Ini Tidak Seperti dalam Ceritamu

Aku sedang melakukan perjalanan dengan kereta. Tapi tak seperti dalam ceritamu, meski aku ingin sekali kisah perjalananku seperi ceritamu. Cerita tentang sebuah pertemuan dengan obrolan bermakna di kereta. Tapi aku tak jumpa siapa-siapa. Tidak ada “halo” atau perkataan apapun. Yang ada hanya diam.

Aku melakukan perjalanan pada sore menjelang malam. Dan aku sering sekali membayangkan penghuni rumah-rumah yang kulewati. Apakah mereka sedang bersantap bersama? Atau malah terasing di rumahnya sendiri? Tapi aku melihat kehangatan ketika perlahan-lahan satu per satu lampu rumah mulai menyala.

Semakin malam, kereta terasa semakin dingin saja. Aku tak begitu suka perjalanan kereta yang dingin begini. Akhirnya aku pergi ke kereta restorasi, mau beli teh panas. Kita kan belum pernah ke kereta restorasi. Iya, kan? Pertama kali aku ke kereta restorasi adalah bersama ayahku. Kami memesan mie. Kami tertawa karena ternyata sulit juga makan mie di kereta. Keretanya bergoyang terus. Kini aku sendiri dan hanya memesan teh. Kereta restorasi ini sepi. Aku tidak membayangkan apa-apa. Aku cuma ingin hangat. Di ceritamu, si laki-laki dan perempuan bertemu di kereta restorasi, kan? Si perempuan menegur si laki-laki. Tapi dalam perjalananku, aku tak menegur siapa-siapa. Juga tak ditegur siapa-siapa.

Di luar gelap total. Bintang tak kelihatan dari kereta. Mungkin kereta ini sedang melintas persawahan. Tapi kadang terlihat beberapa titik cahaya. Tandanya kami melewati beberapa rumah. Dan di kejauhan aku melihat kilat. Langit jadi sedikit tidak membosankan. Aku di kereta ini memang menikmati kilat itu, tapi mungkin di saat yg sama, di suatu rumah ada anak kecil (atau bahkan orang dewasa) yang gelisah karena kilat itu.

***

Aku menikmati tehku di kereta restorasi. Aku bosan dengan tempat dudukku. Aku melakukan perjalanan agar tidak bosan, tapi malah bosan di perjalanan. Aneh memang. Teh ini mengingatkanku padamu. Aku selalu memesan teh di warung kopi tempat kita biasa bertemu. Tapi sekarang-sekarang ini kita lebih biasa tidak bertemu. Kau dulu pernah bilang padaku, “Semakin dewasa, kita harus semakin siap kehilangan. Sudah suatu kepastian satu per satu orang terdekat kita akan pergi menjauh.”

Aku tak menyangka ternyata kau pun menjauh dari ceritaku. Entah aku atau kau yang pergi menjauh, tiba-tiba aku sadar kita sudah semakin asing. Dan saat ini, tiba-tiba aku rindu kamu. Aku tak pernah membayangkan kita menjadi asing. Aku pikir kau akan selalu di sana, siap untuk mendengar ceritaku atau pamer tulisanmu. Tapi nyatanya kau tak ada di sana ketika kini aku ingin bercerita. Tapi aku sadar, kau bebas memilih untuk berada di mana, kapan saja, dan bersama siapa saja. Aku tak berhak menahanmu di sana hanya agar aku dapat bercerita, kan?

Kertaku berhenti. Aku tak tahu kenapa. Aku juga tak tahu ini berada di mana. Di luar gelap. Tak ada titik lampu atau kilat. Aku jadi gelisah. Aku ingin pagi lekas hadir. “Habis gelap, terbitlah terang” begitu dulu Kartini  pernah bilang. Aku tahu. Tapi aku ingin terang dipercepat. Bodoh, ya?

Sekarang malam sudah mencapai puncaknya. Tengah malam begini sebagian besar penumpang yang lain tidur. Aku satu-satunya penumpang di kereta restorasi. Aku buka telepon genggamku, aku ingin mengobrol dengan temanku yang jauh di sana. Tapi setelah aku pikir-pikir, mungkin aku akan mengganggunya. Jadi, aku urungkan niatku. Akhirnya aku hanya mendengarkan lagu menggunakan headset. Cukup menghibur. Tapi aku masih rindu kamu. Masih lama akan terang. Tujuanku juga masih jauh.

Kereta ini masih saja dingin. Tehku sudah tandas. Sekarang aku hanya mendengarkan musik. Aku ingin tidak berpikir apa-apa, tapi tidak bisa. Aku memikirkanmu, memikirkannya, memikirkan mereka, memikirkan kalian. Mungkin ada sedikit cemburu yang mengusikku ketika aku sadar aku bukanlah apa-apa bagimu, tak seperti siapapun yang sedang bersamamu saat ini. Aku ingin menjadi sesuatu yang berharga; bagimu atau orang lain. Aku ingin dirindukan. Rindukah kau padaku? Tapi rindumu diam, sama seperti rinduku. Kalau rindu kita diam, bagaimana kita tahu kalau kita saling rindu? Tapi aku pikir, untuk apa kau tahu rinduku padamu? Aku bukanlah apa-apa bagimu.

***

Aku kembali ke kursiku dan tertidur. Ketika aku bangun, matahari sudah lembut bersinar. Aku melintasi persawahan. Aku melihat orang-orang sudah memulai kegiatan. Ada petani yang pergi ke sawah, anak-anak berseragam yang berangkat ke sekolah, dan orang-orang yang akan pergi bekerja ke kantor. Keretaku masih melaju. Masih dingin.

Aku suka dengan hangat sinar matahari yang menembus jendela. Kalau begini aku tak lagi begitu rindu kamu. Aku masih mengingatmu, tapi tanpa banyak rindu. Tidak seperti malam tadi. Kamu pasti baru selesai kerja dan bersiap pulang. Atau jangan-jangan kau sudah pindah kerja? Aku benar-benar sudah tidak tahu kabarmu. Aku sedih mengingatmu yang asing.

Bagaimana, sih, akhir ceritamu itu? Apakah si laki-laki dan perempuan itu akhirnya terus berhubungan? Atau akhirnya mereka berpisah juga? Aku tidak berpisah dengan siapa-siapa kalau nanti sampai stasiun tujuanku. Tidak juga dapat menjalin hubungan dengan seseorang. Aku sendiri saja. Tapi aku tidak kesepian. Sebentar lagi aku sampai di kota tujuanku, kota asing. Tapi aku suka. Aku bersemangat mengenal kota itu. Aku tidak akan menetap di sana. Hanya berkunjung. Justru itu aku semakin senang. Datang sebagai orang asing tanpa mencoba terasing.

Sudah kubilang, perjalananku ini tidak seperti ceritamu meskipun aku ingin sekali seperti ceritamu. Tak ada pertemuan, tak ada perpisahan, yang ada hanya perjalanan. Di perjalanan ini aku ingat ceritamu, lalu rindu kamu, lalu aku sampai. Di manapun kau berada, berbahagialah. Menulislah lagi. Aku ingin membaca ceritamu lagi.
Gambir-Wlingi

Advertisements

Teduh

Aku Teduh yang hadir ketika kau menikmati kopimu siang hari tadi di sebuah kedai yang rimbun. Kudengar kau gumamkan banyak kata yang sewujud rapalan mantra tentang kecewa. Sebuah dendang merdu yang dibawa angin tak cukup meredam kecewamu rupanya. Aku ingin sekali menemanimu menghabiskan kopi itu dan mendengar lebih lama rapalan anehmu itu. Tapi aku tahu, sebentar lagi aku akan hilang. Padahal aku juga ingin berbagi cerita denganmu. Betapa aku kecewa terhadap matahari itu. Aku ingin mengada selamanya di sini, tapi karena dia aku harus hilang ketika malam. Aku ingin sekali mengada dan menikmati malam. Kenapa aku harus hilang oleh sesuatu yang membuatku ada? Aku kira ini tidak adil. Tapi aku hanya Teduh. Siapa yang sadar akan hadirku kecuali mereka yang terganggu oleh terik? Tapi kemarin aku putuskan untuk berhenti kecewa. Aku ada dan aku sadar bahwa aku ada, itu sudah cukup. Lebih bahaya jika aku ada tapi menyesali keberadaanku. Aku akan lelah sendiri karena tak peduli betapapun aku kecewa tentang keberadaanku, aku akan tetap ada. Aku ada untuk mereka yang ingin berteduh. Aku tahu aku berguna dan aku bahagia karenanya. Aku kira hal yang tidak menyadari kegunaannya patut dikasihani. Aku hampir mengasihanimu hingga kau hembuskan nafas dan mengurai kekecewaanmu. Ketika kau merelakan hal-hal yang memang harus direlakan, aku lega. Kopimu tandas tepat ketika aku harus menghilang. Bagiku senyummu di sesapan terakhir cukup untuk menjadi pemandangan terakhir yg kulihat hari ini.

Sore di Cikini

Dari dulu aku sudah suka sore. Sore adalah masa ketika kesibukan mulai terurai. Sore seperti jeda antara siang dan malam. Aku selalu menyukai sore, apalagi sore di Cikini. Bagiku, sore di Cikini itu manis. Banyak kenangan terukir di sana.

Aku memang jarang hafal jalan di Jakarta. Tapi aku tahu cara ke Cikini, baik berkendara menggunakan mobil atau motor, maupun menggunakan kereta. Aku lebih suka menggunakan kereta. Terasa lebih syahdu. Hahahaha. Biasanya aku ke Cikini untuk menuju TIM. Seperti kemarin.

Trotoar Cikini

Kemarin siang aku ke TIM bersama teman-temanku. Kami akan menonton film-film pendek yang dimainkan di Kineforum. Pemutarannya pukul 14.15, tapi kami sudah tiba di sana sebelum pukul 13.00. Kami takut kehabisan tiket. Dan memang banyak jumlah pengunjung yang datang. Kami senang menonton filmnya. Filmnya hangat. Ceritanya bagus dan menyentuh. Sepertinya saat ini sudah jarang film yang menyentuh perasaan tanpa ada unsur asmaranya sepeti film yang tadi kami saksikan.

Kami pulang pada sore. Kami bertiga. Aku dan satu temanku pulang, sedang temanku yg satu lagi akan melanjutkan perjalanan ke GI. Mumpung hari minggu, hari bebas. Ia akan menonton film lagi. Perjalanan menuju Stasiun Cikini memang jalan yang itu-itu saja, tak ada yg berubah. Tapi setiap pulang dari TIM menuju stasiun Cikini, selalu ada yang menarik perhatianku. Entah pedagang yang mulai membuka toko di pinggir jalan, daun jatuh, atau sekadar tukang ojek yang mangkal menunggu penumpang. Pulang dari TIM hatiku selalu senang.

Aku senang menonton pertunjukan bagus di TIM. Seandainya tidak bagus pun aku senang ke TIM. Tempat aku menikmati banyak kesenian, menemukan buku bagus, serta diskusi sastra. Di sana ada toko buku Bang Jose serta Pusat Dokumentasi Sastra H.B Jassin; dua tempat yang sangat berkesan untukku. Ada pula anak-anak kecil yang latihan menari. Aku suka menyaksikan mereka menari. Hal-hal tersebut membuat hatiku ringan. Aku memang tidak bisa berkesenian. Aku tidak bisa menggambar, menyanyi, menari, melukis, atau yang lain. Tapi aku suka sekali menikmati karya seni. Aku kadang iri pada pelaku seni, tapi aku sadar diri, kok. Aku bersyukur masih banyak yang berkesenian.

Menuju Stasiun Cikini

 Coba kau bayangkan, sudah ada berapa sastrawan dan seniman besar Indonesia yang sering menghabiskan waktunya di TIM? Banyak sekali! TIM seperti pusat orang berkesenian. Salah satu tempat di Jakarta yang membuat kita merasa bebas. Setidaknya, begitu bagiku. Dan aku selalu senang menghabiskan soreku di Cikini.

Ceritaku ini memang tidak jelas. Tidak beralur serta memiliki narasi yang baik. Foto-fotonya juga tidak bagus. Tapi aku memang tidak berniat menghasilkan tulisan yang bagus. Aku hanya ingin bercerita tentang sore di Cikini dan betapa aku menyukainya 🙂

Cikini!

Ranum, Ini Ceritaku

Selamat pagi, Ranum. Maaf aku bohong. Di surat terakhirku, aku bilang bahwa aku akan mengirimimu surat lagi setelah surat tersebut, nyatanya tidak. Maaf juga surat ini tidak dimulai dengan menanyakan kabarmu, tapi dibukan dengan permohonan maaf. Apakah kamu merindukan ceritaku, Ranum? Sudah lumayan lama aku tidak bercerita padamu. Jadi, apa kabarmu?

Aku sudah lama berhenti mencatat hal-hal yang terjadi di hari-hariku. Jadi sesungguhnya aku agak-agak lupa tentang apa yang terjadi dalam hidupku selama aku tidak mengabarimu. Tapi tetap saja aku mampu bercerita padamu, Ranum. Ada beberapa kejadian yang ingin aku ceritakan kepadamu, kebanyakan tentang pertemuan.

Beberapa bulan yang lalu aku bertemu dengan sahabat-sahabatku di tempat kerja salah satu temanku. Teman kami, sutradara muda, baru saja pulang dari Cannes dan membawa kemenangan. Kami semua bangga padanya. Di sela kesibukan yang banyak menyita waktu, akhirnya kami berkumpul juga. menyempatkan waktu untuk merayakan keberhasilannya, dan tentu saja juga melepas rindu. Ada banyak sekali cerita di sana, Ranum. Tapi anehnya kami sedikit sekali membicarakan filmnya.

Kami membicarakan tentang hubungan dan prinsip. Tentang hal-hal yang terjadi di seputar kami. Wah, seru sekali. Aku tak banyak bicara malam itu. Aku lebih suka mendengar. Perbincangan seru terjadi antara temanku yang sutradara muda itu dengan temanku yang lain. Tentang cemburu, tentang pasangan, tentang kesetiaan, tentang logika, tentang komitmen, dan tentang nafsu. Ada juga pembicaraan serius seputar politik, sastra, dan semacamnya. Seru, bukan? Banyak tawa terurai malam itu. Kami berbincang hingga larut, hingga dini hari. Bayangkan, Ranum! Sudah lama sekali aku tidak berbincang hingga lupa waktu. Kami berhenti karena salah satu dari kami harus bekerja pagi-pagi sekali. Lalu kami berfoto. Terakhir kali kami berkumpul adalah setahun yang lalu, ketika temanku, si sutradara muda, pulang dari festival film di Berlin. Dulu kami berbicara tentang cita-cita, tahun ini kami sedang merintis jalan menuju cita-cita kami. Entah apa yang akan kita bicarakan di pertemuan berikutnya yang entah kapan. Entah telah jadi apa kami saat itu. Kami bahagia malam itu, kami akan bahagia di pertemuan selanjutnya.

Dan bagaimana denganmu, Ranum? Kapan terakhir kali kamu bertemu dengan sahabatmu? Aku penasaran apa yang akan kalian bicarakan. Dan kapan kita akan bertemu, Ranum? tapi, aku rasa kita tak harus bertemu raga. Dalam surat-surat kita, jiwa kita bertemu dan bertaut. Bukankah, begitu? Tapi tetap saja, sih, aku ingin sekali bertemu denganmu. Lalu kita akan berbincang hingga lupa waktu, atau berjalan jauh, atau duduk dekat jendela sambil menyeruput kopi buatanmu.

Ngomong-ngomong, apakah kamu mudik? Kau lihat di berita, kan, betapa menghebohkan peristiwa mudik tahun ini. banyak yang menderita karena terjebak macet berpuluh-puluh kilometer panjangnya. Aku dan keluargaku mudik juga, tapi tak kena macet karena kami naik pesawat. Sebenarnya yang mudik hanya orangtuaku, sedangkan aku hanya mengikuti mereka. Tapi, aku sangat menikmati perjalanan mudik. Aku telah jatuh cinta kepada tanah kelahiran orangtuaku. Aku meresapi perjalanan dari bandara menuju rumah nenekku (Kakekku sudah meninggal). Untuk sampai di rumah nenek, kami haru melewati pegunungan. Dan aku menyukai setiap kelokan dan setiap bentuk rumah yang aku lewati. Ada suasana menyenangkan di desa nenekku. Setiap pohon jati seolah menyambut kami. Dan di rumah nenek sudah banyak saudaraku yang lain.

Di kampung ayah ibuku, selalu ada hiburan rakyat di libur lebaran. Mungkin orang dari kota banyak membawa uang lebih sehingga mampu menyewa hiburan. Aku menonton tarian yang menceritakan asal-usul daerah itu, dan aku menyukai salah satu penarinya. Aku memang sangat suka penari yang dapat menari dengan seluruh jiwanya, Ranum. Penari itu masih muda, lelaki, ia memerankan salah satu pendekar. Gerakannya memeseonaku, Ranum. Gerakan tangan, posisi kaki, kepala, dan badannya semuanya indah!

Aku bukanlah penari, dan aku tidak dekat dengan dunia tari. Ayah, ibu, atau saudaraku tidak ada yang penari. Tapi aku suka melihat orang menari. Aku jadi ingat, lelaki pertama yang aku sukai adalah penari di kampung ayah ibuku. Dia jauh lebih tua dariku. Dulu aku sekitar umur enam tahun, dan dia sudah remaja. Dia penari dan memang sering tampil di perhelatan. Dia bukan penari profesional, hanya penari biasa saja. Penari kampung. Tapi aku terpesona oleh tariannya.

DSC_0040
ini penari yang tariannya aku suka. Ia masih sangat muda 🙂

Kakekku pernah memiliki seperangkat gamelan, dan gamelan itu dimainkan setiap malam jumat dan malam minggu. Dia selalu datang ke rumah kakekku, bukan untuk bermain gamelan, tapi ia melayani pemain gamelan. Biasanya lelaki yang sudah berumur yang bermain gamelan, dan para pemuda yang mengantarkan penganan kecil dan minuman, entah teh atau kopi. Aku senang sekali melihatnya di rumah kakekku. Waktu kecil, aku takut sekali dengan suara gamelan. Suara gamelan membuat aku merasa kecil dan asing. Tapi kehadiran dia membuatku berani keluar kamar. Hahahahaha. Cinta monyet kalau kata orang.  Dia cepat akrab denganku. Aku rasa dia menyukai anak kecil. Aku masih ingat, suatu malam dia dan aku duduk di halaman. Desa kakekku dulu masih terbelakang, belum banyak listrik. Langit malam benar-benar terlihat sangat indah dari sana. Aku dan dia memandang ke langit. Aku menyukai langit malam yang penuh bintang, dan dia berkata “Kamu mau balik ke Jakarta? tinggal di sini aja. Di sana gak ada bintang kayak di sini.” Dan kenangan itu masih menempel kuat sampai sekarang.

Orang yang aku suka itu kini entah di mana. Bintang juga sudah tidak terlalu kentara jika dilihat dari sana. sudah banyak polusi cahaya. Halaman rumah kakekku sudah banyak berubah. Tapi kenangan seprerti lem, menempel di sana-sini. Tapi mudikku kemarin bukan hanya sekadar menghidupkan kenangan, tapi juga mencari cerita baru. Aku bertualang, Ranum. meski hanya di desa dan masih dekat saja. Tapi aku menemukan hamparan sawah yang indah sekali. Aku pergi pagi-pagi sekali, dan aku melihat matahari terbit di persawahan yang dikelilingi bukit-bukit ijau, dan di sela bukit-bukit itu masih terdapat kabut. Aku ingat, pagi itu langit jingga lembut. Petani mulai berdatangan ke sawah dan aku sangat-sangat menyukai momen itu.

Aku melanjutkan perjalanan, kali ini agak jauh. Untung aku naik motor bersama adikku (Aku tidak bisa mengendarai motor), jadi tidak terlalu melelahkan. Aku sampai di bendungan yang terbentuk dari mata air. Bendungan itu indah sekali, Ranum. Sungguh! Ia dikelilingi bukit hijau, airnya juga hijau, ada teratai di salah satu sisisnya yang jauh dariku. Matahari mulai naik, tapi masih lembut. Dan aku menikmati mandi cahaya matahari pagi di sana. Bendungan itu masih sangat sunyi. Mungkin karena masih pagi. Kamu harus ke sana, Ranum. kamu pasti suka! Tapi kalau aku tinggal di sana terus menerus, mungkin aku tak akan begitu meresapi keindahannya. Orang desa yang dibawa ke kota penuh gedung indah saat malam hari juga pasti menyukai kota. Ya begitulah, kita lebih tertarik pada yang asing.

Aku baru selesai membaca buku Emansipasi, kumpulan surat-surat Kartini, terjemahan Sulastin Sutrisno. Dulu aku pernah membaca yang versi tahun 1970-an, tapi sepertinya lebih tipis dari yang sekarang. Kartini adalah salah satu idolaku. Dulu aku terpesona pada pemikirannya yang jauh melampaui wanita pada masanya. Ia sudah memikirkan tentang ketidakadilan yang dialami wanita jawa karena poligami, dan betapa berkuasanya lelaki. Ia sangat menyukai sastra dan dapat memahami keindahan hidup. Ia menceritakan ironi yang ia lihat dan ia sangat pandai menyampaikannya. Tulisannya beberpa kali dimuat di majalah Belanda. Dan dia sebenarnya tahu bahwa tullisannya hanya dipakai iklan bagi majalah-majalah itu untuk menarik pembaca. Kartini adalah wanita yang cerdas. Dia sangat menghargai pendidikan. Dialah yang mengatakan bahwa seorang wanita perlu mendapat pendidikan karena dari perempuanlah anak-anak lahir dan pertamakali mendapat pendidikan. Aku ingat kata-kata Kartini “Tidak menyimpan dendam, itulah kebahagiaan yang sebenarnya.”

Tetapi, kini, selesai membaca surat-suratnya, aku merasa sedih. Aku mengerti kesedihan yang menyelimuti Kartini. Dia sangat ingin membuat sekolah untuk para perempuan. Untuk itu, ia berkeras untuk mendapatkan pendidikan sebagai guru di Belanda. Akhirnya pemerintah mengabulkan permintaannya ini, tetapi ayahnya sakit dan tidak mengizinkan Kartini pergi ke Belanda. Akhirnya ia dan adiknya batal pergi ke Belanda. Alih-alih ke Belanda, Kartini dan adiknya, Roekmini, akan pergi ke Batavia. Di Batavia dia akan mendapat pendidikan sebagai guru. Mengingat status Kartini sebagai anak Bupati, pergi ke Batavia masih merupakan hal baru. Tapi ternyata ia juga batal ke Batavia karena ia menikah dengan Bupati Rembang. Dan ironisnya, ia menjadi istri kedua padahal ia berkali-kali bersuara keras menentang poligami. Hal ini aneh sekali. Tapi Kartini selalu meninggikan suaminya dalam surat-suratnya. Satu-satunya cita-citanya yang tercapai adalah ia memiliki sekolah yang awalnya ia buka di Jepara, lalu kemudian setelah menikah ia buka di Rembang. Aku merasa batalnya kepergian Kartini ke Belanda atau Batavia merupakan hal yang sudah direncanakan. Memang sulit untuk menjadi pemula. Kasihan Kartini, tapi setidaknya ia telah memiliki sekolah dan mengajar beberapa anak perempuan.

Aku ingin seperti Kartini. Ia memiliki kata ajaib untuk mnjaga semangatnya, yaitu “Aku mau!”. Dan aku menyukai karakter Kartini yang terbuka dan rendah hati. Tapi Kartini tetaplah wanita Jawa. Ia merendah dan menyembunyikan kesedihannya yang terdalam. Membaca surat-suratnya seperti memasuki hatinya, pikirannya. Tapi aku sedih karena sejak awal aku tahu ia tidak akan ke Belanda dan akan menjadi istri kedua Bupati Rembang. Jangan-jangan nanti kalau aku sudah meninggal dan cucuku membaca surat-suratku untukmu dia juga akan merasa memasuki hidupku. hahahahaha.

Maafkan aku, Ranum. Suratku kali ini tidak menarik dan terlalu panjang. Aku juga tidak tahu kenapa begitu. Aku sedang menulis cerita pendek tentang kura-kura. Entah apakah tulisan itu akan selesai atau tidak. Aku hanya ingin menulis tentang kura-kura dan itu tiba-tiba. O iya, waktu mudik, aku main ke pantai sepi yang indah. Kapan-kapan aku ajak kau ke sana.

20160710_065556

Akan kubuatkan satu sajak yang isinya deburan ombak hanya untukmu. Bahagialah, Ranum.

 

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

Ranum, Tunggu Sebentar Saja

Ranum, aku ingin bercerita banyak padamu. Tapi aku lelah sekali. Jiwaku yang lelah. Terlalu banyak menggenggam kecewa agaknya. Tapi masih banyak senyum manis yang kudapat. Besok, aku akan bercerita padamu tentang yang terjadi pada jeda suratku. Aku harap kau masih menunggu suratku. Aku harap kau masih menungguku.

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

:untuk bukan-semar

Aku cemburu dalam diam yang berjarak. Tapi apa gunanya? Kita hanya akan berakhir kepada ketiadaan, bukan? Kita adalah kesia-siaan.