Untuk Ranum

Untuk Ranum

Ranum, foto ini untukmu. Aku rindu kamu. Aku bayangkan kita duduk di kursi itu, memandang danau yang hijau, bercerita tentang apapun. Lalu kita menghela nafas, membiarkan kata-kata menguap, membiarkan beban-beban runtuh sejenak. lalu kita memandang lagi. lalu kita merasa lagi. Ah, aku rindu tenang, Ranum..

Advertisements

Lorong

Lorong

Aku rindu main di lorong-lorong Taman Sari, dik Kinari. Aku ingat betapa kamu sangat kasihan dengan pengemis yang selalu diam di ujung lorong, dan tangan kecilmu memasukkan uang yang kau minta dari ibumu ke dalam kardus yag memang ada di sampingnya. Saat itu aku belajar ketulusan darimu. Mungkin nanti kalau aku ke sana, kamu sudah besar, dan pengemis itu sudah tidak di sana lagi.

Tulisan-Tulisan Yang Tercecer

oleh Agung Dwi Ertato

Di bawah pohon kemarau ia dengar kernyit dahi perempuan di ujung kota. “Ada selamat datang”, demikian ia dengar, “Juga selamat tinggal”. Di gerbang itu, perempuan ingin sekali mendengar selamat datang atau selamat tinggal. Tapi ia, perempuan yang mungkin tak dikenalnya, hanya bisa membaca papan jalan dan mungkin isyarat yang mungkin tak pernah ia dengar.

2012

 

“Barangkali,” katanya sambil memainkan ujung-ujung jari. “Barangkali kita harus,” ia terhenti. Telepon genggamnya berdering. Ia lihat pesan yang sampai padanya. “Barangkali kita butuh istirahat.” kata seseorang dalam telepon genggamnya. 

2012

Kubayangkan Tentang Kita

Kubayangkan kamu duduk berdua denganya di tepi danau. Mengamati daun yang bergoyang –hampir jatuh dari rantingnya-, atau sekadar mempertanyakan hal-hal yang jarang ditanya oleh kebanyakan orang.

Sementara aku berjalan-jalan –entah dengan siapa-, menanyakan hal-hal yang menarik. Menertawakan hal-hal yang luput dari perhatian. Atau sekadar membaca buku.

Dan kita tak akan lupa kisah-kisah kita yang telah lewat. Musim telah berganti, cerita kita terus bergulir. Tidak ada yang merasa kehilangan, karena kita tidak pernah merasa saling memiliki. Kita hanya menikmati waktu kita bersama.

Tentang rindu

Aku rindu perbincangan kita. Tentang dunia, tentang doa, tentang hidup, tentang hati.
Hujan selalu merintik setiap pagi. Aku suka hujan, tapi kalau terus menerus, aku sungguh rindu terang.

Meracau itu nikmat

Pada mulanya adalah salah dan kalah. Siapa yang tahu akhir? Dan doa hanya meluncur bila perlu. Siapa yang perlu? Manusia dan segala keanehannya jangan diharapkan, bisa mati capek nanti. Memang sudah waktunya sadar dan lekas bangun. Sudah bukan zamannya lagi untuk bermimpi. Mimpi hanya perlu jika sudah muak dengan nyata.

Ah, ribet! Sedang mata masih saja memiliki air; otak dan hati masih memiliki pertentangan. Tapi itu bagus. Artinya hidup masih normal. Ketika semua teratur dan damai itu pertanda akhir sudah dekat. –Meracau itu nikmat!– Read more