Hai

:untuk yang selama ini masih di sana

Kamu masih di sana? Banyak cerita yang butuh ditenangkan di sini. Ngomong-ngomong, aku rindu. Semoga terbaca, ya. Kalau tidak terbaca, yasudah. Kalau kau tak lagi di sana, juga tak apa. Kita memang harus pergi, kan, pada akhirnya. Kata-kata semakin sekarat, waktu menjadi asing, sementara hidup tetap berjalan…

Advertisements

Terserah Siapa yang Bicara

Suatu sore di beranda rumah. 
“Apa yang ada dalam pikiranmu?”
“Savana.”
“Dengan kijang yang merumput?”
“Dengan lalat yang dilupakan.”
“Dengan senja yang mengharukan?”
“Dengan siang yang terik.”
“Apakah tidak terlalu terasing?”
“Apakah harus selalu akrab?”
“Tidak juga. Kita bahkan tak selalu akrab.”
“Benar juga. Tapi tak apa, kan?”
“Tentu tak apa. Daripada bosan.”
“Lalat suka kebosanan.”
“Kata siapa?”
“Kata lalat. Kemarin ia bilang padaku ketika aku hampir mati bosan.”
“Hati-hati gila.”
“Ah, pada dasarnya kita semua gila. Tapi kegilaan itu kita sembunyikan jauh-jauh agar tidak dilihat orang lain.”
“Berarti yang paling merdeka adalah orang gila, dong?”
“Bisa jadi. Tapi apalah artinya merdeka kalau tidak bisa memaknai kemerdekaan itu.”
“Apalah artinya memiliki kegilaan kalau tidak boleh gila.”
“Apalah artinya kita membicarakan kegilaan padahal kita tidak pernah benar-benar gila.”
“Hati-hati waras.”
“Aku selalu waras.”
“Kamu tidak konsisten kalau begitu. Katanya kita semua gila.”
“Pernah kau percaya orang gila? Pernah kau dengar ada orang gila yang mengaku gila?”
“Hahaha. Kau terlalu waras untuk ukuran orang gila.”
“Nah, itulah.”

Keadaan hening selama lima detik

“Apakah ada lalat yang gila?”
“Mungkin ada. Sapi dan anjing saja ada yang gila.”
“Hewan-hewan itu mikir apa, ya, bisa sampai gila begitu?”
“Mana aku tahu. Aku belum pernah jadi hewan.”
“Memang ada yang pernah?”
“Tanya saja ke Darwin. Dia bilang, kita berkerabat dengan hewan. Siapa tau ternyata dia pernah menjelma kera.”
“Hush! Kurang ajar kamu.”
“Saya menghargainya karena telah menemukan teori evolusi. Tapi apakah saya salah jika mempertanyakannya?”
“Caramu yang salah.”
“Wah, kau ini adalah perwujudan konstruksi sosial yang sangat bagus.”
“Kau menghinaku kalau begitu.”
“Aku memujimu.”
“Mana bisa begitu.”
“Bagaimana tidak begitu?”
“Aku ingin menjadi aku saja.”
“Tidak bisa. Kita tidak pernah menjadi kita seutuhnya.”
“Termasuk kamu?”
“Tentu saja. Aku pasti dipengaruhi orang lain, meski aku tidak sadar.”
“Tapi aku tidak ingin menjadi apa yang diinginkan orang lain.”
“Kalau begitu, berusahalah. Sadarlah dalam memilih pilihan yang menjadikan dirimu, dirimu.”
“Aku selalu sadar.”
“Baguslah. Hidup ini memang perkara pilih memilih dan hal yang paling penting adalah kesadaran dalam pemilihan kita.”
“Seperti aku sadar memilih berbincang denganmu yang gila.”
“Seperti itulah.”
“Jadi, kamu gila betulan?”
“Apakah aku semerdeka itu?”
“Entah”

Diam cukup lama

“Jangan diam lama-lama.”
“Kenapa?”
“Aku tidak suka.”
“Aku suka.”
“Jangan diamkan aku. Rasanya tidak enak.”
“Kenapa?”
“Aku tidak suka diacuhkan.”
“Kau ingin merasa berarti, ya?”
“Mungkin begitu.”
“Mungkin itu salahmu.”
“Kenapa aku yang salah?”
“Karena ingin merasa berarti.”
“Itu kan manusiawi.”
“Kata siapa?”
“Kataku, setidaknya.”
“Tetap saja kau salah.”
“Kamu kok menyudutkanku?”
“Karena kau ingin merasa berarti. Kita tidak pernah benar-benar berarti jika tidak benar-benar berguna.”
“Hmmm…apakah aku berarti bagimu?”
“Sekarang sih iya. Entah kalau nanti.”
“Kok bisa begitu?”
“Kenapa tidak bisa? Siapa sih yg benar-benar paham mengenai kepastian?”
“Tapi aku masih ingin merasa berarti.”
“Nanti kau tambah sedih.”
“Sedih juga manusiawi.”
“Yasudah kalau begitu. Terserah kamu. Kalau kamu siap sedih, ya silakan pupuk keinginanmu untuk merasa berarti.”

Hujan turun

“Kapan kita mati?”
“Kalau sudah waktunya.”
“Kapan.”
“Kamu maunya kapan?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu saja tidak tahu apa maumu, pakai segala bertanya kapan. Kalau sudah siap, barulah kau tanyakan itu.”
“Kalau aku sudah siap, aku tidak akan bertanya. Aku akan menyambutnya.”
“Menyambut kematian?”
“Iyalah.”
“Apakah mungkin?”
“Kenapa tidak?”
“Bukannya dia datang dengan penuh kejutan?”
“Siapa tau dia mengirim tanda terlebih dahulu.”
“Sayang sekali, di antara kita belum pernah ada yang mati.”

4.20

Ada sebagian yang baru rebah pukul segini, tapi di luar aku juga dengar kendaraan lewat. Mungkin baru akan berangkat kerja. Pukul segini katakata semakin kaku dan rapat seiring dengan imajinasi yang sudah sejak lama mampat. Kalau begini, tulisanku akan kaku dan dingin. Sudah lama aku tidak berdialog dengan diri sendiri. Dialog itu perlu: dengan diri dengan orang lain. Tapi dialogku hanya sebatas hal-hal kaku saja. Temanku pernah bertanya, “rasamu mati, ya?”. Aku tak tahu. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Siapa yang tahu? Aku harap sih tidak. Aku paling benci mati rasa. Tapi aku sudah lama tak ambil peduli pada perasaanku dan orang lain. Dan ini mengerikan. Aku mengerikan. Pukul segini aku takut dengan diriku sendiri.

Perbincangan

Kopi sudah tandas

Hari sudah sore

Tawa sudah habis

Tapi kisah belum dideraskan
Lalu kau berbicara tentang

Kekecewaan

Ketakutan

Keinginan

Yang berebut menguasaimu

Hingga kau jengah
Aku berbicara tentang

Kemungkinan

Kesempatan

Keharusan

Yang kupikir akan berguna untukmu

Hingga aku ragu
Akhirnya kita sama sepakat

ketakutan terbesar adalah

Kematian akan rasa

Mungkin

Kau lihat dirimu dalam diriku

Dan kulihat cerminanku dalam kisahmu