romance XVII : puisi di balkon sepi

angin yang berlarian mengabarkanku tentang seuatu yang membuat degup jantungku melonjak. awan yang gelap loteng yang diam jantungku mendadak berhenti melonjak. dia berjalan gontai kembali. burung hantu memutar kepalanya tanpa suara dengan jalannya yang gontai angin berhenti berlari, kabar tak jadi datang, aku terduduk lemas di balkon rumah tua yang membesarkanku. kamu sedang apa? menulis […]

Romance XVI : ode mangkuk kosong

aku tulis sajak ini ketika seorang anak kecil berjalan gontai di antara etalaseetalase penjual makan makanan untuk perutperut buncit kenyang, bukan untuk perutperut buncit lapar. dan aku bersyukur dia tidak mempunyai perut yang buncit, hanya rambutnya yang merah terbakar legam matahari. ku tatap matanya yang menatap kosong mangkuk kosong yang sebenarnya sedari tadi menatap anak […]

Romanxce XV : es jeruk di atas meja

es jeruk di atas meja diseruput mulutmulut kosong makna. habis. meja bundar sedih tak ada orange, tak ada asam bongkahan es di siang hari gelasgelas bersih berembun sepi. embun mengobrol dengan gelas, meja kemudian tentang es jeruk yang malang -berumur pendek dalam mulutmulut kosong- es jeruk di atas meja romantisme ketika alunan hujan jadi tuts […]

Romance XIV:hati

+ bukankah aku pernah berkata, hati-hati saat meberi perhatian? – penat, kau tahu. aku sedang penat. aku pun tak tahu apa aku memberi perhatian atau tidak. yang ku tahu hanyalah hati yang dingin di pinggir danau yang sepi. + karenanya aku bilang hati-hati! “hati-hati” bukan kata tanpa makna Arkhe & galuh