Secuil Kenangan dari Liburan Lalu

 

WP_20160110_019(12)
Gumuk Pasir, Yogyakarta

“Hanya ada dua tempat di dunia yang memiliki gundukan pasir seperti ini. Artinya, hanya di dua negara itu kamu bisa berseluncur di atas pasir, dan kau sekarang sedang berada di salah satunya. Lalu, kau hanya ingin memotret saja?” katanya waktu itu. Pertanyaan itu masih terngiang olehku hingga saat ini. Aku ingat aku menjawab “Memang apa rasanya berseluncur di atas pasir?”, dan dia jawab “Rasakan sendiri.” Lalu aku mencobanya. Hidup hanya sekali, dalam hidup yang hanya sekali itu belum tentu kita mendatangi tempat yang sama lebih dari sekali. Iya, kan?

Dan aku tidak menyesal karena mencobanya. Menyenangkan! Aku harus lebih sering mencoba hal baru. Keluar dari rutinitas itu perlu.

Advertisements

Kutipan Cerita dalam Kepala: Percakapan

 

DSC_0057

Gadis itu membuka telepon genggamnya. Menekan nomor-nomor, lalu berbincang dengan teman baiknya di seberang sana.

“Aku kesepian. Temani aku mengobrol.”
“Memang kau sedang di mana? Jangan merasa kau seorang diri. Kan kau punya teman.”
“Di danau tempat biasa.”
“Di danau sepi itu? Pantas saja. Kau salah mengartikan sepi hingga merasa kesepian.”
“Lalu aku harus apa? Tolong temani aku.”
“Menemanimu di sana? berada di sisimu saat ini adalah suatu kemustahilan. Kita sudah beda kota.”
“Ah, sebenarnya kita tak hanya beda kota. Kita berbeda dalam banyak hal.”
“Termasuk dalam cinta? Hahahaha”
“Mungkin saja. Kau mencintaiku tidak?”
“Memang kau tahu apa itu cinta?”
“Sesuatu yang indah dan membahagiakan?”
“Mmm…begitu. Aku tak berani mengatakan aku mencintaimu karena cinta biasanya mempersatukan, sedangkan kita berjauhan begini.”
“Tapi aku menyayangimu. Aku masih merasa nyaman bertukar kata denganmu.”
“Lantas, apakah itu bisa disebut cinta?”
“Aku tak tahu”
“Mungkin kita juga berbeda dalam cinta”
“Mungkin juga tidak.”
“Mungkin begitu”
“Kau membuat pikiranku ramai.”
“Apakah jika pikiranmu ramai lantas kesepianmu hilang?”
“Entahlah. Tapi aku jadi merasa tidak terlalu sepi.”
“Baguslah. Berhentilah menunggu. Kau sudah terlalu lama menunggu.”
“Lalu aku harus apa? Mengejar?”
“Setidaknya, mulailah suatu perjalanan. Mulailah berjalan.”
“Sendiri?”
“Kau takut sendiri? Nanti kalau mati juga kita sendiri-sendiri.”
“Bicaramu ngawur. Aku takut kesepian.”
“Siapa yang bisa menjamin kalau kau tak akan kesepian jika berjalan dengan orang lain?”
“Entahlah.”
“Memangnya kau tidak pernah kesepian dalam keramaian?”
“Jadi maksudmu, sendiri lebih baik bagiku?”
“Bukan. Tentu saja aku berharap kau menemukan orang lain dalam perjalanan yang dengan senang hati menemanimu.”
“Baguslah.”
“Dan tentang kesepian, ia tak selalu pasti hadir dalam kesendirian. Kau bisa merasa penuh dan utuh¬†dalam kesendirian. Sebaliknya, bisa jadi kau kesepian dalam keramaian.”
“Tapi aku tak pernah kesepian jika di sampingmu.”
“Lantas kau ingin aku menemanimu? Kau kan tahu itu adalah hal yang mustahil.”
“Berharap kan boleh saja.”
“Kau ini…kita sama tahu apa yang kita hadapi. Aku hanya dapat berdoa untuk kebaikanmu. Dan aku kira kamu harus tahu bahwa selamanya aku tak suka jika kau bersedih. Jadi, bergembiralah. Dunia mahabaik.”
“Ah, kamu manis sekali.”
“Jadi, masih merasa kesepian?”
“Tidak.”
“Kalau begitu, pergilah dari danau itu. Mulailah berjalan.”
“Aku belum mau. Aku masih ingin sendiri. Dan kali ini aku tak akan salah mengartikan sepi.”
“Baiklah kalau itu maumu. Percayalah, di luar sana ada banyak orang yang menyayangimu.”
“Juga membenciku.”
“Selalu ada yang membenci jika ada yang menyayangi. Bukankah semua hal memang seperti itu?”
“Iya. Memang seperti itu. Tapi aku senang dengan pernyataanmu tadi. Aku selalu suka disayang.”
“Karena kau menyayangi banyak orang.”
“Mungkin begitu. Mungkin juga tidak.”
“Aau memang cinta sekali dengan kemungkinan.”
“Tidak. Aku mencintaimu.”
“Sudahlah, jangan berbohong.”
“Hahahahaha. Kau pandai sekali membacaku.”
“Kau adalah buku kesukaanku.”
“Dan kau adalah pembaca favoritku.”

***

Setelah percakapan usai, gadis itu kembali menikmati sepinya danau. Kali ini tanpa kesepian. Perbincangan dengan temannya telah membuatnya nyaman. Ia kini menunggu sore. Ia selalu menyukai sore. Angin berhembus. Di luar semestanya, kesibukan sedang terurai. Sore, permulaan untuk istirahat. Ia masih menunggu sore di danau sepi itu sambil memikirkan perjalanan yang akan ia lakukan.

Ia ingin pergi jauh dengan kereta, dengan pesawat, lalu berjalan dan menikmati keterasingannya. Mungkin besok di bangku pinggir danau yang kini ia duduki akan ada seseorang yang juga kesepian yang juga ingin pergi jauh. Saat itu, ia mungkin sudah di kota lain. Ia tidak benar-benar sendiri ternyata. Kini ia mengerti, sepi dan kesepian ternyata dapat dipisahkan. Ia lihat angsa-angsa yang sedari tadi berenang di danau. Betapa tenang. Ia kini merasakan apa yang dirasakan angsa-angsa itu

Ranum…

Ranum, aku diburu gelisah. Aku diburu oleh kecemasan-kecemasanku sendiri. Betapa aku kerdil di tengah dunia yang mahaluarbiasa ini. Begitu banyak yang tidak aku ketahui, Ranum. Pram bilang, hidup hanya menunda kematian. Nah, kalau itu soalnya, bagaimana caraku menunda kematian. Harus diisi oleh apa hidupku yang kosong ini, Ranum? Tak selamanya waktu dapat dihabiskan untuk bersenang-senang, bukan? Aku seperti limbung kehilangan pijakan. Aku tertelan konvensi yang dibuat oleh orang-orang sebelumku. Tak sepenuhnya aku tolak konvensi itu, tapi aku menolak menjadi sapi perah yang hanya tahu mengikuti tanpa pernah bertanya kenapa.

Begitu banyak guruku di luar sana, yang sungguh sangat kukagumi. Aku selalu ingin seperti mereka. Sepertinya rasa penasaran mereka tak pernah habis. Mereka sangat peka terhadap banyak hal di dalam hidup ini. Aku juga ingin seperti itu. Tapi semakin hari aku semakin sadar banyak sekali kebodohan bersarang pada diriku. Dan aku sungguh sangat tidak peka. Aku gelisah, Ranum.

Suatu ketika dulu, aku pernah menyatakan gelisah yang serupa ini pada seorang teman baik. Ia berkata “Yakinlah kau telah berada di jalan yang tepat. Ini jalurmu. Kau hanya perlu membuka pintu lain di tahap barumu ini.”

Aku masih yakin aku berada di jalur yang tepat. Toh aku juga tidak bisa berbalik. Aku hanya gelisah. Kesal pada diriku sendiri dan bukan pada siapapun juga. Sedari dulu sebagian diriku selalu bertanya “Apa yang telah kau lakukan untuk hidupmu sendiri atas usahamu sendiri?” dan aku selalu dan selalu tergagap untuk menjawabnya.

Ranum, bukan maksudku mengganggumu dengan semua celotehanku ini. Tidak sama sekali. Dan aku sesungguhnya telah mengetahui bahwa jalan keluar ada di tanganku sendiri. Aku hanya ingin bercerita untuk sekadar mengurangi beban. Aku tahu, bebanku ini sungguh remeh dibanding beban orang lain di dunia ini. Misalnya saja pengemis yang tak kunjung keluar dari lingkaran pengemis meskipun ia ingin sekali berhenti dari pekerjaannya itu. Atau nelayan yang tak punya cukup modal untuk melaut. Atau koruptor yang bergelut dengan nuraninya yang belum sepenuhnya hilang. Atau negara yang menterinya sendiri bertengkar. Sungguh remeh memang masalahku.

Oleh karena itu, aku berterima kasih karena kamu masih mau mendengar celotehku yang remeh ini. Aku bahagia memilikimu. Bahagia dan sehatlah.

 

Salam Termanis,

Galuh Sakti Bandini