ranum, suratku lagi

selamat hari Rabu, Ranum. apa kabar? aku sakit, Ranum. kali ini (dan memang selalu) pencernaanku yang diserang. mungkin karena salah makan. tapi pagi ini aku sudah merasa labih baik. semalaman aku berdoa pada Tuhan untuk mengangkat sakit ini. sepertinya doaku dikabulkan. dan aku senang akan hal itu.

pada surat kali ini kutepati janjiku untuk menyertakan foto. ini foto pantai di Gunung Kidul, Ranum. aku lupa pantai apa. mungkin Pantai Kukup. foto itu kuambil pada pagi hari. mungkin sekitar pukul 7. ada adikku di sana. dia masih kecil waktu foto ini kuambil. sekarang dia sudah besar. lihatlah langitnya. gelap sekali, kan? seakan-akan badai akan segera datang. tapi tak ada badai hari itu, meski ombak besar bergulung-gulung menuju tepi pantai. tak ada orang lain di pantai itu kecuali keluargaku. nelayan harusnya kembali pagi itu. bukan di Pantai ini memang, di pantai sebelahnya yang landai dan tidak berkarang. Pantai Kukup memiliki lautan karang yang dilapisi rumput laut, seperti karpet, yang membuat perahu tidak dapat berlabuh di pantai ini. tapi dari pantai ini harusnya terlihat perahu nelayan yang akan berlabuh ke pantai sebelah.

menakutkan memang, Ranum. suasananya kelam. tapi toh aku menyukai saat itu. saat di mana debur ombak yang dipecah karang terdengar amat jernih dan syahdu. saat aku sendiri di tepi pantai, terpisah dari keluargaku, menyaksikan langit yang kelam dan laut yang biru. betapa keindahan juga dapat dilihat bahkan ketika langit begitu muram. kurasa kita harus ke sana, Ranum. tapi kudengar sekarang Pantai Kukup telah ramai pengunjung. kita cari pantai lain saja yang masih sepi, yang masih cantik.

P.S : aku masih tak rindu siapapun. kalau nanti aku rindu seseorang, aku akan langsung memberitahumu.Image.

Advertisements

Ranum, Ini Surat Untukmu

halo Ranum, kali ini tidak ada foto lagi. Meskipun begitu, tolong jangan anggap aku pembohong. aku tidak berbohong. hanya saja memang belum memungkinkan untuk menaruh foto di surat ini.

ini surat kilat. tidak ada persiapan menulis. membayangkan aku akan menulis untukmu pun tidak. Surat ini hanya semacam penawar rasa buatku. aku tidak rindu pada siapapun, bahaya, kan? aku juga merasa seperti itu. apa jadinya hidup tanpa rindu pada seseorang. mau jadi apa, aku?

ahh, tulisan ini hanya sampah Ranum. aku pun tak tahu apa yang kutulis. ini hanya sekadar racauan. hari-hari telah menjadi terlalu diam. aku bisa mati kalau hanya diam. maka aku membaca, jika sudah bosan membaca, maka aku menulis.

akhir-akhir ini langit di kotaku sedang aneh. ia mendung setiap saat. awan selalu bergulung dan bergumpal. tidak seperti kapas, tapi lebih seperti ombak besar. gunung yang terlihat dari jendela kamarku selalu biru, kelabu. sesekali, jika hari sudah terik, maka ia akan terlihat hijau. pemandangannya begitu indah. suatu hari langit menampakkan keanehannya, Ranum. suatu hari di hari biasa, hujan rimis turun membasahi kotaku. akan tetapi di Timur Matahari begitu cerah. jalanan yang basah menjadi mengkilap ditempa cahayanya. aku sampai harus menyipitkan mata saat berkendara. pagi itu langit sedang aneh, ambivalen. mungkin aku juga seperti langit itu. sedih dan senang dalam waktu yang bersamaan. hahahahaha. jangan bilang aku aneh ya.

Sudah ya, Ranum. sudah ada temanku, si pecinta penyair Bali. salam dari dia. hahahaha. dia bahkan tidak tahu kamu siapa.

samoai jumpa lain waktu.