Ranum

Halo, Ranum. Lama juga ya aku tidak mengirim kabar padamu. Aku rindu kamu, Ranum. Sangat rindu kamu. Kamu apa kabar? Sudah berapa cerita yang kau siapkan untukku? Cerita apa yang kau harapkan dari suratku ini, Ranum? Tapi seperti biasanya, aku bercerita sesukaku tanpa menghiraukan harapanmu. Hahahahaha. Jangan marah, Ranum. Karena kalau aku bercerita sesuai harapanmu, betapa akan membosankan pertemanan ini. Aku sayang kamu, Ranum. Aku rindu kamu. Continue reading “Ranum”

jalan adalah lorong labirin yang kadang menyesatkan pada malam seorang bersender dengan nyamannya memainkan nada muntahan hati merindu bulan yang tak kunjung membulat tapak kaki memaku ramai membuyarkan gumpalan rasa yang berkecamuk mengamuk setia adalah bohong tapi pada malam seorang selalu setia bersandar memilih untuk tak memilih jalan yang sesat pada labirin maka ia adalah […]