Reracau

Pasti banyak yang cinta Semar. Tapi siapa yang cinta Togog? Mungkin tak sebanyak yang cinta semar. Aku pernah ingin mencintai Togog, tapi takut karena tak lazim. Seperti warga Ayodya yang mencintai Rahwana. Aneh. Lalu kini aku semakin asing dengan perasaanku sendiri. Aku takut. 

Kutipan Cerita dalam Kepalaku

“Biar kubawa ini ke kutub, tempat terjauh darimu.” katanya sambil mengambil gelisah dan khawatir dari kepalanya. Ia masukkan yang ia ambil dari kepalanya ke dalam karung. Ia ikat kuat-kuat. Tak banyak khawatirnya, tapi kuat. Lalu ia pergi sambil membawa karung itu. Hanya karung itu yang ia bawa. Sambil tersenyum dia bilang, “Mungkin ada baiknya aku […]

Meracau itu nikmat

Pada mulanya adalah salah dan kalah. Siapa yang tahu akhir? Dan doa hanya meluncur bila perlu. Siapa yang perlu? Manusia dan segala keanehannya jangan diharapkan, bisa mati capek nanti. Memang sudah waktunya sadar dan lekas bangun. Sudah bukan zamannya lagi untuk bermimpi. Mimpi hanya perlu jika sudah muak dengan nyata.

Ah, ribet! Sedang mata masih saja memiliki air; otak dan hati masih memiliki pertentangan. Tapi itu bagus. Artinya hidup masih normal. Ketika semua teratur dan damai itu pertanda akhir sudah dekat. –Meracau itu nikmat!– Continue reading “Meracau itu nikmat”

Ricuh

Pagiku tersentak Ada yang lowong yang sepertinya harus diisi Kakiku beranjak menapak ke entah Sepertinya ada yang harus dikejar Persimpangan sudah di depan, sebentar lagi Perbincangan menjadi penting  saat ini Celoteh mendadak mati Mati! Harus ke mana lagi? Hilang arah itu aneh. “Sayang, apakah aku sia-sia?” tanya waktu.