Gunung dan Telaga

Sama diam.
Tak ada yang bisa diceritakan di antara mereka
Meski banyak yang mereka saksikan dan dapat mereka bagi
Tapi diam adalah berbagi
Berbagi senyap

Satu dari mereka gagah menantang langit
Sedang yang lain merendah sama rata dengan bumi.
Mereka tak sama dalam hal pandangan meski sama dalam rasa.

Pohon beringin yang ada di sebelah tenggara telaga itu besar bagi telaga tapi titik bagi gunung.
Haruskah gunung menjadi bukit dan telaga menjadi laut untuk memiliki pandangan yang sama?

Gunung dan telaga sama mencinta langit
Sebab itu mereka sama dongak
Tapi mereka tak sama mencinta bumi.

Doa pohon pada langit adalah agar turun hujan,
agar gunung merasa apa yang danau rasa.
Doa rumput pada bumi adalah agar ada pergeseran lempeng,
Sehingga telaga dapat merasakan bagian tubuh gunung.

Tapi doa mereka di dengar Tuhan.
Tuhan tersenyum mendengar doa makhluknya.
Maka ia biarkan saja semua seperti apa adanya

Agar mereka belajar dan mengerti

Advertisements

Mbah Pinah

Kamu tahu rasanya mencintai? Semoga kamu tahu. Karena apa jadinya manusia jika tak pernah mencintai? Tapi pernahkah kau merasakan bagaimana rasanya dicinta? Aku pernah. Tapi tidak lama karena alasan-alasan yang aku sendiri tidak ketahui. Rasanya mencintai sekaligus dicintai itu sungguh nikmat. Jauh lebih nikmat daripada hanya sekadar mencintai tanpa dicinta, atau dicintai tanpa mencinta.
Kamu mungkin menganggapku sok tahu. Tapi aku bukan lagi sekadar makan asam garam kehidupan. Aku sudah mengolah asam garam tersebut menjadi makanan kesukaanku. Sudah lama sekali manis tidak mampir di hidupku. Atau jangan-jangan bukannya tidak mampir, tapi hanya aku saja yang tidak sadar bahwa itu manis? Aku tidak tahu.
Waktu memberiku terlalu banyak kesempatan. Ia memaksaku menyaksikan dunia berubah. Ia masukkan aku ke dalam cerita yang amat panjang bagai tanpa akhir. Aku sering sekali berharap bahwa akhir dari cerita yang sedang kumainkan adalah kebahagiaan, atau paling tidak bukan sekadar kekosongan. Tapi waktu tak memberikanku sedikit celahpun untuk mengetahui akhir dari cerita ini.
Aku ingin seperti yang lain yang telah sampai pada akhir masing-masing. Aku kadang tak peduli lagi tentang bagaimana akhir yang akan ku dapat. Sendiri sudah membuatku lupa pada gairah kebahagiaan. Sendiri adalah kutukan sang waktu yang entah kenapa jatuh kepadaku.
Aku selalu ingat masa-masa manis ketika sedang merasa terlalu sendiri. Seperti sekarang ini. Aku ingat bagaimana rasanya hatiku tersenyum bahagia 80 tahun yang lalu. Sudah lama sekali ternyata hatiku tak sebahagia itu. 80 tahun yang lalu. Hatiku resmi memilih seorang pria untuk dicintai.
Aku sedang berjalan ke rumah pamanku kala itu. Aku berjalan sendiri tanpa seorang teman karena memang aku tak memiliki banyak teman. Rumah pamanku itu agak jauh dari rumah orang tuaku. Aku harus ke rumah pamanku untuk mengambil bibit pesanan ayah. Aku sebenarnya keberatan. Tapi perintah ayah adalah sebuah keharusan. Maka aku berangkat sendiri.
Lelaki itu, ya, pria pujaanku. Ia sedang berjalan pulang dari ladangnya. Kami berjalan bersama. Mengobrol ini itu tanpa lelah. Saat aku berbicara dengannya, seakan semua berjalan begitu lama. Seakan jarak yang kutempuh memendek. Ia berhasil memutarbalikkan akal sehatku. Ia adalah pria pertama yang membuat jantungku berdegup kencang. Kala itu, benih-benih cinta sudah mulai tumbuh.
Dia adalah tetangga pamanku. Karena dia, aku jadi sering main ke rumah pamanaku. Aku jadi sering pergi dari rumah. Semua itu karena dia. Karena dia membolak-balik semua akal sehatku. Dia mengaduk-aduk perasaanku. Dia memberikan warna-warna indah yang sebelumnya belum pernah ku tahu.
Semua hal yang ada di dirinya membuatku suka. Caranya berbicara. Caranya tertawa. Caranya merokok. Aroma tubuhnya. Tatapan matanya. Semuanya membuatku terpesona. Aku tahan berlama-lama mengobrol dan memandangi dirinya.
Tapi hidup selalu punya jalannya sendiri. Aku tak dapat hidup bersama dengannya. Aku tak dapat menghabiskan sisa umurku dengannya. Aku tak dapat merasakan dekapannya. Aku hanya bisa melihatnya pergi menjauh. Perlahan. Menghilang.
Ayahku tahu tentang perasaanku kepada lelaki itu. Ayahku marah besar saat mengetahuinya. Aku dianggap aib bagi keluarga. Ia tidak habis piker anggota keluarganya ada yang sepertiku. Aku tak mengerti kenapa ayah marah. Aku tak mau mengerti. Kenapa cinta harus menyatukan yang berbeda jenis? Kenapa tidak bias menyatukan yang sejenis? Memangnya salah jika aku mencintai lelaki itu? Rasa tidak dapat dipaksa bukan?
Detik itu aku memulai kesendirianku. Aku pergi dari rumah. Ayah mengusirku. Aku mengusir diriku sendiri. Lelaki itu, hingga akhir hidupnya tidak mengetahui bahwa aku, lelaki yang sering bercengkrama dengannya, mencintainya. Ia menikah dengan perempuan cantik dan baik. Aku bahagia melihatnya bahagia. Aku tak mencari lelaki lain untuk aku cintai. Cintaku berhenti di dirinya. Dan aku tidak menyesalinya.
Dia adalah alasan kenapa aku tetap sendiri hingga saat ini. Dia adalah alasan kenapa aku tetap bernapas hingga detik ini. Kenangan-kenangan bersamanya membuatku tetap hidup. Di adalah malaikatku hingga kapanpun. Ia tak akan pernah menjelma perih di hidupku karena aku mencintainya.