Surat Hanoman

/I/

apa kabarmu, dewi trijata?
dewi terindah di antara bunga-bunga.
adakah harimu menyenangkan??
melihat bunga, kupu-kupu, kumbang, dan angin bermain di taman indah
tempat Dewi Sinta merindu kekasih?
tak usah kau khawatirkan dewi sinta yang merindu,
ia akan segera bertemu dangan kekasihnya yang selalu meragu itu.
dan kau??
adakah kau sudah memiliki kekasih?
sudikah kau, anak wibisana yang bijaksana, melihatku dengan kasih?
aku sadar diri,aku hanyalah kera bukan manusia
tapi dewa memberiku hati manusia
degup jantung kita pun sama, beriringan.
sadarkah kau dewi dari segala keindahan,
pesonamu sungguh terang layaknya mentari yang setiap hari mengejar rembulan.
rindukah kau akan kebebasan?
kau, seorang dewi, sendiri menyebrang lautan tanpa takut terbersit di benak.
lihatlah, kebenaran menyambutmu di seberang sana!
lalu aku menemanimu menyebrang lautan _lagi_,
aku membawamu terbang jauh ke awan putih dan kau selalu terpesona melihat biru laut.
tak sukakah kau dengan putih?
apakah kau mendengar suara hatiku kala itu?
kau memandangku dengan begitu rupa, hingga aku tak sanggup menatap langsung matamu.
kau adalah wanita pertama yang melumpuhkan rasaku.
untuk pertama kalinya aku merasa sebagai manusia yang utuh.
kau adalah yang pertamakali memanusiakanku.
bukan, bukan dengan sihir atau kehendak dewata,
tapi hanya dengan rasa yang entah apa namanya, kau memanusiakanku.
terimakasih untuk itu.
dan maukah kau menunggu barang sebentar?
tunggulah di bawah pohon itu,
pohon yang menjadi penyimak saat aku jatuh di pangkuanmu saat itu.
aku akan menjemputmu dan kita akan terbang,
saksikanlah dengan sepuasnya laut biru yang tak habis-habis itu.
dan nikmatilah awan putih yang berarak menyambutmu

/II/

dewiku,
hari ini tak ada senja dengan langit merah atau kuning.
yang ada hanya putih lalu hitam
aku tahu kau tak suka putih,
lalu apakah kau tetap menyaksikan langit itu atau masuk ke dalam rumahmu?
aku tak punya rumah, manisku..
maukah kau menyiapkan tempat bertandang untukku??
hanya bertandang, tidak akan aku tinggal di rumahmu sebelum kau mengijinkanku..
maka, ijinkan aku ‘tuk bertanya
maukah kau menerimaku di rumahmu??
atau kau ingin aku membangun rumah yang lain??
aku hanyalah kera, trijata..
tak pandai aku membangun rumah.
jika kau tak menginginkanku tinggal bersamamu
maka aku akan terbang, membangun rumah di awan putih,
aku menyukai putih,
amat sangat menyukai putih
sayangnya kau tak sama denganku,
haruskah ku rubah warnaku??
dewi keindahanku, kadang aku bermimpi
kita sedang duduk berdua dibawah nyiur di pinggir pantai
melihat perpaduan biru dan putih
_warna kesukaan kita berdua_
lalu kau menyandar di bahuku,
tapi itu semua masih sebatas mimpi,
maukah kau trijata, dewi terindah di bumi dan kahyangan, membantuku mewujudkan mimpiku??
kau, dewi yang selalu dalam benteng,
pernahkah kau melihat angin menari?
ya, angin memang hilang bentuk,
namun, saat daun-daun menari, bukankah ia menari bersama angin?
benar angin memang dapat menari.
dan benar aku mencintaimu,
tapi bukan seperti angin yang harus hilang bentuk,
kau dan aku mempunyai bentuk,
sayangnya bentuk kita berbeda.
dan aku tetap mencintaimu dalam ragaku yang berbeda dengan ragamu..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s