Fakta-Fiksi

Apakah yang fiksi selalu bohong? Sebuah karya fiksi tentu tak lepas dari pengaruh sang pengarang, bukan?
Tapi dapatkah kau mengatakan tulisanku adalah fakta? Tak semudah itu.
Dalam tulisanku, fakta dan fiksi saling berkelindan. Bahkan, ketika aku membaca ulang catatan harianku, aku tak yakin apakah aku menulis fakta tanpa kusisipkan fiksi di dalamnya?
Ketika aku menulis tentang cinta, bukan berarti aku sedang jatuh cinta. Bisa jadi aku sedang sedih dan mencari pelarian dengan menulis kisah cinta. Tapi semua mungkin. Bukankah dalam duniaku, dalam tulisanku, fakta dan fiksi saling berkelindan?

Jadi, apakah tulisanku ini fakta? Apakah tulisanku ini menggambarkanku yang sebenarnya? Pembaca, apakah aku pengarang? Atau hanya pencerita yang diciptakan pengarang untuk membuat kalian bingung? Kalian tentu dapat menjawab sesuka kalian. Aku tak akan menggugat, tak akan marah. Aku terbuka untuk kalian nilai, untuk kalian hakimi.

Advertisements

Surat berantah

Aku tahu aku akan sampai pada saat ini.
Entah ini namanya apa, mungkin rindu, mungkin hanya belum terbiasa. Tapi sepertinya bukan rindu, hanya gemuruh sepi di dalam dada.
Aku paham kita akan takluk pada waktu. Tapi ini bukan soal menyerah, ini perkara merelakan. Bukan patah arang, hanya rehat sebentar.

P.S: Aku tidak pernah berniat melupakanmu, tapi aku juga tak berusaha mengingatmu. Kalau nanti aku lupa, itu wajar. Begitu pula sebaliknya. Bukankah ini hanya masalah waktu saja?

30414

Pada sore yang jatuh ada cerita yang merinai dan doa yang rimis. Kau masih mengingat semua yang manis dan yang sekarat (?). Dan kalau nanti kita tak lagi dapat berucap “saat ini..”, apakah kau siap? ‘Siap’ terlalu berat untukku yang selalu ragu. Wagu. 

Ranum, Ini Tentang Mimpi

Halo, Ranum. Bagaimana kabarmu kali ini? Baik-baik saja, kan? Aku selalu berdoa untuk kebaikanmu, karena kau orang  baik. Kabarku biasa-biasa saja, Ranum.  Aku selalu bersukur karena aku dikelilingi oleh orang-orang baik, tidak ada alasan bagiku untuk membenci hidup.

Kali ini bolehkah aku berbicara tentang mimpi, Ranum? Ya, mimpi yang kata orang bunga tidur. Ketika aku menyikat gigiku malam ini, aku berpikir tentang mimpi. Beberapa tahun belakangan (mungkin tiga tahun) aku jarang sekali mimpi berlari; karena dikejar sesuatu atau menghindari sesuatu. Sekarang aku lebih sering bermimpi tetang perjalanan mencari sesuatu, atau aku sebagai orang yang menyaksikan sesuatu. Aku tidak lelah lagi dalam mimpi. Read more

Kantor Pos

Kantor Pos

Pada bulan Juli lalu, ketika pagi beranjak siang, aku menjejakkan kaki di sebuah kantor pos di kota orang. Asing, tapi menyenangkan. Bangunannya jelas sekali peninggalan Belanda, dan aku meninggalkan jejakku di sana. Kukirimkan kartu pos untukmu yang kutuliskan “Selamat mengenang kota ini”. Aku beli kartu pos tak jauh dari kantor pos itu. Kutulis pesan dan alamatmu langsung di kantor pos itu. Pulpennya langsung aku beli di sana, pulpen biasa berwarna ungu, bukan warna kesukaan kita. Kurekatkan perangko warna hijau di sudut kanan atas. Kuucapkan selamat tinggal padanya ketika aku menyerahkannya di loket. Ia harus sampai kepadamu, meski kartu pos darimu yang dulu entah kapan kau kirim tak jua sampai padaku. Kartu pos yang kukirimkan bukanlah sekadar kartu pos. Itu adalah kenang-kenangan dariku, tulisan yang tidak dapat kau hapus. Tidak seperti tullisan-tulisanku yang kukirim dari tepon genggam atau surat elektronik. Ia lebih kekal dari itu.
Di kantor pos ini, kugurat kenangan tentang suatu hari di bulan Juli ketika aku pertama kali mengirimkanmu sebuah kartu pos. Suatu saat, ketika aku mengunjungi kantor pos ini lagi, aku akan berkata pada diriku “Selamat mengenang kota ini, dan segala kenangan yang ada di dalamnya”.

Catatancatatan

Kalau sore ini harus berlalu, biarlah. Memang seharusnya begitu, dengan atau tanpa kita. Meski aku sedang ingin berbagi denganmu, berbagi jingga, yang meski hanya sedikit tapi tetap saja jingga.
Dan hutanhutan pinus tetap diam. Menyimpan mungkin sejuta cerita, mungkin satu cerita. Tapi tak mungkin tak ada cerita, karena pinus-pinus di dalamnya pun pasti memiliki cerita.  Read more

cerita sangat pendek tentang pohon

Namaku Intan. Kenapa namaku Intan? Aku tak tahu. Orangtuaku yang memberiku nama. Aku rasa, dalam namaku terkandung harapan mereka. Mungkin mereka ingin aku seperti Intan. Suatu kali ayahku pernah berkata bahwa intan akan tetap intan di manapun ia berada. Ia tidak akan pernah terkontaminasi. Mungkin, itu alasannya. Sebenarnya, aku tidak peduli pada namaku. Nama hanya sebatas penanda, bagiku. Pembeda antara aku dan yang lain.

Suatu hari aku melewati pohon besar di pinggir jalan. Lalu aku merasa bahwa Pohon ini sangat tabah. Betapa umurnya? Mungkin 100 tahun, mungkin lebih, tapi tidak akan kurang karena pohon ini terlihat sangat tua. Kapan ia mati? Tidak ada yang tahu. Yang orang-orang tahu ia memang sudah seharusnya di situ. Tidak ada yang aneh.

Berapa orang yang sudah berteduh di bawahnya? Sudah berapa kali ia ditebang? Sudah berapa cerita yang ia saksikan? Tidak ada yang tahu. Yang orang-orang tahu, pohon itu ada di sana. Kalau mentari terlalu terik, maka ia menyediakan keteduhan. Ketika hujan merintik, ia menyediakan tempat untuk berteduh.

Adakah yang pernah bertanya, atau sekadar penasaran, apakah pohon pernah menangisi setiap daun yang terlepas dari rantingnya? Atau ia mengikhlaskan mereka karena ia tahu bahwa setiap daun akan terganti dengan yang baru? Tidak ada yang peduli sudah berapa daun yang meninggalkan pohon besar itu.

Pohon besar itu selalu menyaksikan orang-orang yang berlalu-lalang di bawahnya. Ia menyaksikan kesibukan yang selalu sibuk dan selalu berjalan dengan diam dan tabah. Ia sudah sibuk tanpa harus bergerak kesana-kemari. Di tubuhnya pun sudah banyak kesibukan. Ada lebah yang menggantungkan sarangnya, ada semut yang merangkak dan menggerogoti daun-daunnya, sesekali ada tupai yang berlari-lari di dahannya, atau burung yang bertengger. Sesungguhnya ia berjalan meski ia diam. Akarnya selalu berjalan, selalu mencari sumber air. Tapi siapa yang sadar? Siapa yang peduli?

Tidak ada yang aneh dari sebatang pohon besar di pingir jalan. Tidak ada yang menarik darinya. Mungkin ia memang besar, tapi seberapa besarkah arti keberadaannya bagi orang yang selalu melewatinya? Tapi ia memang tidak pernah meminta untuk diperhatikan, kan? Ia juga tidak peduli seberapa berartinya dia bagi manusia. Harusnya manusia bisa belajar ketabahan dari sebatang pohon besar di pinggir jalan. Tapi manusia terlalu sibuk untuk belajar dari alam.

Mungkin, suatu saat nanti manusia-manusia yang sudah biasa melewatinya akan merasa kehilangan ketika pohon besar itu mati dan bersatu dengan tanah. Yah, nasib baik kalau ia dapat  bersatu dengan tanah. Bisa jadi ia berubah bentuk menjadi furnitur atau hal lain. Tapi bisa jadi manusia-manusia yang biasa melewatinya tidak begitu peduli dengan kematian pohon besar itu. Yah, siapa yang tahu?