cerita sore hari

sore ini aku ingin bercerita. ingin mengoceh lebih tepatnya.

kamu tahu? antorium di sebelah rumah kita sudah lama sendiri.
ia merasa sepi.
Tuhan mendengarnya. maka ia turunkan hujan agar rumput liar tumbuh di sekelilingnya.
mungkinkah antorium mengobrol dengan rumput liar?
entahlah. lagipula, aku malas mendengar obrolan mereka.

jalanan sudah lama merasa kering. kaki-kaki dan roda-roda yang lewat tak pernah memberikannya air.
ia kehausan. ia marah. makanya kalau kau berjalan di atasnya tanpa alas, kau akan merasa panas.
Tuhan mendengarnya. maka ia turunkan hujan. ia biarkan jalanan itu minum sesukanya, bahkan hingga ia tak sanggup lagi minum.
jalanan tak lagi dahaga, tak lagi ia menuruti amarah.

aku sudah lama merasa sepi. sudah lama tak ada basa-basi di rumah kita. sudah lama kita hanya mengucapkan pisau.
rindu rasanya dengan basa-basi yang mengobati pilu.
Tuhan tahu. maka ia menurunkan hujan. ia biarkan hujan itu berteriak-teriak dengan gaduhnya.
keriuhannya menyelimuti rumah kita, menyelimuti kesepianku.
aku menikmati semuanya. menikmati kesenyapan riuh yang menenangkan itu.
aku tak lagi merasa sepi yang menyayat.

setelah hujan turun, kupu-kupu bermain di taman depan rumah kita. ia masuk ke ruang tamu. hinggap di antara bunga-bunga palsu. warnanya hitam-biru. kupu-kupu itu cantik sekali. adakah ia pertanda kedatanganmu?
semoga..

Advertisements

pagi ini, kamu
siang ini, kamu
malam ini, kamu.
senja pun kamu.

tak ada judul untuk sajak ini

: sajak ini hanya untukmu

aku telah lama berada di sini.
di puncak kesabaran yang kau dirikan.

denganmu aku tak ingin turun kepada amarah.
dengamu aku tak ingin lupa,
sungguh, aku tak ingin.

debaran jantungmu tak akan kurasa di sini.
tapi tak apa,
sosokmu tetap terlihat dari atas sini.
bahkan hingga tinggal bayangpun aku masih akan di atas sini.
dan ketika kau benar-benar sudah tak lagi terlihat
aku baru akan turun —mungkin pada penyesalan, mungkin pada kelegaan

sungguh, sekat antara kita adalah hal yang paling membuatku muak —begitu tipis sekaligus kokoh
kau, aku, begitu rentan di sini.
aku, kau, begitu tegar di sini.

satu yang selalu kupertanyakan,
adakah kau telah sampai di puncak?