Sering kali, sudut pandang sangat membatasi pemahaman kita terhadap sesuatu.

Advertisements

Perjalanan Pulang dari Malioboro

Untuk:  Wisnu

Kaki-kaki kita berjalan,

lunglai

Kepala-kepala kita penuh

cerita, tanya, prasangka, dan hal-hal lain

 

banyak kata yang telah kita tumpahkan.

apakah semua menenangkanmu?

Semua pasti akan tiada; mati

Pada akhirnya semua akan berpisah

 

Semua bersiap pulang malam itu

Sama seperti kita yang ditunggu rumah.

 

Kuda-kuda, becak, pedagang, pengunjung

Sebentar lagi akan mencipta sepi

 

Malam itu, di kota itu

Kita amat manis di tengah gelisah

Akankah kita mengingat satu sama lain?

Sedang kita tahu kita tidak akan berakhir

Pada titik yang sama

 

Langit bersih,

Lampu kota terang,

Dan kita pernah duduk dengan tenang

Di tengah keramaian yang selalu saja bergerak.

 

Harusnya kuberikan kau cerita yang padu dan indah

Pada perpisahan yang sementara ini.

 

Pada perjalanan pulang aku sadar

Kita tak selamanya harus berjalan menuju ramai

Lebur dalam riuh

Menumpahkan tawa dalam cerita yang gaduh

Kita juga perlu menuju sepi

 

Mengenang ramai pada sepi lebih baik

daripada kesepian dalam ramai

 

 

dan aku benar-benar tak dapat menujumu

tapi kita pernah bersama di titik nol kota ini.

Aku akan selalu dapat mengingat kaki-kaki kita

yang pernah berjalan sejalan.

Terima kasih.

 

pada perjalanan pulang

kita meredam gelisah

untuk mencipta

gelisah yang lain.

 

Jogja, 070713

kereta telah tiba di stasiun merah.
Kereta telah tiba di stasiun merah.

 

Aku menunggu di peron dua. Menunggu kereta, tentu. Tak berapa lama, kereta telah tiba di stasiun merah, stasiun yang tak akrab denganku. Hari itu aku hanya ingin menunggu kereta di sana. Aku tidak ingin ke mana-mana. Aku hanya ingin menyaksikan orang-orang masuk dan keluar gerbong yang berderet-deret. Ada yang tergesa, ada pula yang santai saja. Orang-orang tak pernah berpikir sedang apa aku di sana. Aku memang tidak ingin mereka berpikir tentangku. Aku hanya ingin melihat kereta tiba, lalu pergi lagi, lalu menunggu lagi, lalu kereta tiba lagi. Orang-orang menunggu kereta, kereta menunggu orang-orang. Betapa romantis, kan?

Aneh, di tempat seramai itu, banyak orang yang sepertinya sepi saja. Aku pun bagian dari mereka. Peron dua sepi saja, yang ada hanya suara pengumuman dari laki-laki yang entah ada di mana. Ia sibuk sekali memberi tahu tentang kedatangan kereta. Suara kereta yang datang dan pergi juga sesekali mengganggu pikiranku yang ramai. Tapi aku menikmati semua itu. Menikmati suasana sepi di stasiun merah, stasiun yang tak akrab denganku.

Selalu ada yang bisa dipelajari di stasiun, di raut wajah orang-orang yang lalulalang. Karena stasiun tak hanya tentang gesa dan gegas, tapi juga tentang tunggu.