Rumah

Di pagi yang dingin ini

Rebahkanlah katakata

Sebab makna telah kucerna

Dalam kepulan kopi yang baru saja kau seduh

Dalam nafas yang baru kau hembus

Dalam diam yang baru kau cipta

Kita 

tiada

Advertisements

Because

We talk too often; we didn’t realize the meaning was gone (long ago)

Cukilan Cerita Diri

Seminggu ini lebih banyak hari hujan daripada kering. Aku suka hujan, tapi kalau keseringan ya ternyata suntuk juga. Hari menjadi terlalu kelabu dan dingin. Tapi sesungguhnya aku tidak ingin membicarakan hujan. Hari-hari hujan ini membuat senduku makin kelabu.

Sebenarnya tak tepat juga kalau aku bilang sendu. Lebih tepat kalau aku bilang khawatir. Kekhawatiranku ini disebabkan oleh ketakutanku. Aku tak cukup pintar dan aku merasa bodoh sekali dihadapan orang yang aku takuti ini. Beliau pintar sekali dan aku pernah bertindak bodoh di hadapan beliau. Harusnya aku tak perlu takut, aku tahu. Tapi…entahlah. Aku takut menjadi bodoh di depannya. Benar-benar takut. Aku takut salah bicara, bahkan salah berpikir.

Tapi bagaimana lagi? Aku tak bisa menghindar, satu-satunya cara menyelesaikan ini adalah menghadapinya. Sepertinya aku harus berdamai dengan ketakutanku agar kekhawatiranku tidak memperbudakku.

Dulu aku sempat menghindari beliau, tapi Tuhan sungguh Mahabercanda. Semesta mempertemukan kami lagi dalam satu penelitian. Bukan aku yang memilih, tapi orang yang memiliki kuasa lebih dariku. Kalau dipikir-pikir lagi, kalau aku melihat dari kacamata orang ke tiga, apa yang terjadi denganku sungguh lucu. Ironi yang lucu. Yasudahlah, syukuri saja. Toh waktu akan terus bergulir. Pilihanku hanya dua: melakukan yang terbaik dengan belajar lebih giat atau tetap menjadi orang bodoh. Aku memilih pilihan yg pertama tentu.

Hari masih hujan. Sejak pagi udara dingin. Tapi setelah aku selesai menulis ini, kekhawatiranku sudah reda.