Catatan Tibatiba untuk Ranum

Ranum, sekarang malam sudah larut ke  dalam pagi. Di luar, hujan baru saja berhenti. Apa kabar kamu di sana? Lama tak ada kata terlontar dari kita. Aku lelah, sungguh. Tapi tak bisa lari. Kalau bisa, aku mau lari ke tempatmu. Lalu kita berbincang di depan perapian. Kau sesekali bermain gitar, dan aku menyeruput coklat panas. Aku ingin sekali menghabiskan malamku denganmu. Menjemput pagi bersama. Masihkah kau manis?

Advertisements

Kepada kawanku

​Rindu ini, kawanku, serupa benang tipis. Tapi nyatanya ada. Nyata adanya. Baik-baik di sana, di antara deru kehidupan yang kadang bising kadang hening. Senandungkan lagu (atau doa) kesukaan. Jangan biarkan Lupa melahap kita. Mimpi kita masih di depan, kita masih perlu berjalan. Sesekali tataplah langit biru di atas, seluas itu harapan kita. Jangan patah, demi cerita manis untuk dikenang nanti, ketika senja menyapa usia. 

Di Puisi Dorothea

​Di antara katakata Dorothea yang kubaca, membayang kamu. Kamu dulu sempat membayangi kata-katanya, kan? Dan di kata-kataku terbayang kamu. Sialan betul, bukan?

Cerita tentang Kura-Kura dan Temanku

Kura-kuraku mati kemarin di kolamnya. Kura-kura kecilku belum juga tua dan cukup banyak kuceritakan. Aku sedih. Tak habis pikir. Kenapa kura-kuraku yang sepertinya sehat mati di kolamnya sendiri? Aku belum juga sempat memberinya teman. Katanya kura-kura memiliki umur yang lama, tapi kura-kuraku tidak. Ia masih sangat muda dan sudah disambut kematian. Entah ia beruntung atau sial.

Tapi kura-kuraku kiranya cukup bahagia. Dia yang tidak pernah menikmati alam bebas, setidaknya mati di kolamnya sendiri dan bukan di kolam kura-kura lain. Aku kuburkan dia di pekaranganku. Kukatakan kepada kura-kuraku yang sudah mati itu, “Kau cukup beruntung karena mati di kolammu sendiri. Aku juga ingin mati di rumahku nanti. Jadi, jangan menyesali kematianmu.” Setelah kukuburkan kura-kuraku, hujan turun dengan deras. Aku di ruang tamu menikmati hujan dan teh manis panas sambil mengenang kura-kuraku yang mati muda. Read more

Hubungan Eropa dan Pribumi di Zona Kontak dalam Sang Juragan Teh karya Hella S. Haase

oleh Galuh Sakti Bandini

Pendahuluan
Indonesia sebagai sebuah bangsa pernah dijajah oleh beberapa negara Eropa. Penjajahan yang paling lama adalah penjajahan oleh Belanda, yaitu sekitar 350 tahun. Dalam penjajahan yang berlangsung cukup lama tersebut tentu saja terjadi persinggungan budaya antara para penjajah, sebagai pendatang, dan masyarakat pribumi sebagai yang terjajah sekaligus penduduk asli.

Bentuk-bentuk persinggungan budaya dapat terlihat salah satunya dalam karya sastra. Sejak 1850-an muncul terjemahan teks-teks Eropa ke dalam bahasa Melayu (Jedamski, 2009:173). Terjemahan merupakan salah satu bukti terjadinya persinggungan budaya, dalam hal ini bahasa, antara bangsa Eropa dan bangsa pribumi. Tidak hanya itu, banyak karya sastra yang menampilkan latar ruang kolonial yang tentu saja menggambarkan persinggungan masyarakat di dalamnya. Read more