Hai

:Untuk temanku yang pemalu

 

Hai,
kalau mau, menangis saja
tak perlu malu
apalagi kepadaku

sebab aku persis tahu
hatimu tersayat
dan sayatan selalu pilu
bila kau tidak membiusnya

Aku tahu,
aku tak memiliki obat untuk lukamu
Tapi aku punya waktu untuk mendengar kisahmu
agar tak terlalu berat ia mengendap di laramu

agar senyum segera hadir di wajahmu

Advertisements

Racauan untuk Ranum

Ranum, di luar sedang purnama. Ayo kita habiskan malam ini dengan bercerita di halaman depan rumahmu. Kalau malam semakin dingin, kita masuk ke dalam. Ranum, aku tahu aku delusional, kita kan beda kota. Hahahaha. Tapi aku sungguh rindu kamu saat ini. Aku sungguh ingin bercerita denganmu. Tadi, ketika aku sedang sekilas memandang langit, aku lihat bulan sedang bulat-bulatnya dan aku langsung teringat kamu.

Ranum, kenapa manusia mengenang? Apakah karena kenyataan sudah terlampau pahit? Ranum, kenapa kura-kuraku mati muda, ya? Aku rindu sekali dengannya yang diam. Ranum, bagaimana cara kunang-kunang berbahagia? Aku ingin bahagia, Ranum, meski tahu bahwa tidak akan ada akhir selain mati. Ranum, kenapa kepala suka berdenyut-denyut kalau sedang banyak pikiran, ya? Pikiran itu berdenyut? Seram juga, ya. Ranum, kenapa hidup memaksa banyak manusia untuk memilih mati? Ranum, kenapa dongeng lebih indah dari penjelasan pak guru tentang magnet? Ranum, kenapa anjing tidak suka roti? Ranum, apakah singa pernah bermimpi jadi gajah? Ranum, kenapa airmata tidak terbang saja? Tolong katakan kepada air mata untuk jangan jatuh kalau tidak bisa bangun. Ranum, kenapa ibuku sudah tidak mau mendongeng ya? Ranum, kapan terakhir kali kamu menyanyi untukku? Ranum, di mana rumah bagi cahaya? Ranum, kenapa aku cerewet sekali?

Ranum, sesunggunya aku hanya rindu kamu. Sangat rindu kamu. Sungguh.

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini.

Kabar Singkat dari Jakarta

Selamat pagi…

Hari ini aku memutuskan menggunakan kereta. Alasannya? Aku sendiri tidak yakin. Entah karena alasan penghematan atau hanya malas sendirian di mobil. Aku sudah terbiasa dengan keberadaanmu di sampingku.

Tahukah kamu kalau keretaku mengalami gangguan? Kereta yang aku naiki berhenti cukup lama sebelum memasuki stasiun transit. Dan tahukah kamu kalau aku juga merasa sendirian di kereta? Ahahahaha. Padahal di kereta ada banyak orang, padahal ada layar yg berisik berbicara meski tak ada yg mendengar, padahal ada operator yg selalu menyebutkan stasiun pemberhentian, padahal aku tak sendirian. Aneh ya?

Masalah sepi dan kesepian memang dua hal yang berbeda sih.

Semoga malammu tenang. Semoga kamu disambut mimpi indah ketika meninggalkan keterjagaanmu. Semoga kamu bahagia ketika meninggalkan mimpimu.

Selamat malam untukmu! Selamat pagi untukku. Aku di sini baru akan memulai hari. Hhe

Suatu Sore, Suatu Cerita.

Bayangkan Kota Hujan yang biasa kau saksikan di televisi dengan pohon rindang di sisi jalannya. Bayangkan Kota Hujan itu benar-benar hujan. Hujan yang tenang tanpa angin yang ribut. Jalanan basah, tapi kau tidak, sebab kau sedang berada di dalam mobil. Kau sendirian sore itu. Kau asik mengemudi di sepanjang jalan rimbun yang basah. Lantunan musik lembut kesukaan mengambang menemanimu. Kau merasa tenang. Kau merasa cukup. Kau menerka, apakah ini pantas disebut bahagia?

Lalu kau ingat tentang kekasih yang kemarin baru saja pergi. Ia pergi jauh ke benua lain. Lalu kau ingat bahwa malam yang akan segera kau cecap adalah pagi di benua kekasihmu. Kau akan diliputi kegelapan, sementara dia akan menikmati cahaya. Lelapmu adalah keterjagaannya. Lalu kau membayangkan jeda yang sepi yang akan tercipta. Lantas kau rasakan getir di dalam dadamu. Sedikit saja, hanya satu detak. Tapi tetap membuatmu kembali bertanya, apakah kau masih bahagia?

Kau masih meluncur di jalanan basah Kota Hujan. Hujan masih meluncur ke bumi dari langit. Kau tidak terlalu keras menginjak pedal gas dan jalanan tidak begitu sepi, jadi kau memang tidak bisa melaju kencang. Di sela-sela hujan yang jatuh, laju mobilmu, dan jalanan basah, pikiranmu menggelayut. Kau ingat lagi semua waktu yang membahagiakan yang telah kekasihmu ciptakan khusus untukmu. Kau ingat lagi derai tawanya yang renyah juga lembut usapannya pada kepalamu. Kau ingat lagi genggamannya pada tanganmu juga rengkuhannya. Lalu kau yakin, kau bahagia.

Sebentar lagi kau akan sampai di tujuanmu, sebuah kafe kecil di tengah kota. Kafe kecil terpencil di tengah kota. Pikiranmu sudah tidak mengambang lagi. Kau membayangkan kekasihmu akan datang sebab ia sudah berjanji akan kembali. Kau yakini janjinya. Kau mengamini keyakinanmu sendiri. Kau yakin akan bertemu kembali dengan kekasihmu dan berbahagia. Kau mengamini hal itu sepenuh hati.

Dan kau tiba di kafe kecil terpencil di tengah kota itu. Kafe dengan kebun yang hijau dan rindang, juga basah tentunya. Kau memilih duduk di pojok yang terang. Kau pesan segelas lemon sereh hangat sebab hatimu juga hangat. Kau buka buku yang memang kau bawa dan mulai membaca. Pikiranmu sudah tidak lagi penuh dengan kekasihmu sebab pikiranmu sudah terisi dengan dunia yang ada di dalam bacaanmu. Tapi hatimu penuh dan hangat. Kau merasa tenang. Kau merasa cukup. Dan kau tak lagi bertanya apakah ini dapat dikatakan bahagia.

Tak ada judul

Untuk SMO

 

Pukul 2.29 dini hari

Apakah kamu sedang bermimpi?
Jarak memang kadang sialan
sebab aku ingin menyelimutimu
saat ini
dan memandang matamu
yang paling polos

‘Kan kurapal doa paling halus
untuk membalut hatimu
agar hangat ia selalu
sambil kuusap keningmu

berlabuhlah di mimpi paling indah
sudah cukup gelombang kau hadapi
kini waktunya kau rebahkan semua lelah
kau butuh jeda, sayang,
sebelum kau mengayuh kembali kapalmu

Aku akan menjelma lautmu

Lupa

Ada yang nyaman digenggam luka

Derai tawa penuh duri

dan air mata nyeri

ia tak lagi peduli

 

Ia lupa diri

ia sudah mati

Bunga

Di lelapku, ada kita di meja taman,

Di depan rumah kita,

Menikmati kopi panas

Bercerita dan sesekali tertawa

Pada suatu pagi

 

Di jagaku, ada kamu dan aku

Dipeluk mimpi

Bahagia

Pada suatu masa

Racauan siang

Tanya lagi ke dalam

Jauh ke dalam

“Apakah siap?”

Sebab pada akhirnya

Kamu hanya sendiri

Benar-benar sendiri

Mengatur semua

Bahagia dan kecewa

Halo, Ranum!

Halo, Ranum! Apa kabar gitarmu? Masih sering kau dekap dan petik? Apakah ia masih mampu menghiburmu? Apakah ia masih mampu mengolah rasa bosan menjadi kesenangan? Aku rindu mendengarmu bermain gitar sementara aku meracau tentang ini dan itu dan hal-hal lain di luar ini dan itu.

Kali ini aku ingin bercerita tentang dia, lelaki ajaib yang kutemui. Dia ajaib sebab dia adalah perwujudan mimpi sekaligus ketakutanku. Aku dulu pernah cerita tentang profesorku, bukan? Profesor yang aku takuti ketika aku S1 dan ternyata menjadi ketua Tim Penelitianku ketika aku S2. Semesta memaksaku menghadapi hal yang aku takuti dan ternyata, setelah lebih dekat, tidak semenakutkan itu. Lelaki itu juga sama dengan profesorku. Kau kan tahu aku takut dengan dunia militer; aku takut Tentara dan Polisi, bahkan satpam. Sementara dia adalah lelaki yang akrab dengan dunia militer. Aku dipaksa dekat dengan dunia yang aku takuti. Dan ajaibnya, aku sama sekali tidak takut dengannya, dengan dunianya.

Pertemuanku dengan dia juga ajaib. Kami bertemu sebagai dua orang asing dan aku tidak menaruh perhatian kepadanya. Aku pikir aku tidak akan bertemu atau berhubungan lagi dengannya, sama seperti orang-orang asing lainnya yang kutemui di dalam hidupku. Tapi Semesta sungguh lucu, sebab kami kemudian bertukar kata hingga akhirnya kami memutuskan bertemu di kota kesukaanku (yang mungkin juga kesukaannya). Dia manis sekali saat itu, Ranum. Ia membuat aku tenang menghadapi masalah (dia lebih suka menyebutnya dinamika) dan mengantarku pulang ke rumah dan ia masih sempat berkelakar. Setelahnya, ia membuatku sulit tidur karena aku ingin bertemu dengannya lagi sementara kenyataannya tidak memungkinkan bagiku. Ia tidak tahu kalau dia membuatku sulit tidur. Bahkan hingga ponselku kehabisan daya, aku masih tak mampu terlelap. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk kembali bertemu sebelum dia pergi jauh. Aku sungguh ingin bertemu lagi dengannya, kali ini tanpa harus bertemu dinamika. Dan kami benar bertemu.

Hari itu kuhabiskan waktu hanya dengannya sejak pagi hingga malam. Aku ingat, aku bahagia hari itu sebab dia masih juga manis padaku. Kami mampir ke tempat servis ponsel, toko buku, makan siang, bertemu dengan temannya, makan malam, lalu pulang. Sederhana memang, tapi membahagiakan. Kami terus menerus bercakap dan bercerita. Kami tertawa dan saling mencoba memahami. Hari itu aku tahu apa yang aku mau, aku ingin lebih memahaminya, memahami dunianya. Aku ingin memahami kekhawatirannya, kegelisahannya, ketakutannya. Aku juga ingin ada di bahagianya dan mimpinya.

Akhirnya ia pergi jauh dan kami terpaut jarak. Jarak menghidupkan hasrat kami dan aku belajar untuk berbahagia dengan yang ada. Aku sudah cukup bahagia mendapat kabar darinya setiap hari, sebab dia pernah berkata bahwa dia mungkin akan hilang kabar. Aku mensyukuri setiap kabar yang datang darinya. Aku mensyukuri keberadaanya di dalam hidupku.

Ranum, sudah sempat kubilang tadi bahwa ia adalah perwujudan doa-doaku. Sebelum aku bertemu dengannya, aku sering berdoa pada Tuhan untuk mempertemukanku dengan lelaki yang bertanggung jawab dan memiliki pemahaman yang luas. Lalu Tuhan menjawab doaku dengan mempertemukanku dengan lelaki ajaib itu. Dia tidak pernah memaksaku untuk melakukan sesuatu, dan aku menyukai cara dia menghargai pendapatku. Aku juga menyukai cara dia menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Tuhan yang mahabaik memberiku kesempatan untuk dekat dengan lelaki ajaib itu. Tuhan sungguh mahabaik, mahapenyayang. Masih banyak hal lain yang membuatku merasa dia adalah perwujudan doa-doaku dulu.

Ranum, ia sering berkelakar tentang istilah apple to apple. Pada pertemuan kami yang kedua di kota kesukaanku, aku pernah mengatakan padanya bahwa perbandingan yang ia berikan tidak apple to apple. Dulu ia hanya mengalah dan tertawa dan mengajakku toss. Hahahaha. Kini ia sering jadikan hal itu sebagai kelakar. Ia akan berkata “Hellooowww, you said ‘apple to apple’ to a man from big apple!”. Aku akan diam dan tersenyum, paham kalau sudut pandangku masih terlalu sempit. Ia bilang, tidak semua hal di dunia harus apple to apple sebab hidup seringkali menghadapkan kita pada situasi yang tidak apple to apple. Aku paham. Sangat paham. Dan ia pasti lebih paham lagi. Pengalaman hidupnya jauh lebih banyak dariku meskipun umur kami hanya berbeda satu tahun.

Ranum, kuberi tahu hal-hal yang aku suka darinya kepadamu. Tapi jangan sampai dia tahu, ya. Nanti dia kepedean. Hahahaha. Aku senang ia tidak pernah membiarkanku kelaparan. Ia selalu memberiku makan. Kau tahu, kan, makanan adalah salah satu sumber bahagiaku. Ia juga membuatku berani bermimpi dan menghidupi mimpiku. Aku janji, aku akan menjadi wanita keren dan mengajaknya makan di tempat keren. Hahaha. aku juga senang sebab ia mengajakku pergi ke tempat baru dan menjagaku. Aku merasa aman di dekatnya. Dia juga membuatku merasa nyaman, sangat nyaman malah. Dia dapat membuatku nyaman dalam waktu singkat, makanya kusebut ia lelaki ajaib. Sebenarnya masih banyak hal yang membuatku menyebutnya lelaki ajaib. Tapi aku tak mampu mengungkapkannya. Aku menggunakan kata jaib untuk hal-hal yang sulit aku jelaskan.

Sudah terlalu panjang suratku untukmu, Ranum. Padahal aku masih ingin bercerita tentang kebetulan-kebetulan yang terjadi antara aku dengan lelaki itu. Mungkin aku akan bercerita tentang hal itu di surat lainnya. Surat ini kucukupkan sampai di sini. Intinya, aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku bahagia. Hehehehe. Aku harap kamu juga bahagia di sana. Aku berdoa untuk kebahagiaan dan kesehatanmu. Jangan telat makan, ya. Lain kali, kalau kita bertemu, aku akan membelikanmu coklat panas. Dan jika saat itu tiba, kamu harus banyak bercerita kepadaku, baik tentang hidupmu atau tentang “Hidup” itu sendiri. Ranum, aku menyayangimu (juga lelaki ajaib itu. hehehe).

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini.