Surat

:teruntuk Pak Bambang

Halo, Pak.

Saya Galuh, pernah menjadi salah satu murid bapak di SMPN 2. Wajar kalau Bapak tidak ingat saya, saya cuma salah satu dari ratusan (atau mungkin ribuan) murid yang pernah Bapak ajar. Kalau saya ingat Bapak, itu juga wajar. Bapak adalah salah satu dari sedikit sekali guru Fisika yang ada di SMP 2. Eh, sebenarnya saya lupa, Bapak mengajar Fisika atau Kimia, sih? Pokoknya Bapak mengajar salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam itu. salah satu matapelajaran yang tidak saya kuasai. Tapi saya ingat Bapak pernah mengajarkan saya tentang listrik. Itu berarti Fisika ya, Pak? Bapak dulu pernah bilang, “Yang kalian pelajari ini baru sedikit sekali dari Ilmu yang saya ajarkan. Kalu kalian kuliah mengambil jurusan ini, kalian akan tahu kalau ini masih sangat gampang.”

Perkataan Bapak itu membuat saya tidak sabar kuliah. Saya bangga sama Bapak. Bapak salah satu dari sedikit guru yang pernah belajar ke luar negeri.Bapak pernah ke Jepang, kan? Dan saya tahu, Bapak adalah salah satu dari sedikit guru di sekolah itu yang memang cerdas. Sekarang saya sudah kuliah, Pak. Tapi bukan mengambil jurusan di fakultas MIPA, saya malah mengambil sastra. Jauh sekali, kan, dari cabang ilmu yang bapak ajarkan. Tapi secara tidak langsung, ini berkat Bapak juga. Bapak mengajarkan kepada saya untuk terus mencari tahu tentang apa yang kita sukai. Saya menyukai sastra, Pak.

Saya bersyukur dulu pernah diajar oleh Bapak. Bapak membuat rasa penasaran saya tetap tumbuh. Guyonan Bapak yang tidak membosankan itu dulu membuat saya tetap terjaga di kelas yang super membosankan. Saya sekarang sudah mengambil Master, Pak. Bapak bangga tidak? Saya dengar Bapak masih mengajar di SMP 2. Menjadi guru memang bukan sekadar pekerjaan, tapi pengabdian. Saya berdoa Bapak selalu sehat dan sejahtera. Ilmu yang Bapak ajarkan sungguh tidak sia-sia. Buktinya, sampai saat ini saya masih mengingat sedikit tentang magnet dan listrik. Hhe.

Saya tulis surat ini karena rindu, Pak. Terima kasih karena telah turut berjasa membentuk saya yang sekarang. Terima kasih banyak. Semoga Bapak selalu bahagia dalam mengajar.

Salam hangat,

Galuh Sakti Bandini

Ramu Rasa


​Aku tak pandai meramu huruf menjadi kata manis yang kau sebut puisi.

Pun aku tak pandai meramu rasa yang bercampur di dada dalam kata-kata itu.

Tapi tidakkah kau rasakan semua yang tak teramu itu dalam secangkir teh yang kuhidangkan di sore yang hujan tadi?

Atau pada jejak langkah yang berusaha seirama dengan tapakmu?

Tapi aku masih berkutat dengan kata yang ituitu juga; entah untuk apa.

“Kalau kata sudah bisu dan aku mulai tumpul, adakah rasa masih setia?”

Di Pantai

Kuakali keberadaanmu di antara deru ombak yang berdebur

Tapi kau entah di mana

Mungkin kau menjadi bulir pasir atau batu karang

Dan aku masih menyiasati keberadaanmu dengan meresapi suara yang tak letih dari pantai
Kau juga masih entah di mana. 

Mungkin tersangkut di mimpi.

P.S: dibuat di Jogja, juli 2016. Foto pantai Pangi, Blitar. Terinspirasi oleh puisi SDD sang maha penyair indonesia.