Surat Trijata

/I/

Hanoman,
aku baik-baik saja
kalau tak percaya tengoklah aku di sini,
-di tempat pertamakali kita jumpa-
hanoman, kenapa kau masih saja mempertanyakan perbedaan??
lalu mengapa kalau kita berbeda?
aku juga berbeda,
kau tentu tahu aku bertempat di dunia raksasa,
terbiasa sudah ku dengan beda.
kau tahu, wanara putih
mata beningmu telah mempesonaku,
matamu adalah mata terbening yang pernah kutatap.
mata kita sama,Hanoman
rasa kita sama.
dan aku telah memberimu kasih sejak kau datang dengan matamu yang bening,
rasa tak pernah mengenal raga.
raga tak pernah mengubah diri menjadi jurang pemisah bagi rasa yang hendak saling menggenggam.
wahai putra anjani, tak terdengarkah olehmu
saat aku membisikkan kata cinta apada awan yang sama putihnya denganmu,
dan tak sampaikah bisikan rinduku yang kutitipkan pada angin yang berlari?
saat kau membawaku melihat laut dari atas,
yang kulihat hanyalah biru,
betapa biru menenangkan…
yang kudengar hanyalah degup jantungmu…
semoga kau dapat membaca bahwa aku menikmati saat degup jantungmu terdengar di telingaku,
dan menggema hingga ke jantungku
yang membuat ia berdegup kencang tak keruan.
hanoman, setiap kali daun-daun di pohon taman itu bergemirisik,
aku harap yang menggodanya adalah engkau sang wanara jenaka
namun ternyata angin yang menggodaku,
dia tahu benar caranya menggoda insan yang merindu.
hanoman, matahari sudah pergi menjauhi rembulan yang sebentar lagi akan berjalan gontai ke atas atap rumahku
maka kusudahi saja surat ini,
dan tolong sampaikan salamku pada rama yang seolah mati raga
dewinya di sini masih suci tanpa pernah ragu bahwa rama kan meragu..

/II/

Hanoman,
aku, trijata, membayangkanmu menghampiriku di gelap malam sunyi.
salahkah aku yg mencintamu,
sedang aku baru belajar mengeja kata cinta.
Hanoman, kau wanara bermata bening,
hatimu selembut kapas,
kau mengetahui tiga dunia.
pantaskah aku, trijata, yang belum mengenal alam semesta bersanding denganmu?
kau tahu aku benci sunyi,
lalu bagaimana aku mengubur sunyi,
jika tak ada tawamu untuk menimbunnya?
hanoman, mari kita pergi jauh.
ajari aku berbincang dengan para lebah,
adakah mereka bosan dengan manisnya madu?
ajari aku memahami bahasa laut yang selalu bercerita lewat ombak dan gelombang
Hanoman, mari kita menikmati buih pantai
yang membelai kaki-kaki kita yang telanjang.
Mari kita terbang setinggi awan putih yang menggantung,
lihatlah! kau seperti menyatu dengan mereka.
maukah kau menyatu denganku?
Hanoman, putra Anjani,
mainkanlah serulingmu
antar aku ke alam imaji.
kau dan aku adalah makhluk penghuni bumi
yang baru belajar mencinta.
duniaku, duniamu tentu beda.
aku adalah manusia di tengah para raksasa,
sedang kau adalah kera di tengah kera lainnya.
aku sudah terbiasa dengan beda,
dan aku tak suka membedakan.
matamu, hatimu, jantungmu, rasamu sama denganku.
kau, aku terselubung rindu
mari menyatu
melebur dalam balutan kasih.

Advertisements

2 thoughts on “Surat Trijata

  1. puisi/ suratnya bagus banget!
    aku kagum banget sama tokoh Trijata, Hanoman, dan Sita 🙂
    ijin nampilin puisi di Status FB sama blog ya?
    makasih … salam kenal !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s