Terima Kasih, Ranum

Selamat pagi, Ranum! Bagaimana pagimu di sana? Pagiku di sini menyenangkan. Hujan turun dengan tenang, udara sejuk, dan tidak ada kebisingan. Hari pertama di tahun baru yang menyejukkan. Dan apakah padi yang beberapa bulan lalu hijau sudah menguning, Ranum? Kamu kan pernah bercerita tentang hamparan sawah yang hijau dan menyejukkan mata. Aku harap musim hujan […]

Halo, Ranum! Ini Cerita tentang Jatuh Hati

Selamat pagi, Ranum. Bagaimana mimpimu semalam? Aku harap mimpimu dapat membuatmu tersenyum ketika terjaga. Semalam aku lupa mimpi apa. Mimpi yang gampang dilupa berarti mimpi yang tidak menarik. Mimpi yang tidak menarik tidak perlu aku ceritakan kepadamu atau siapapun. Bagaimana pagimu? Pagiku indah dan damai sebab hujan turun rimis, menenangkanku. Aku sudah pernah bercerita padamu, […]

Halo lagi, Ranum

Ranum, maafkan aku yang sudah lama sekali tidak menulis surat untukmu. Ada banyak peristiwa yang terjadi selama aku tidak menulis untukmu. Awalnya aku ingin menulis surat untukmu setiap ada peristiwa yang menyita perhatianku, tapi ternyata energiku terkuras. Akibatnya, peristiwa itu kemudian berlalu begitu saja. Ada sebagian yang masih aku ingat, sebagian lainnya terlupakan. Aku sudah […]

Selamat Tahun Baru, Ranum!

Selamat tahun baru, Ranum! Iya, aku tahu aku terlambat mengucapkannya. Tapi sekarang masih awal tahun, jadi ucapanku masih terasa baru. Iya, kan? kamu menghabiskan pergantian tahun dengan apa? Dengan kesendirian atau dengan tawa riuh rendah? Aku menghabiskannya dengan tidur, seperti malam-malam lainnya. Hahahaha. Aku tidak merasa pergantian tahun harus dirayakan. Tidak ada yang spesial di […]

Ranum, Ini Ceritaku

Selamat pagi, Ranum. Maaf aku bohong. Di surat terakhirku, aku bilang bahwa aku akan mengirimimu surat lagi setelah surat tersebut, nyatanya tidak. Maaf juga surat ini tidak dimulai dengan menanyakan kabarmu, tapi dibukan dengan permohonan maaf. Apakah kamu merindukan ceritaku, Ranum? Sudah lumayan lama aku tidak bercerita padamu. Jadi, apa kabarmu? Aku sudah lama berhenti […]

Ranum

Ranum, aku ingin menangis.┬áBukan. Bukan karena hidup ini indah, tapi karena ini terlalu menyakitkan. Terlalu menyesakkan. Ternyata sesakit ini, Ranum. Aku tidak sanggup menahannya. Aku ingin merinai pada dini hari yang sepi ketika ia bahkan tak tahu aku sedang merinai. Atau menjadi kabut pada pagi sehabis hujan dan menyaksikan daun-daun mulai terjaga. Atau menjadi sesuatu […]