Cerita Kita

Cerita kita masih lekat di sana,
di sudut kafe di pinggir kota.
sisa-sisa diskusi kita menempel pada kursi-kursinya;
kursi tua oranye yang nyaman

Kenangan menggantung, menerangi lupa
yang kadang mampir.
Masih kurasa hangatmu meski
tatap tak dapat lagi diharap

Kusesap pelan-pelan bayangmu
agar tak segera sirna
Kuresapi lagi cerita kita;
aku yang kalut dan kau yang sabar

Mungkin setelah ini tidak ada lagi cerita kita,
tapi kita tidak akan pernah berhenti menjadi tokoh
dalam sebuah kisah besar, bukan?

kamu tidak akan menjadi gelap
dalam lembar ceritaku
kupastikan itu

Advertisements

Sebuah pertemuan singkat

: untuk temanku yang pemalu

Dulu pernah kita bercerita di bawah rindang pohon

Tentang hidup dan mimpi

Juga kecewa dan obatnya

Kita resapi setiap kata yang terlontar

***

Kemarin kita bertemu lagi setelah beberapa purnama lewat

Kau belikan aku segelas es limun,

dan secangkir kopi tanpa ampas untukmu sendiri

Kau tambahkan satu sendok gula ke dalamnya tapi tak segera mencecapnya

Kata-kata masih banyak terlontar

Tapi tak lagi terlalu kita resapi

Sebab waktu masih sibuk mengejarmu juga mengejarku dan kita tak sanggup berontak

***

Dalam perjumpaan itu, aku tahu sebagian dirimu hilang dalam perlombaanmu dengan waktu.

Dan mungkin kau tak terlalu peduli denganku atau ceritaku

Sebab bagimu cerita orang lain lebih penting untuk dicermati.

“Bagian dari pekerjaan,” begitu ujarmu.

***

Langit sudah memberi tanda bahwa bumi akan basah sebentar lagi

Kita beranjak sebelum itu terjadi

-Es limunku belum tandas, juga kopi tanpa ampasmu. Tapi kita tak bisa menunggu lebih lama-

Sebelum berpisah, kutatap matamu yang lelah

Terbaca kerinduan di sana

Adieu (2)

Pada suatu sore,

aku terkesima oleh pertemuan kita yang tanpa rencana

dan kita berbincang, lewat mata dan kata

dan diantara itu, ada tanya kutimbun

agar tak rusak ceritamu oleh prasangkaku.

 

Ketika malam baru saja tiba,

Kita berpisah

-sebuah peristiwa yang selalu berulang-

tanpa pernah tahu kapan lagi kan bertemu

dan aku tak lagi ingin bertanya apapun padamu

 

 

Sebuah Catatan

:tentang pembubaran acara di LBH 17092017

Telinga mendadak tuli dan hati menjadi buta kalau kepala tidak terbuka untuk segala kemungkinan lain.

Kepalaku sama dengan kepalamu sama dengan kepala mereka sama dengan kepala setiap makhluk; kita berharga.

Lantas jangan merasa kau di atas mereka atau bahkan merasa di bawah mereka sehingga kau merasa pantas menginjak atau terinjak.

Kita selayaknya paham, kebencian dapat menyebar lewat kata yang kau lempar. Begitupun pemahaman. Kenapa harus kau lempar benci kalau sebenarnya kita bisa sepaham?

Seandainya kita tidak sepaham, kenapa harus kau lempar caci. Apa kau benar paham tentang apa yang kau benci itu?

Tidak ada yang netral, aku paham. Ini tidak sesederhana “aku benci kau, maka aku ingin kau tiada.” Ini bisa jadi “Aku tak suka kau, maka aku gunakan kebencian mereka atas yang lain untuk pelan-pelan meniadakan kau.”

Sungguh menyeramkan ketika kebencian tidak dilandasi pemahaman. Akan ada berapa jiwa yang kau koyak dengan ujaran itu? Apalagi kalau sudah sampai ke perbuatan.

Kita tidak pernah berhak merusak hidup orang lain dengan sengaja. Kita tidak pernah berhak membuat luka di jiwa orang lain dengan sengaja. Kita tidak pernah berhak meniadakan orang lain.

Mari kita sama duduk dan belajar tentang masa lalu untuk memperbaiki pemahaman kita di masa ini. Mari kita saling bertukar pendapat tanpa harus dilandasi kebencian membabi buta agar kelak di masa datang, penerus kita tidak akan mengulang kebencian yang sama.

Mari kita sama-sama hapus kebencian yang gelap ini. Seperti yang dikatakan dalam sebuah lagu, “Buka mata, hati, dan telinga.”

Siapa tahu

Langit tahu bahwa ada yang tak terjelaskan dalam setiap helaan nafas panjang

Angin paham tentang kesabaran ranting yang melepas daun

Dan jalan setapak mengerti kelelahan yang terseret di atasnya

Tapi tak ada yang paham tentang keseluruhan cerita yang terjalin dalam jagad.

Tentang gugatan yang terbungkam, tentang keikhlasan yang sunyi, dan tentang harapan yang hilangtimbul. Tentang bahagia yang melonjak, tentang sayang yang mendayu, tentang rindu yang terpendam,

tentang hidup yang mengalir.

Saya

Saya lamat-lamat tak kenal siapa saya.

Banyak yang pelan-pelan lamur, tapi saya tak peduli benar.

Waktu toh memang mengaburkan banyak hal.

Saya lamat-lamat tak mendengar hati saya.

Banyak yang harusnya dikeluarkan, tapi saya tak peduli benar.

Telinga toh tak untuk menangkap kata hati.

.

.

.

Tapi di tengah ketakpedulian yang sunyi ini, saya pelan-pelan ingin mengenal diri saya lagi agar saya tidak benar-benar hilang.

Kapan Pulang?

Kesedihan tetap saja menusuk tenggorokan. Seperti sekat untuk katakata yang ingin berhambur. Masing-masing kita akan pulang ke rumah. Tapi bagaimana caraku pulang kalau belum juga kutemukan rumah? Aku lelah singgah. Sungguh.

Adieu

:Untuk Agung Dwi Ertato

Children-Oil-Painting-06
Sumber: Google

Aku tak tahu berapa malam telah kita habiskan untuk bercerita
atau sudah berapa huruf kita baca
atau berapa jauh jalan yang telah kita tapak bersama

Yang aku tahu kita sudah lama tidak berjumpa
Baik mata atau kata

Aku tak tahu apakah kau masih menulis puisi
atau dimana kau menikmati kopi
atau bagaimana kau mengatasi pagi

Yang aku tahu aku rindu
Tenangmu

Aku tak tahu kapan kita akan jumpa
yang aku tahu, aku ingin kau bahagia

Terima kasih pernah hadir di sini
dan mengajariku berdamai dengan diri

Ceracau Minggu

Aku menggali kenangan tentangmu lagi. Di saat hidup terasa hambar seperti ini, menggali kenangan manis bukanlah suatu kesalahan. Aku ingat, saat itu bulan Juli, tapi aku tidak ingat tanggal atau harinya. Akhirnya aku pergi ke kotamu. Kita pergi bersama dari kotaku dengan kereta.

Malam pertama yang kuingat adalah malam dalam perjalanan. Kamu tertidur pulas di bahuku, sementara aku membaca buku. Kamu pasti lelah dan sudah bosan dengan perjalanan ini. Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku terlalu senang karena dapat pergi ke kotamu, bersamamu. Aku ingat, ketika kau terjaga, kau berkata padaku, “Kamu belum tidur juga?”. Aku menjawab dengan senyuman. Mungkin kau lihat mataku yang masih cerah, dan kantuk belum mampir. Gerbong kereta kita sepi, yang paling bising adalah suara kereta dari luar. Kebanyakan penumpang telah lelap di kursinya masing-masing. Menjelang dini hari aku terlelap juga. Aku bangun ketika matahari muncul dan sinarnya menerpaku. Pemandangan sawah terbentang, dan aku ingat bahwa aku bahagia. Tak lama kemudian kamu terjaga. “Selamat pagi!” sapaan pertamaku untukmu di pagi itu. Kau menjawab dengan senyum, meregangkan tangan, lalu minum seteguk air putih. “Sudah dekat,” katamu padaku.  Aku ingat, saat itu aku bahagia.

Di kotamu, kita berpisah. Aku ke penginapanku, kamu pulang ke rumahmu. Menjelang sore, kau menjemputku. Kamu menggunakan kemeja kotak-kotak dan mengendarai motor hitam.  Aku ingat, aku tersenyum saat melihatmu. “Kau rapi sekali,” batinku saat itu, “dan tampan”. Aku tak tahu kemana kau akan mengajakku menghabiskan sore, tapi aku mengikutimu. Ini kotamu, aku percaya padamu. Aku lupa kita menghabiskan sore di mana. Tapi kita menghabiskan malam melihat pertunjukkan seni. Kotamu memang menyenangkan. Aku memelukmu dari belakang ketika kau bonceng dengan motor hitammu sepanjang sore dan malam itu. Aku  menikmati kotamu: jalanan yang tidak terlalu padat, lampu jalan, udara malam. Aku menikmati waktu bersamamu. Mungkin selalu begitu perasaan orang yang kasmaran. Aku menyukaimu. Apakah kau merasakannya?

Aku tinggal selama beberapa hari di kotamu. Dan selama itu, aku penuh perasaan bahagia. Tentu saja perasaan itu hadir karena kamu ada bersamaku. Kamu selalu menjemputku di penginapan dengan senyum. Aku juga selalu menyambutmu dengan senyum merekah. Aku ingat, suatu hari kita pergi ke kantor pos, bangunan kesukaanku. Aku mengirim satu kartu pos untukmu. Padahal saat itu kau ada bersamaku. Betapa menyenangkan saat itu. Sejak saat itu, kantor pos di kotamu memiliki cerita sendiri bagiku. Aku jadi semakin menyukai bangunan tua itu.

Entah kenapa, ingatan yang sangat jelas adalah ketika kau mengajakku ke kedai kopi kesukaanmu. Tempatnya tidak ramai, tapi juga tidak bisa dikatakan sepi. kita memilih meja di pojok. Lampu kedai itu tidak benderang, tapi juga tidak terlalu remang. Yang aku ingat, hampir semuanya tersepuh warna kuning karena lampu. Kau memesan kopi spesial untukmu dan coklat panas untukku. Minuman kita datang agak lama. Tapi kita tidak mempermasalahkan hal itu. Kita isi waktu dengan obrolan. Aku ingat kita tertawa dan hangat. Ketika minuman datang, aku mencicipi kopimu. Ternyata kopimu tidak pahit dan memang enak. Aku biasanya tak suka kopi, tapi malam itu aku suka kopi. Malam itu, aku sangat menyukaimu. Aku ingat ampas yang menempel pada gelas-gelas kita. Aku selalu suka saat ingat bahwa kau memperhatikan caraku memegang gelas saat mengobrol.

Aku ingat malam terakhirku di kotamu. Kita hanya menghabiskan malam dengan berjalan di alun-alun. Toko-toko mulai tutup. Delman dan kusirnya juga mulai kembali ke rumah mereka. Kita duduk di salah satu bangku taman yang ada di sana. Kita hanya diam dan memerhatikan orang yang lalu-lalang. Aku ingat, malam itu aku merasa begitu tenang.  Kau membuatku merasa nyaman dan tenang. Dan saat ini, aku rindu tenang. Aku tidak rindu kamu. Aku rindu seseorang yang mendatangkan ketenangan seperti kamu menghadirkannya untukku. Aku rindu orang yang entah.