kutulis puisi

Kutulis puisi
Pada sebuah mendung yang tak kunjung
Hujan

daun-daun mendongak dengan harap-harap cemas

Advertisements

halo. selamat malam, Ranum.

apa kabar kamu di sana? masih tenangkah kotamu? Kotaku sibuk dan ramai. Sesekali datanglah ke sini dan cicipi kesibukannya. Eh, bukan berarti di kotaku tak ada tenang. Kami mengenal tenang pada malam. Ketika semua masalah (diusahakan) selesai. hha

Sudah lama aku tak menulis surat untukmu. Rindukah kamu pada ceritaku, Ranum? Semoga iya, karena aku rindu bercerita padamu lewat suratku. Tapi sayang, kini aku tak dapat bercerita apapun. Aku membiarkan semua cerita berlalu, kuendapkan. Aku lupa bahwa aku pelupa. maka, aku lupa semua ceritaku.

Maafkan aku, Ranum. Tak ada cerita menarik di surat ini. Yang ada hanya cerita ringan saja. Bagaimana? Kamu tak keberatan kan kalau aku hanya bercerita tentang hal-hal kecil saja? Aku anggap kamu setuju. hhe

Mmm, baiknya aku mulai dari mana? baiklah, dari perkuliahanku saja. Tugas-tugasku baik, Ranum. Tapi aku merasa semakin bodoh saja. Semakin aku belajar, membaca, bertukar pikiran dengan temanku, semakin aku merasa bodoh. maka, aku harus banyak membaca, Ranum! ya, kamu selalu tertawa jika aku berbicara seperti ini. Tapi kali ini tolong jangan tertawa. tersenyum saja. hahahahaha

kamu pasti penasaran dengan kehidupan pertemananku, kan? yaaa, semua baik-baik saja. aku baru sadar semua temanku hebat. Aku berterima kasih pada Tuhan karena mengirimiku teman-teman yang luar biasa. aku belajar banyak dari mereka. aku menyayangi mereka, sama seperti aku menyayangimu. semoga aku juga bisa jadi orang hebat ya, Ranum. aku rindu sahabatku, Ranum. Kamu ingat Marine? yang waktu itu aku ceritakan. yang berteman denganku sejak kelas 5 SD. sekarang dia sudah mau lulus kuliah. waktu amat cepat berlalu ya, Ranum? nanti, kalau aku tua, aku akan mengenang saat ini. saat aku menulis surat untukmu.

abangku tadi baru saja melamar kekasihnya. mereka bahagia. aku bahagia. keluarga kami bahagia. kamu bahagia? semoga kamu bahagia.

ah, aku bingung harus bercerita apalagi. kusudahi saja sampai di sini. kamu, baik-baik di sana. bahagialah. doakan aku terus ya. lain kali, kita main bersama. 

ingat-ingat lagi

aku sedang mengingat-ingat lagi, ketika tiba-tiba ingatan tentang sepenggal kejadian itu muncul. 

Aku pernah berjalan denganmu, dalam keadaan terburukmu.

semoga kamu selalu baik-baik saja.

Bahagialah, Sayangku

Anakku, kau tahu tidak kalau sekarang aku amat sangat khawatir tentangmu, tentang hidupmu. Kau amat sibuk sekarang, kau bahkan tak punya cukup waktu untuk sekadar mengucapkan selamat malam kepadaku. Kau pulang larut lalu berangkat pagi-pagi sekali.  Kau sadar tidak kalau sekarang kita sudah tak punya banyak waktu lagi untuk bertukar cerita? semoga kau selalu baik-baik saja.

Gadisku, begitu sibukkah engkau? Tak bisakah kau luangkan waktu untukku? aku ingin mendengar cerita-ceritamu yang kau ceritakan dengan begitu bersemangat. Aku suka memandang matamu yang berbinar-binar ketika menceritakan hal-hal yang menyenangkan. Aku suka ketika pagi hari kau keluar kamarmu dan menyicipi teh yang ibumu siapkan untukku, padahal kau sudah mempunyai teh sendiri. Aku suka ketika malam hari kau datang ke kamarku dan berbaring di antara aku dan ibumu.

Aku sudah tua, aku tak sadar waktu terlalu cepat berlalu, tiba-tiba saja kau sudah memiliki kesibukan sendiri. Tiba-tiba saja kau sudah pergi sendiri tanpa perlu ku antar. Tiba-tiba saja kau terasa begitu asing. Aku merindukanmu, cantikku.

Rasanya baru kemarin aku mengantarkanmu ke kelas dan memilihkanmu tempat duduk yang nyaman di SD kota kelahiranmu. Sekarang kau sudah tak perlu lagi k antar. Kau bisa pergi ke manapun sendiri. Tapi aku selalu ada jika kau membutuhkanku. Aku pasti datang jika kau memang menginginkanku untuk datang.

Rasanya baru kemarin kau dan aku pergi berdua membeli es krim kesukaanmu –es krim coklat dengan taburan kacang. Sekarang kau makan es krim coklat itu sendiri. Kau sudah tak memerlukanku lagi sepertinya. Aku sedih, tapi aku tahu aku memang akan sendiri nantinya, jadi aku harus membiasakan hidup tanpamu.

Apakah kau merasakan kesedihanku sekarang? Apakah kau mengetahui kekhawatiranku saat ini? Apakah kau masih peduli tentang apa pendapatku? Apakah kau masih memikirkanku? Apakah kau merindukanku sama seperti aku merindukanmu ketika kita lama tak jumpa dan tak bertukar cerita?

Kau adalah hadiah terindah yang Tuhan titipkan padaku. Kau begitu indahnya hingga aku tak rela ketika kau perlahan menjauh dariku. Kau selalu menjadi gadis kecilku,  yang sorot matanya selalu aku suka ketika bercerita. Tapi aku bukan lagi super hero yang kau sukai. Aku hanya sekadar lelaki tua yang kau hormati. Aku tak tahu apakah rasa cintamu padaku masih sebesar dahulu? Semoga iya. Aku sungguh tak tahu tentang hatimu.

Dan ketika kau memilik sosok lelaki lain, aku begitu cemburu. Aku tak suka ketika kau menghabiskan pagimu dengan bercengkrama dengan lelaki itu, meski hanya lewat telpon genggam yang kubelikan untukmu. Aku merasa cemburu. Aku merasa harusnya kita bisa melewatkan lebih banyak waktu berdua jika kau tak bersamanya. Aku benar-benar cemburu.

Ibumu juga cemburu, anakku. Sadarkah kamu akan hal itu? Kami belum siap ketika perhatianmu terbagi anatara kami dan dia. Kami belum cukup yakin apakah memang dia yang terbaik untukmu atau bukan. Kami takut kamu tersakiti. kami tahu bahwa dalam suatu hubungan pasti ada masalah, dan kami tidak mau masalah di antara kalian membuatmu luka. Kami ingin kau baik-baik saja. Kami ingin kamu mendapat yang terbaik.

Lalu tiba hari itu, anakku. Kau terluka ketika hubungan kalian harus berakhir. Ibumu khawatir melihatmu. Kami khawatir melihatmu yang menjadi begitu diam. Tapi kami tahu, kamu akan segera tersenyum lagi. Kamu anak baik, dan anak baik akan selalu mendapat yang terbaik. Dia mungkin belum yang terbaik untukmu, anakku. Yakinlah, suatu saat yang terbaik akan segera datang. Kamu adalah yang terbaik bagi kami, bagiku. Aku akan menjagamu sebaik-baiknya. Akan kuberikan semua yang terbaik semampu kami untukmu, anakku sayang. Tersenyumlah, bersinarlah untuk kami. Doakan ayahmu ini agar selalu dapat memberimu yang terbaik.

Kamu adalah tempatku menggantung harapan. Maaf jika itu membebanimu. Tapi sungguh, aku begitu ingin melihatmu berhasil dan bahagia. Tersenyumlah, sayang. Kamu begitu cantik jika tersenyum. Hati siapa yang takakan luluh jika melihatmu tersenyum begitu manis seperti itu? Doaku selalu kukirim untukmu. Biar Ia selalu menghias dan mempermudah jalanmu. Jangan takut terjatuh, cantikku, kamu akan belajar banyak dari sakit karena terjatuh. Kau akan jadi lebih berhati-hati.

Aku sadar, kamu sedang belajar dari hidup. Belajarlah banyak-banyak, nak. Pelajaran itu akan membuatmu menjadi gadis yang matang. Kamu akan belajar dewasa. ketika kau merasa sedih, ketahuilah bahwa masih ada orang yang memiliki masalah yang lebih rumit daripada kamu. Jadi, bahagialah. Bahagiakanlah orang lain. bergunalah bagi sesama. Jadilah wanita baik-baik yang baik terhadap sesama. Saat ini, kamu sudah membahagiakan aku dan ibumu. Terima kasih. Terima kasih banyak, sayangku, untuk hadir di dunia ini dari rahim ibumu.

Kamu tahu tidak? Aku amat sangat khawatir ketika kamu sakit. Ya, memang ibu yang terlihat lebih sibuk merawatmu. Tapi aku tak kalah khawatir dari ibumu. Sebelum berangkat kerja  aku pasti menengokmu, bukan? Begitu pula sepulang kerja. Tapi, jika kau sakit ketika sedang jauh dariku, aku tak dapat melakukan itu. aku hanya akan berdoa, akan kutanyakan keadaanmu lewat ibumu. Ya, daridulu kita memang jarang sekali berbincang lewat telepon, kan? Aku yang menyuruh ibumu menelponmu. Maaf ya, sayang, aku benar-benar tak bisa berbicara langsung padamu. Tapi bukankah sesekali aku pernah menelponmu? Kita begitu kikuk. Pembicaraan kita menjadi amat singkat. Tapi aku bahagia mendengar suaramu. Aku bahagia ketika kamu menanyakan kabarku. Aku bahagia memilikimu, sayang.

Bahagialah, sayangku. Bahagialah dengan apapun yang kamu miliki. Milikilah yang kamu butuhkan. Milikilah apapun yang kamu suka. Tapi kau sudah belajar, kan, kalau tak semua yang kita inginkan dapat kita miliki? Kamu harus berusaha mendapatkannya. Kalau kau sudah berusaha tapi tidak juga mendapatkannya, itu berarti kau memang tidak ditakdirkan memilikinya. Ikhlaskan, nak. Kita harus menjadi manusia yang pandai bersyukur dan ikhlas. Kalau kau sudah menguasai keduanya, hidupmu pasti tenang. Tuhan Maha baik. Ia pasti memiliki rencana yang luar biasa untukmu, permataku.

Aku sadar, suatu saat kita pasti harus mengikhlaskan satu sama lain. ya, aku juga masih belajar ikhlas, nak. Mari sama-sama belajar. Ikhlaskan aku jika aku meninggalkanmu suatu saat nanti. Ikhlaskan semua, nak. Doakan aku selalu. Aku selalu mendoakanmu. Aku menyayangimu. Bersyukurlah. Bahagialah, sayangku..

mengenang mimpi

Kemarin, ketika aku di mobil saat hujan amat deras, tiba-tiba aku ingat ketika masih anak-anak. Dulu sekali, ketika rumahku masih di kontrakan tiga petak. Dulu, ketika aku belum mengenal apa itu munafik. Dulu, ketika dunia begitu indah.

Aku ingat, dulu di samping rumah. Aku, Iqbal, dan Deden, teman-teman sepermainanku, membual tentang masa depan. Aku bilang dengan bersemangat “aku nanti mau punya mobil. Enak, kalo hujan gak kehujanan. Bisa bawa orang banyak lagi!”. Iqbal dan Deden berbeda pendapat denganku. mereka mau punya motor saja. mereka bilang lebih keren motor daripada mobil karena bisa nyalip. Kalau hujan mereka tinggal pakai jas hujan dan jaket.

Dulu kami suka membual. Membayangkan hidup mewah yang sepertinya tidak akan kami miliki. Dulu kami hanya bocah ingusan yang memandang takjub teman kami yang diantar dengan mobil ke sekolah. dulu kami suka berkhayal macam-macam.

Dulu, saat sekolah, aku harus melewati komplek perumahan mewah. Di komplek itu semua rumah memiliki bel. Aku membayangkan suatu saat aku akan memiliki rumah yang seperti itu juga, yang memiliki bel. Pasti keren. Rumahku yang dulu, kontrakan tiga petak, tidak cocok kalau diberi bel. khayalan itu aku simpan sendiri, tapi selalu ada setiap berangkat dan pulang sekolah. selalu hadir di angan. Sekarang rumahku memiliki bel. ternyata memiliki bel tidak sehebat bayanganku dulu. Tapi aku bahagia. Mimpiku terwujud.

Sekarang aku sudah punya mobil. Tidak kehujanan saat hujan. Mimpiku terwujud. Kudengar Deden sudah punya motor yang semi motor balap seperti yang dia impikan. Aku tidak tahu kabar Iqbal. Terakhir aku dengar dia pulang kampung ke Padang. Semoga mimpi dia juga terwujud. Amin.

Membuallah. Bermimpilah. Berdoalah. Wujudkanlah. Semesta mendukung!