romance XVII : puisi di balkon sepi

angin yang berlarian mengabarkanku
tentang seuatu yang membuat degup jantungku melonjak.

awan yang gelap loteng yang diam
jantungku mendadak berhenti melonjak.

dia berjalan gontai kembali.
burung hantu memutar kepalanya
tanpa suara dengan jalannya yang gontai
angin berhenti berlari,
kabar tak jadi datang,
aku terduduk lemas di balkon rumah tua yang membesarkanku.

kamu sedang apa?
menulis si awan??
atau memahat air laut??
aku sedang memberi isyarat bunuh diri
balkon rumah yang lama membesarkannku diam dalam ungunya kematian
aku tahu kamu menyukai ungu, itulah kenapa aku ingin menyatu dengan ungu.

kau mau ikut??
tak usah.
aku ikut tanpa mengajakmu
aku tahu aku sedang sendiri
terlantar di loteng tanpa sudut
kuakhiri semua suara angin yang berbisik tanpa arah
seperti kuakhiri puisi ini dengan titik.

Arkhe&Galuh

Advertisements

Doa

ku berdoa untuk engkau yang telah mati
dalam mimpiku tadi malam

Galuh Sakti Bandini

Romance XVI : ode mangkuk kosong

aku tulis sajak ini ketika seorang anak kecil
berjalan gontai di antara etalaseetalase penjual makan
makanan untuk perutperut buncit kenyang,
bukan untuk perutperut buncit lapar.

dan aku bersyukur dia tidak mempunyai perut yang buncit,
hanya rambutnya yang merah terbakar legam matahari.
ku tatap matanya yang menatap kosong mangkuk kosong
yang sebenarnya sedari tadi menatap anak kecil rambut merah tanpa perut buncit.

dia ingin makan, dengan panas
mankok ingin panas yang dimakan
aku ingin dia makan, aku jadi panas!.

Arkhe & galuh

Romanxce XV : es jeruk di atas meja

es jeruk di atas meja diseruput mulutmulut kosong makna.
habis.
meja bundar sedih tak ada orange, tak ada asam
bongkahan es di siang hari
gelasgelas bersih berembun sepi.

embun mengobrol dengan gelas, meja kemudian
tentang es jeruk yang malang -berumur pendek dalam mulutmulut kosong-

es jeruk di atas meja
romantisme ketika alunan hujan jadi tuts piano
dimainkan indah.
pohonpohon pada sudut mata,
kabut pagi pada air sungai yang mengalir indah.

hujan memiliki hati setiap helai daun rapuh
yang sebentar lagi akan berpisah dari sang ibu
hati dimiliki oleh hujan untuk setiap ulat yang memakan daun.
aku rindu es jeruk buatan ibu,
ujar ulat hijau kecil menggeliat.

arkhe & galuh

Romance XIV:hati

+ bukankah aku pernah berkata,
hati-hati saat meberi perhatian?

– penat, kau tahu. aku sedang penat.
aku pun tak tahu apa aku memberi perhatian atau tidak.
yang ku tahu hanyalah hati yang dingin di pinggir danau yang sepi.

+ karenanya aku bilang hati-hati!
“hati-hati” bukan kata tanpa makna

Arkhe & galuh

kau

: kepada ibu

selusin pensil,
seratus kertas,
beribu kata,
tak akan sanggup menggambarkanmu
yang menantiku dibawah pohon kala siang begitu jahat
dan aku hanya datang dengan keluh yang liar sepulang sekolah
saat aku masih menggunakan baju putih-merah

sebuah pohon,
sepuluh pemahat,
sejuta desain,
tak akan ada yang mampu mengabadikanmu
yang menawarkan senyum setiap hari sehabis menghadap Tuhan
saat matahari bahkan belum berani menunjukkan diri

seorang diri,
tiga otak,
satu hati,
sepuluh jari,
tak akan pernah sanggup membentuk kata,
bercerita lewat kertaskaca tentangmu
yang mengantar kepergianku dengan senyum dan doa dibawah rintik gerimis
saat matahari lari ke belahan bumi lain, dan rembulan berjalan santai ke langit atas rumah
aku yakin hatimu mencoba yakin saat melihatku melangkah pergi
membawa mimpi ke dunia nyata
dan aku hanya melambaikan tangan saat kau mengatupkan kedua tanganmu ke atas kepalamu
tadinya tangan itu ingin memeluk tubuh ini,tapi kau takut tak bisa melepasnya. aku tahu itu

langit mencintaimu, percayalah.
buktinya ia menyamarkan airmatamu dengan airmatanya.
dan aku tetap melangkah pergi menjauhi gerbang hitam yang setengah terbuka.
aku akan kembali, suatu saat nanti, melewati gerbang hitam yang entah masih terbuka atau tidak.
semoga kau ada di sana dengan tangan terbuka

kalu aku..

kalau aku boleh,
aku masih menatap kagum dirimu saat kau tersenyum
-meski tanpa makna-

kalau aku bisa,
aku akan tertawa mengimbangi tawamu
-yang menggema di ruang tanpa batas-

kalau aku sanggup,
aku ingin merebutmu dari genggaman waktu,
ganti aku yang menggenggam

kalau aku dia,
aku buat hanya hatimu saja
yang meraja dihatiku

kalau aku engkau
aku baringkan hatiku di angin
hinggap di daundaun
termakan ulat

kalau aku angin
aku terbangkan hatimu
hanya ke hatiku

wanita besi

aku hanyalah wanita
bertopengbesi berukir senyum
hatiku hampirhampir aku lapisi besi
tapi tak jadi, aku takut lebih besi dari besi

mataku adalah mata fana
matahati hanya mengintip malumalu
yang mampu melihat kehakikian sebuah fana

rasaku adalah rasa besi kepada air
karenanya aku enggan mengeluarkan airmata
takut berkarat

sebesibesinya aku
jantungku masih berdetak normal
memompa darah ke otakku yang kadang beku
membuatku sadar aku adalah wanita besi
yang enggan menangis
yang tahan goresan pisaupisau kata

sesadarsadarnya aku
aku masih bermimpi menjadi wanita lembut
yang tak takut menangis
saat tergores sembilu katakata

sesakitsakitnya aku
saat tergores pisaupisau kata
aku masih mempunyai ukiran senyum di topengku
yang statis dan tak akan pernah berubah.

Galuh Sakti Bandini