ke penginapanku, kamu pulang ke rumahmu. Menjelang sore, kau menjemputku. Kamu menggunakan kemeja kotak-kotak dan mengendarai motor hitam.  Aku ingat, aku tersenyum saat melihatmu. “Kau rapi sekali,” batinku saat itu, “dan tampan”. Aku tak tahu kemana kau akan mengajakku menghabiskan sore, tapi aku mengikutimu. Ini kotamu, aku percaya padamu. Aku lupa kita menghabiskan sore di mana. Tapi kita menghabiskan malam melihat pertunjukkan seni. Kotamu memang menyenangkan. Aku memelukmu dari belakang ketika kau bonceng dengan motor hitammu sepanjang sore dan malam itu. Aku  menikmati kotamu: jalanan yang tidak terlalu padat, lampu jalan, udara malam. Aku menikmati waktu bersamamu. Mungkin selalu begitu perasaan orang yang kasmaran. Aku menyukaimu. Apakah kau merasakannya?

Aku tinggal selama beberapa hari di kotamu. Dan selama itu, aku penuh perasaan bahagia. Tentu saja perasaan itu hadir karena kamu ada bersamaku. Kamu selalu menjemputku di penginapan dengan senyum. Aku juga selalu menyambutmu dengan senyum merekah. Aku ingat, suatu hari kita pergi ke kantor pos, bangunan kesukaanku. Aku mengirim satu kartu pos untukmu. Padahal saat itu kau ada bersamaku. Betapa menyenangkan saat itu. Sejak saat itu, kantor pos di kotamu memiliki cerita sendiri bagiku. Aku jadi semakin menyukai bangunan tua itu.

Entah kenapa, ingatan yang sangat jelas adalah ketika kau mengajakku ke kedai kopi kesukaanmu. Tempatnya tidak ramai, tapi juga tidak bisa dikatakan sepi. kita memilih meja di pojok. Lampu kedai itu tidak benderang, tapi juga tidak terlalu remang. Yang aku ingat, hampir semuanya tersepuh warna kuning karena lampu. Kau memesan kopi spesial untukmu dan coklat panas untukku. Minuman kita datang agak lama. Tapi kita tidak mempermasalahkan hal itu. Kita isi waktu dengan obrolan. Aku ingat kita tertawa dan hangat. Ketika minuman datang, aku mencicipi kopimu. Ternyata kopimu tidak pahit dan memang enak. Aku biasanya tak suka kopi, tapi malam itu aku suka kopi. Malam itu, aku sangat menyukaimu. Aku ingat ampas yang menempel pada gelas-gelas kita. Aku selalu suka saat ingat bahwa kau memperhatikan caraku memegang gelas saat mengobrol.

Aku ingat malam terakhirku di kotamu. Kita hanya menghabiskan malam dengan berjalan di alun-alun. Toko-toko mulai tutup. Delman dan kusirnya juga mulai kembali ke rumah mereka. Kita duduk di salah satu bangku taman yang ada di sana. Kita hanya diam dan memerhatikan orang yang lalu-lalang. Aku ingat, malam itu aku merasa begitu tenang.  Kau membuatku merasa nyaman dan tenang. Dan saat ini, aku rindu tenang. Aku tidak rindu kamu. Aku rindu seseorang yang mendatangkan ketenangan seperti kamu menghadirkannya untukku. Aku rindu orang yang entah.

Apakah Bahasa Penting dalam Mentransmisikan Kebudayaan?

Bahasa dan budaya saling terkait, terlebih jika dilihat dari penggunaaan struktur di dalamnya. Baik bahasa dan budaya adalah sistem yang menggunakan tanda untuk mengkomunikasikan ide seseorang ke orang lain. Bahasa yang dimaksud di sini tidak hanya bahasa natural (natural language), tapi juga gambar, bunyi dan lain-lain.[1] Bahasa dan budaya sama-sama memiliki struktur. Pendapat ini didasarkan pada teori yang diperkenalkan oleh Ferdinand de Sasussure tentang semiotik.

Menurut Sasussure, bahasa adalah sistem tanda. Sasussure menggunakan istilah signifier (penanda) dan signified (petanda). Menurutnya, petanda adalah konsep yang masih berada pada tataran langue, sedangkan penanda adalah gambaran akustik, dan relasi antara penanda dan petanda adalah tanda itu sendiri yang merupakan entitas yang konkret, misalnya kata.

Saussure menekankan pada tanda-tanda linguistik karena ia memang seorang linguis. Oleh karena bahasa merupakan sistem tanda, penelitian linguistik harus diarahkan terhadap produksi dan aturan yang melatar belakanginya (Lee dalam Christomy, 2010: 111). Sasussure juga menekankan konsep arbitrer dan dwipihak dalam  menghasilkan makna  suatu tanda. Pandangan seperti ini memungkinkan sebuah fenomena budaya direduksi menjadi sebuah tata aturan, sama seperti yang terjadi pada tata bahasa (Christomy, 2010: 112).

Pandangan Sasussure ini kemudian digunakan oleh Lévi-Strauss. Lévi-Strauss melihat budaya sebagai sistem simbolik bersama yang merupakan kumpulan kreasi pikiran (cummulative creations of mind); ia mencari struktur dari domain budaya (Keesing, 1981:47). Menurutnya, dunia fisik manusia menyediakan bahan mentah proses universal dari penggabungan pikiran menjadi beberapa perbedaan subtansial, tetapi pada dasarnya memiliki pola yang sama. Pikiran memaksakan urutan pola tertentu, logika kontras biner (binary contrast), dari relasi dan transformasi di dalam perubahan yang kontinu dan dunia yang acak ini (Keesing, 1981: 48).

Tidak hanya Lévi-Strauss yang menggunakan dikotomi Saussure untuk meneliti budaya, Roland Barthes juga demikian. Ia menggunakan dikotomi Sasussure dalam teori Mitosnya.  Barthes pernah  menyatakan bahwa myth is a type of speech (Barthes, 2013: 217). Baginya, mitos adalah sebuah sistem komunikasi, yaitu pesan. Semua hal dapat dijadikan mitos, selama dilengkapi dengan wacana. Sebuah mitos dapat menjadi sebuah ideologi ketika sudah berakar lama dan menyentuh norma sosial yang berlaku di masyarakat. Mitos tidak ditentukan berdasarkan objek dari pesan yang akan disampaikan, tapi cara bagaimana objek ini disampaikan sebagai pesan. Contohnya saja pohon beringin yang disakralkan oleh masyarakat Jawa. Pohon yang memiliki makna kesakralan adalah sebuah mitos karena dipercaya oleh masyarakat jawa seperti itu.

Barthes menyebut teori mitosnya sebagai a second-order semiological system. Mitos dapat dilihat sebagai dua sistem semiologi yang berhubungan, yaitu sistem linguistik dan mitos itu sendiri. Mitos di dalam sistem tersebut ia sebut sebagai metabahasa karena merupakan bahasa kedua yang menjelaskan tentang sistem linguistik (Barthes, 2013: 224). Benny H. Hoed (2014) menjelaskan tentang konsep metabahasa Barthes. Signifier disebut sebagai expression (E), sedangkan signified disebut sebagai contenu (C), hubungan antara E dan C adalah relasi (R). Relasi antara E dan C terjadi lebih dari satu tahap. Tahap pertama disebut primer yang terjadi ketika tanda dicerap untuk pertama kalinya. Inilah yang disebut denotasi, yaitu pemaknaan yang secara umum diterima dalam konvensi dasar sebuah masyarakat. Pemaknaan tersebut kemudian berkembang menjadi pemaknaan sekunder. Jika pemaknaan sekunder berkembang pada segi E, hal itu disebut metabahasa. Hoed memberikan contoh, yaitu seseorang yang menggunakan ilmu gaib untuk tujuan tertentu (C) disebut dukun, paranormal, atau cenayang (E).

Selain metabahasa, Barthes juga menjelaskan konsep mengenai makna konotasi. Konotasi terjadi jika pengambangan yang terjadi berada pada C. Konotasi adalah makna baru yang diberikan pemaikai tanda sesuai dengan keinginan, latar belakang pegetahuannya, atau konvensi baru yang ada dalam masyarakatnya (Hoed, 2014: 25). Barthes menggunakan konsep konotasi untuk menjelaskan bagaimana gejala budaya yang dilihat sebagai tanda memeroleh makna khusus dari anggota masyarakat.

Dari penjelasan dan penjabaran yang dilakukan sebelumnya mengenai kebudayaan dari sudut pandang semiotik, semakin jelas bahwa bahasa memang memiliki peranan penting dalam mentransmisikan kebudayaan. Kebudayaan dapat mengambil konsep sruktur bahasa yang awalnya dikembangkan oleh Ferdinand de Sasussure. Bahasa dan kebudayaan sama-sama merupakan struktur tanda. Bahasa dapat membentuk kebudayaan. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Danesi & Perron (1999) bahwa agenda semiotik adalah mencari bentuk dari sistem representasional di balik bentuk ekspresi manusia. Di dalam bentuk ekspresi itulah terkandung makna. Koherensi antara bentuk ekspresi ke dalam sistem menyeluruh dari produksi makna inilah yang disebut budaya. Bahasa dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang kemudian akan membentuk budaya di masyarakat tertentu.

 

Daftar Pustaka

Barthes, Roland. 2013. Mythologies. New York: Hill & Wang.

Christomy, Tommy. 2010. “Piercean dan Kajian Budaya” dalam Semiotika Budaya. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya.

Danesi, Marcel & Paul Perron. 1999. Analyzing Cultures: An Introduction & Handbook. Indiana: Indiana University Press.

Hoed, Benny H. 2014. Semiotik  Dinamika Sosial Budaya. Depok: Komunitas Bambu.

Keesing, Roger. M. 1981. “Theories of Culture” dalam Language, Culture, and Cognition. Ronald W. Casson (ed.). New York: Macmillan Publishing.

[1] Merujuk pada pengertian bahasa menurut Roland Barthes (Barthes, 2013)

Perjumpaan

:untuk temanku yang pemalu

Seperti dulu,
Kita berbincang di kedai kopi
Lama dan berbahagia
membicarakan ketidakbahagiaan
yang kemarin mampir dalam diri

Kau masih menjadi teman yang menyenangkan
Dan pemalu
sementara aku masih penuh letupan

kita tertawa
dan setuju hidup sudah semakin penat
cerita sudah tak mampu lagi dipepat
dan ia butuh tempat

Rindu itu, temanku
Menampakkan wujudnya lewat mata
Lewat cerita
Lewat tawa
Sore itu, rindu berbahagia karena telah jumpa pelipurnya

 

Ini Tentang Rindu, Ranum

Ranum, aku rindu kamu. Aku sungguh rindu kamu. Aku hampir menangis karena rindu ini–dan hal-hal lainnya. Aku butuh pundakmu untuk bersandar, dan petikan gitarmu untuk tenang. Aku ingin melepas beban di sampingmu dan bercerita tentang betapa mengerikannya prasangka. Tentang potensi menyakitkan yang dikandung harapan. Aku ingin bercerita dan bercerta terus sambil menghabiskan malam denganmu.

Ranum, kapan kita jumpa? Adakah kita akan benar-benar jumpa? Kemarin aku menjalin sesuatu yang berakhir kepada kesia-siaan, dan itu menyakitkan, Ranum. Kekecewaan dan kesedihan ternyata menjelma sakit dan membuat mulutku pahit. Kau tahu, Ranum, air mata rasanya masih asin. Dan ketika kau mengeluarkan air mata asin itu karena rasa pahit di dada, cappucino tanpa gula jadi terasa manis sekali.

Tapi, saat kau baca surat ini, Ranum, rasa sedih yang kurasakan kemarin tentu sudah berkurang. Bahkan ketika aku menulis surat ini, aku sudah tidak sesedih kemarin. Semua akan menjadi normal dan biasa karena waktu terus berjalan dan cerita terus bergulir. Aku akan bertemu orang baru dan akan mengukir cerita baru dengan kegembiraan baru dan mungkin kesedihan yang baru. Aku tahu, pada akhirnya semua akan baik-baik saja.

Tapi kalau aku bilang aku rindu kamu, itu sungguhan. Ternyata jarak dan waktu malah memupuk rindu. Menurutmu, apakah perjumpaan merupakan obat paling mujarab bagi rindu? Atau rindu bisa terobati hanya dengan percakapan tanpa perjumpaan? Aku memilih perjumpaan yang penuh percakapan manis. hehehehe

O iya, aku punya seorang teman baru. Dia yakin sekali aku kesepian dan tak pernah bahagia. Dia bilang, mataku memancarkan kesepian yang dalam. Apa iya mataku benar-benar memancarkan kesepian? Padahal, aku merasa baik-baik saja dengan hidupku. Aku memang terkadang merasa kesepian, tapi aku rasa aku tidak pernah memancarkannya lewat mata. Hal yang paling konyol, Ranum, temanku itu percaya bahwa aku tidak pernah menerima atau dibacakan puisi. Rasanya aku ingin menceritakanmu padanya. Kamu yang baik dan manis yang tidak hanya memberiku puisi tapi menciptakan puisi dalam hidupku. Tapi dia begitu percaya pada apa yang ada di pikirannya sehingga kata-kataku hanya akan jadi percuma. Tapi aku dekat dengan temanku itu. Dia dan aku memiliki ketakutan yang sama akan penerimaan orang lain terhadap kami. O iya, sekadar info saja, dia sedang kasmaran sekarang. Aku turut berbahagia untuknya.

Aku juga bahagia untukmu dan hidupmu. Semoga kau segera menemukan cinta yang membahagiakan. Semoga pertemuan segera terjadi antara kita, ya. Rindu ini, Ranum, sudah terlalu runcing. Semoga hujan dan terik tak membuatmu sakit.

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

 

Pertanyaan

Kita melayang di antara gelisah

Dengan dekap malumalu

Dan segenggam ragu, tentu
Apa yang ada di depan belum tersibak

Kau dan aku tak mampu menyingkap.

Ada harapan yang tak boleh diharap

Dan ketakutan yang tak beralasan
Sepintas kuingat puisimu

Yang bukan untukku

Ketika kau tanya tentang dia yang telah lalu;

Ada cemburu bertalu

Gemanya terdengar sampai ke pulau.
Perjalanan masih jauh

Dan pertanyaan itu masih menggema:

“Adakah kau rumah bagiku dan kau pulang padaku?”

Tak ada yang tahu dan semua bisu

Malam Minggu

Malam minggu kali itu diawali oleh sore yang hampir kuyup;

Kita lintas jalan dengan cepat, dan terus berharap “Jangan lebur dulu, awan. Ada tempat yang harus dituju.”

Dan malam terus saja basah. Aku dan kamu dipisah janji temu —Gelisah mendapat ruang bebas ketika itu.

Malam minggu hampir berlalu

Ternya kau tunggu aku di jalan pulang; dengan satu helm dan kesabaran tambahan

Rintik sudah berhenti sejak sejam lalu

Sementara gelisahku baru saja berhenti ketika tatap beradu.

Malam minggu itu dingin, tapi ada yang hangat di dalam diri. Entah di mana, tak teraba.

Aku pulang dengan senyum di malam minggu

Berkatmu.