Kalau Aku Diam

Aku orangnya cinta kata. oleh karena itu aku jarang diam.

Kalau aku diam, berarti otakku (atau hatiku) sedang riuh. 

Kalau aku diam, berarti ada yang tidak sesuai antara harapan dan kenyataan.

Kalau aku diam, berarti aku ingin menikmati suara-suara selain suaraku.

kalau aku diam, mungkin itu karena kamu..

Advertisements

Ini Rahasia

Halo, apa kabar? Akan kuberi tahu kau rahasia. 

Aku Sudah Lama Tidak Bermimpi.

Jangan terlalu sedih, sayang. kenapa kamu menjadi terlalu rumit untuk dimengerti, meski kamu menyediakan diri untuk dibaca? kau ungkit lagi satu-satu yang membuatmu gelisah, tapi samasekali tidak untukku. kamu gelisah sendiri, kamu pembuat gelisahmu, dan kamu menyalahkan dunia. kamu lucu! sudahlah, jangan terlalu ramai dalam otakmu. atau, bolehlah ramai, tapi jangan sampai ribut. Aneh kan kalau ribut dengan diri sendiri? kamu sendiri yang ribut, kamu sendiri yang luka, tapi kamu masih saja menyalahkan dunia. Mari sayang, kita duduk di beranda. kita nikmati pemandangan yang sebenarnya biasa ini, tapi sesungguhnyalah pemandangan ini manis. lihatlh tetangga kita yang bermain dengan anaknya yang masih kecil. lihatlah pedagang itu yang pulang dengan hati gembira karena dagangannya habis terjual. lihatlah burung-burung yang masih saja terbang dan bersiul. kamu memang selama ini tersenyum, tapi kenapa hatimu jarang sekali tersenyum? Jangan ikat dirimu dengan pertanyaan-pertanyaan rumit yang berakar dari otak yang tak sebesar hati. uraikanlah semuanya dengan tenang. Jadilah orang yang berbahagia, sayang.

Ranum, Surat Lagi

Halo, Ranum. Ini surat lagi dariku. Jangan bosan, ya. Kamu memang tidak boleh bosan dengan kata-kata dariku, dengan cerita-ceritaku. Aku menulis ini khusus untukmu. Hanya untukmu. Harusnya kamu merasa bangga, kamu istimewa bagiku.

Liburan ini akhirnya pergi ke luar kota dengan teman-teman. Lebih tepatnya, aku dibolehkan oleh orangtuaku pergi ke luar kota dengan teman-temanku tanpa harus menuruti seluruh permintaan mereka. Biasanya mereka repot sekali mengatur semuanya kalau aku ingin pergi ke luar kota. Mulai dari transportasi, tempat menginap, dan lainnya. Liburan ini aku bahagia, Ranum. akhirnya aku ‘lepas’. Maaf, tidak membelikanmu oleh-oleh. Aku memang tidak membeli oleh-oleh untuk siapapun. Aku malas membeli oleh-oleh. Itu bukan tujuanku berlibur. Aku hanya ingin waktu untukku sendiri.

Tapi kali ini aku tidak ingiin bercerita tentang liburanku. Biarkanlah itu menjadi kenangan. Mungkin suatu saat nanti aku lupa, tapi sepertinya aku tak akan lupa Liburanku kali ini. Segala sesuatu yang pertama memang susah lupa, kan? Meski pada lupa kita juga akan jadi karib, kata Goenawan Mohamad.

Aku ingin bercerita soal perjalanan menuju pulang. Sebentar lagi aku dan keluargaku akan melaksanakan tradisi tahunan yaitu, mudik. Aku tak tahu kenapa namanya mudik, tapi singkatnya mudik adalah pulang ke kampung halaman. Aku selalu suka perjalanan mudik dengan mobil. Aku seperti lebih merasakan semangat mudik. Melebur dalam kemacetan yang disebabkan oleh orang yang berbondong-bondong pulang ke kampung halamannya. Yang paling kurindukan adalah persinggahan-persinggahan yang kami lakukan. Selalu menyenangkan mencoba tempat makan baru di pinggir jalan. Selalu menyenangkan mendengar obrolan-obrolan orang yang singgah, atau bahkan obrolan penduduk setempat dengan logat asli mereka. Rasanya seperti benar-benar manusia. Selama ini, di kota besar mungkin manusia menjelma robot. Egoisme tumbuh di mana-mana. Tapi ketika mudik, ketika orang-orang saling berinteraksi, sepertinya mereka menjadi manusia kembali. Tapi tidak kupungkiri bahwa banyak egoisme juga di jalanan. 

Satu lagi yang paling aku suka, yaitu ketika berhenti untuk melaksanakan ibadahku. Kami singgah di musala, langgar, atau mesjid di pinggr jalan. Paling menyenangkan adalah ketika kami berhenti di sebuah musala kecil di pinggir sawah, dan banyak masyarakat setempat yang juga beribadah di situ. Mereka baik padaku, Ranum. Aku senang memerhatikan cara mereka berbicara, berpakaian, dan cara mereka memperlakukan orang asing sepertiku. o iya! satu lagi yang aku suka dari musala kecil adalah tempat wudhunya yang biasanya sejuk. Entah kenapa ayahku lebih suka musala kecil dibanding mesjid besar. Tapi tak apa, aku bersyukur ayahku memilih musala kecil. Di mesjid besar tak ada penduduk lokal, atau seandainya ada pun jumlahnya sedikit. Yang ada hanya orang-orang perantauan yang ingin pulang dan singgah, sama sepertiku. 

Aku suka perjalanan malam dan meilhat rumah-rumah yang kami lewati. Membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam rumah itu. Apakah mereka tidak mudik? Apakah mereka tertidur? atau ternyata di dalam sebuah rumah hanya ada seorang yang sedang kespian. Selalu ada pertanyaan untuk sebuah rumah yang isinya tak kita ketahui, dan kita hanya lewat.

Gardu-gardu desa, pematang sawah, pengairan, warung pinggir jalan, semuanya aku suka. Semuanya membuatku rindu untuk mudik. Aku sebenarnya tidak tahu kenapa banyak sekali orang yang mudik, dan banyak orang yang memaksakan dirinya untuk mudik. Sebenarnya semua yang aku bicarakan hanya tentang perjalanan yang dapat kulakukan sewaktu-waktu, tapi ternyata hanya pada saat libur lebaran keluargaku dapat berkumpul semua. Kalau perjalanan pulang ke kampung halaman kulakukan di lain waktu, aku tak dapat pergi dengan keluargaku, Ranum. Jadi, menurutku Mudik adalah momen di mana masing-masing anggota keluarga memiliki waktu luang dan sepakat menghabiskannya untuk pulang. Menurutku, setiap orang butuh pulang, dan di setiap rumah yang mereka pulangi selalu terdapat alasan yang membuat mereka harus kembali. Alasan keluargaku adalah karena nenekku, orangtuanya orangtuaku, masih ada. Jika nenekku sudah tak ada, aku tak tahu apakah kami masih akan mudik? Aku tak berani menduga. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tergantung nanti.

Ranum, perjalanan memang selalu menyenangan, bukan? Lain kali aku ingin juga sepertimu yang pergi jauh dan melakukan banyak perjalanan. Aku tahu, nanti ada saatnya aku tidak dapat pergi ke mana-mana, dan sebelum saat itu tiba aku ingin pergi. Aku belum ingin menjelma rumah yang selalu menjadi tempat pulang. Aku masih ingin menjadi kereta, bus, atau pesawat yang selalu pergi dan berhenti hanya untuk singgah. Tapi aku ingin menjadi alasan seseorang unuk selalu pulang kepadaku.

Ranum, maaf kalau ceritau aneh dan tidak menarik. Semoga kamu selalu bahagia. Orang baik memang pantas bahagia. Sehat-sehat ya, Ranum. Cuaca sedang aneh, tapi tidak seaneh kamu, sih. hehehehe. Sampai jumpa di surat yang lain.

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

Selamat, Pagi!

Selamat, Pagi!

padamu semua dimulai. Bergembiralah karena kau selalu jadi awal. Selalu menyenangkan, bukan, menjadi awal. Tak perlulah kau pusing-pusing soal akhir. Akhir biar berada pada malam. Awal turut menentukan akhir, bukan? Kau tahu betul soal itu, karenanya kau hadirkan dirimu selembut mungkin sebelum siang memunculkan permasalahan, kan? Kau biarkan semua tenang padamu. Kau berharap semua yang diawali dengan tenang, akan berakhir dengan tenang pula. coba kau tanya Malam, apakah memang begitu? Tidak, Pagi. Tidak semua yang diawali dengan tenang berakhir dengan tenang pula. Waktu begitu pandai memainkan semuanya. Kau tak dapat menduga apapun, meski wajib juga menduga-duga agar tak terlalu kaget dengan hasil akhir.

Selamat, Pagi! Kamu selamat.