Cerita Ibu

20180614_060626

Malam itu, ibu bercerita tentang perjalanan.
Perjalanan yang sangat panjang.
Di dalamnya ada bahagia, ada sedih, ada lelah, ada semangat.
“Perjalanan itu adalah hidup, nak,” kata ibu.
“Ibu pastikan di sepanjang perjalanan panjangmu terdapat doa yang baik,” tambahnya.

Ibu bilang, dalam perjalanan panjangku, aku tak akan selamanya bahagia, sebab kecewa dan sedih juga bagian dari perjalanan.
“Ingat, jangan pernah berlebihan dalam perjalananmu. Jangan terbuai dalam kesenangan dan tenggelam dalam kesedihan,” ujar ibu menutup cerita.

25 Juli 2014

Advertisements

Percakapan pada Suatu Malam

karena mata berbahasa

dan aksara bisa merasa,

kita dapat berbahagia

 

Aku rasa, hatimu setenang telaga

sebab aku setenang itu menikmatimu.

***

Mari kita berbahagia

dengan doa yang lembut,

dengan mimpi yang riang.

Mari kita berbahagia

Dengan apa yang ada

 

Ingatan tentang Suatu Malam

Aku masih teringat saat itu, perjalanan pulang:

Laju mobil yang sengaja dilambatkan,

Cerita yang mulai mengalir,

Hutan jati yang sunyi,

Jalanan yang basah,

Gelisah yang mulai reda,

Senyum yang malu-malu,

Dan kamu.

 

Semua manis dirasa

Terima kasih

 

 

Catatan Diri

Sekitar delapan atau sembilan tahun lalu, aku pernah menulis tentang hidup dan pilihan. Intinya, dulu aku merasa bahwa kita harus selalu memilih di dalam hidup karena sejatinya hidup hanyalah perkara pilih memilih. Alangkah baiknya jika kita sebagai aktor utama dalam hidup dapat memilih setiap pilihan dengan sadar.

Kini aku juga ingin menulis tentang pilihan. Aku tidak akan menyangkal pemikiranku dahulu. Aku hanya ingin menambahkan beberapa hal. Diriku yang dulu belum pernah dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit. Tentu, pendapatku ini sangat wagu. Aku memaknai diriku yang dulu menggunakan kacamata diriku yang sekarang. Tentu saja, dulu mungkin aku pernah menghadapi pilihan yang sulit. Tetapi semakin aku dewasa semakin aku paham, perkara pilih-memilih adalah perkara yang rumit.

Manusia dewasa seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak dapat dipilih dengan cepat. Atau dalam kasus ekstrem, mereka diharuskan memilih yang tidak ingin dia pilih. Apakah hidup masih perkara pilih memilih jika begini? Manusia dewasa terikat oleh berbagai perangkat peraturan yang mengharuskan mereka tunduk atau patuh. Hal itu membuat mereka tidak lagi dapat memilih karena kadang ada pihak dengan wewenang yang lebih besar yang memilih untuk mereka. Tentu saja, sebenarnya mereka dapat memilih memberontak. Tapi, mereka harus sanggup dengan risiko yang mengikuti.

Kalau aku dapat bertemu dengan diriku yang dulu, aku ingin berbicara masalah pilih-memilih ini. Aku akan katakan padanya bahwa ada beberapa pilihan dalam hidup yang juga berdampak kepada kehidupan orang lain. Apakah kita sebagai yang memilih sanggup juga bertanggung jawab atas pilihan yang kita buat di dalam kehidupan orang lain? Kalau jawabannya iya, maka kita termasuk beruntung. Kalau tidak, kita harus memikirkan lagi matang-matang segala dampak yang mungkin muncul. Mulai dari kemungkinan terbaik, hingga yang terburuk. Atau kita dapat memikirkan opsi lain yang dapat dipilih, yang tentu saja dianggap lebih baik.

Wahai diriku yang dulu, beruntungnya dirimu yang dapat memilih dengan bebas. Kamu manusia merdeka, tapi belum dapat memaknai kemerdekaan. Kini, aku dapat memaknai kemerdekaan karena aku sadar bahwa aku tidak sepenuhnya merdeka. Tapi tidak apa, aku tidak menyesali segala pilihan yang aku buat.

Aku juga ingin berkata kepada diriku yang dulu untuk berhati-hati memilih kata. Sekali kata keluar dari mulut, ia tidak bisa ditarik lagi. Dan kata-kata, wahai aku yang dulu, sungguh sangat kuat. Ia dapat melembutkan hati yang keras. Ia dapat memberikan pemahaman. Ia juga dapat menjadi media bagi manusia untuk berimajinasi. Tapi kata-kata juga dapat sangat menyakitkan. Ia dapat menusuk perasaan, membawa kebencian, atau bahkan memupuk dendam.

Semoga kita selalu dapat mengucapkan kata-kata yang menyejukkan, atau setidaknya tidak membawa kebencian. Mungkin karena tahu betapa kuatnya kata-kata, aku lebih sering mendengarkan daripada berbicara. Aku takut, kata-kataku lebih tajam dari belati. Sementara aku paham, tak selalu kata “maaf” dapat menyembuhkan. Tapi aku tidak memungkiri bahwa aku pernah juga mengeluarkan kata-kata yang tajam. Setelah lawan bicaraku berdarah perasaannya, perasaanku hancur. Aku merasa bersalah. Kata “Maaf” kadang tak ada gunanya. Aku yakin, dia pasti bisa merasakan maafku yang tulus, dan jika ia tidak menerima maafku, aku rela. Aku yang salah, aku menerima kebenciannya.

Dan untuk diriku di masa depan, seperti yang dikatakan oleh diri kita di masa lalu, hidup itu perkara pilih-memilih. Kamu akan selalu memilih hingga nanti. Aku berharap kamu selalu dapat memilih dengan sadar. Kamu tidak boleh menyesal dengan apapun pilihanmu. Semoga kamu dapat memilih yang baik, baik bagi dirimu juga orang di sekitarmu. Mungkin nanti kamu harus memilih untuk orang lain, pastikan pilihanmu membuat mereka lebih baik. Semoga kamu dapat selalu memilih dengan kasih dan cinta sehingga hasilnya juga akan baik. Aku akan belajar banyak agar kamu nanti dapat lebih dewasa dan bijaksana dalam memilih, juga kuat dengan segala risiko yang mengikuti pilihanmu.

Hmmm

“Setelah ini, apa?”
Pertanyaan yang selalu muncul di setiap akhir.
“Setelah ini, apa?”
Pertanyaan yang hadir di setiap akhir rencana
“Setelah ini, apa?”
Pertanyaan yang lupa bahwa ada pertanyaan yg lebih penting “apa masih akan ada ‘setelah ini’“?

Ranum, Ini Permohonan Maaf

Ranum, apa kabar?
Surat ini selalu dibuka dengan pertanyaan yang sama, menanyakan kabarmu. Ini bukan basa-basi, Ranum. Aku memang benar ingin tahu kabarmu. Apakah kamu benar bahagia di saat ini? Aku selalu berharap kebahagiaan menaungimu sehingga kau juga dapat memercikkan kebahagiaan ke sekitarmu.

Dan apa kabar pula kotamu? Mana yang lebih sering menyapanya, terik atau hujan? Kotaku lebih sering basah. Aku akan terbangun dengan bahagia jika air masih merintik dari awan yang singgah di atas kotaku. Bahagiaku bukan bahagia yang meledak-ledak dan membuat senyum mengembang sepanjang hari. Bukan seperti itu. Aku merasakan bahagia yang tenang, melenakan, dan membuatku ingin memperlambat waktu. Pada saat seperti itu biasanya aku tidak akan bersegera untuk memulai hari. Tapi bukan berarti aku tidak menyukai terik. Aku juga suka jika hariku dimulai dengan mentari yang bersinar cerah. Kalau matahari sudah menyala pada pagi, aku akan segera beranjak dari ranjang dan bersiap memulai hari. Sepertinya sinar matahari memberi semangat pada pagiku.

Aku ingin meminta maaf padamu, Ranum. Maaf aku jarang berkirim kabar dan jika suratku belakangan kepadamu terasa hambar. Aku tidak ingin dan tidak akan menyalahkan keadaan, aku yang salah. Aku yang tidak benar-benar menaruh hatiku pada setiap kata yang aku kirim padamu beberapa tempo lalu. Ini pengakuan dosaku padamu yang paling tulus. Dan aku harap kamu bisa memahami dan memaklumiku hingga akhirnya bisa memaafkanku. Pun jika kau tidak merasa itu sebuah hal yang perlu dimaafkan, aku tetap ingin meminta maaf padamu. Demi ketenangan jiwaku sendiri yang merasa bersalah padamu.

Sudah lama aku sadar bahwa aku semakin kering, begitu juga kata-kataku yang semakin tajam. Tentu saja aku paham sebenarnya ini hal yang wajar saja, semua kan memang akan selalu berubah. Tidak ada yang tetap. Tapi perubahan ini tidak membuatku nyaman. Atau setidaknya kupikir seharusnya aku bisa berubah menjadi lebih baik dari ini. Untuk berubah menjadi lebih baik aku pikir langkah pertama yang harus aku lakukan adalah meminta maaf pada orang-orang yang pernah tersakiti oleh kataku. Tentu, aku paham aku tidak benar-benar tahu siapa saja yang pernah tersakiti olehku. Bisa jadi sangat banyak, bisa jadi banyak juga yang tak peduli pada kata-kataku. Tapi demi ketenangan jiwaku, aku meminta maaf pada setiap orang yang aku pikir terluka olehku. Bukan hanya oleh kata-kataku yang tajam, tapi juga kata-kataku yang kering dan minim makna karena apalah artinya kita bercerita kalau tak ada makna terkandung di dalamnya. Jika itu yang terjadi, tak sampai selemparan batu kita pasti sudah lupa apa yang tadi diceritakan karena tak merasa itu berarti.

Kamu bukan orang pertama yang aku minta maafnya. Kemarin aku jumpa seorang teman baik yang aku rasa tidak terluka oleh perkataanku, tapi aku sudah terlalu lama berbohong padanya. Aku dulu sempat berpikir untuk menjadikan ini sebagai rahasia mutlak, tidak akan ada yang tahu apa yang aku rasa. Tapi, hidup memang sungguh lucu. Aku tak sanggup menyimpan rahasia ini, lalu akupun bercerita pada sahabatku, satu dua orang. Lama-lama aku merasa ini tidak lagi menjadi rahasia. Perasaanku yang selama ini aku pendam, yang aku pikir rahasia, sudah tidak lagi utuh dan menjadi semakin lamur.

Temanku itu sibuk dan sulit untuk ditemui. Aku beberapa kali minta untuk bertemu, tapi tidak kunjung dapat bersepakat tentang hari hingga akhirnya kami menyepakati sebuah hari untuk berjumpa. Pada hari itu aku bertekad untuk berkata sejujur-jujurnya padanya tentang apa yang selama ini aku pendam dan rasa. Aku yakin sebenarnya ia selama ini tahu apa yang aku rasa. Aku yakin ia tidak akan sekaget itu mendengar pengakuanku. Aku membayangkan hari itu akan berjalan lancar.

Hingga akhirnya aku benar jumpa dia. Ia tiba pada siang dan senyumku mengembang tanpa bisa aku kendalikan, mungkin karena rindu. Kami sama lapar, jadi kami pergi ke sebuah tempat makan. Kami berbincang tentang banyak hal yang terjadi di hidup kami masing-masing. Kami kenyang dan bahagia. Aku mengajaknya pindah ke café kecil di dekat situ, aku tahu dia suka kopi. Di sana, kami kedinginan karena pendingin udara yang menghadap langsung ke tempat kami. Hahahaha. Tapi obrolan kami hangat. Itu adalah satu hal yang aku syukuri karena aku takut kami sama-sama tak menyertakan hati sehingga percakapan hanya sekadar bertukar kata.

Lalu sore tiba dan aku belum juga berkata jujur padanya. Aku pikir akan mudah, tapi ternyata susah juga. Hingga akhirnya aku membuka percakapan ke arah sana, aku bilang bahwa sesungguhnya pada pertemuan ini aku ingin jujur padanya tentang sesuatu yang selama ini aku pendam. Kemudian aku tersendat dalam menjelaskannya. Dan setelah usai aku menjelaskan semuanya, dia bilang ia tidak tahu tentang apa yang aku rasa. Dia terlihat cukup terkejut. Dia pikir aku menyimpan rasa untuk orang lain. Lalu dia bilang, ia sempat memiliki rasa yang sama terhadapku. Lalu kami sama-sama tertawa karena merasa lucu. Ia berkomentar, “Kenapa baru sekarang? Kenapa lama sekali kau pendam itu? Kalau dulu kau langsung bilang padaku tentu ceritanya akan lain. Kita mungkin akan jadi sepasang kekasih. Tapi, mungkin kalau dulu kita sama-sama jujur, kita tak akan sedekat ini pada detik ini.” Lalu aku mengiyakan dan kami tertawa bersama. Rasa itu sudah tak ada lagi pada kami, kami paham. Tapi bukan berarti setelah hari itu kami menjauh dan hilang rasa. Kami masih akan sedekat hari itu, masih akan terus bercerita, dan masih akan tetap saling menyayangi dengan cara kami.

Aku bilang padanya bahwa dulu aku sempat merasa sangat menderita ketika harus menutupi apa yang aku rasa dari dirinya. Tapi, aku tidak menyesal karena ketika bersamanya aku juga banyak merasakan dan mengalami hal-hal yang manis. Kami sering pergi, jauh ataupun dekat, lalu berbincang hingga malam. Aku bilang padanya, “Bagiku, saat dekat denganmu merupakan masa-masa yang sangat manis.” Dia diam saja mendengarnya. Entah apa yang ia pikirkan. Aku mencoba mencairkan suasana dengan menertawakan semua yang aku ceritakan. Ia ikut tertawa. Dia bilang, “Kalau ini diubah menjadi novel pasti bagus.” Aku bilang, aku tidak akan bisa menulisnya, jadi aku suruh dia yang menulis. Dan kami sama tahu bahwa tidak akan ada dari kami yang menulis novel tentang ini. Kemudian dia kembali berkata, “Kau pendam ini selama enam tahun? Kau sabar juga, ya.”aku tersenyum

Aku mengakhiri pengakuanku pada malam. Kami masih di café yang sama, tapi pindah tempat duduk. Kami pindah ke luar, duduk di taman sambil menikmati udara malam dan lampu taman. Kami tidak lagi bicara tentang kami. Kami bicara tentang lagu-lagi indie yang diputar oleh pegawai cafe, tentang kucing di café itu yang selalu mengawasi cicak, tentang perut kami yang kembali lapar. Lalu kami makan malam di tempat lain, di tenda nasi goreng pinggir jalan, rekomendasinya. Aku memesan nasi goreng kambing, dia memesan bihun goreng. Ternyata porsinya besar sekali, aku tak sanggup menghabiskan. Akhirnya sisa makananku aku bungkus untuk dibawa pulang. Setelah makan, kami berpisah. Malam itu kami tutup dengan pelukan kaku. Hahahaha. Aku merasa malam itu dia manis sekali padaku. Entah hanya perasaanku saja atau memang benar demikian. Tapi setelah hari itu, dia akan menjadi sahabatku yang manis seutuh-utuhnya. Semoga kami akan selalu dekat dalam rasa seperti selama ini. Aku akan bilang rindu padanya ketika rindu memang sedang datang melanda.

Dan semoga setelah kau baca surat ini, kita akan semakin dekat dan jujur dalam mengutarakan cerita. Kamu adalah muara ceritaku, jangan sampai hilang. Tapi, seandainya kamu merasa terbebani olehku yang selalu bercerita, utarakanlah. Aku akan berhenti memberi cerita padamu. Jangan tiba-tiba hilang, ya, tapi kalau kau ingin pergi dariku ya boleh saja. Aku tidak pernah ingin menjadi beban bagi orang lain, apalagi bagimu.

Baiklah, kusudahi saja surat ini sampai di sini. Semoga kamu memaafkanku. Semoga pagimu selalu dimulai dengan bahagia. Semoga kamu selalu mendamaikan. Aku ingin kamu tahu bahwa aku menyayangimu.

Salam termanis,
Galuh Sakti Bandini

Montase kerinduan

:untuk temanku yang pemalu

Aku rindu,

Itu saja.

***

Kapan kita berjalan bersama lagi sambil bercerita dan berbahagia?

***

Toko roti dan kopi. Ayo kita habiskan sore di sana! Kali ini, aku yang membayar. Kau dengar ceritaku saja. Sambil makan roti dan minum kopi tentu.

***

Apakah pagimu masih sama? Dipenuhi irama musik keroncong dan aroma roti panggang?

Aku rindu menatap punggungmu, sementara kau menyiapkan sarapan kita. Aku sudah siapkan susu untuk melengkapi roti panggang buatanmu.

***

Sudah lama aku tidak bertandang ke stasiun. Tempat yang lekat denganmu. Tak pernah lagi kuhabiskan dua jam melihat kereta lewat sambil sesekali melambai gembira ke masinis. Tak pernah lagi aku duduk di kursi stasiun tua, menghabiskan secangkir kopi yang terlampau manis sambil mendengar jeritan lokomotif dan menerka jenisnya. Sudah lama aku tidak menikmati waktu santai. Apalagi bersamamu.

***

Doaku masih membumbung ke langit tampaknya. Belum sampai ke Tuhan atau kembali merinai padamu.

Halo lagi, Ranum

Ranum, maafkan aku yang sudah lama sekali tidak menulis surat untukmu. Ada banyak peristiwa yang terjadi selama aku tidak menulis untukmu. Awalnya aku ingin menulis surat untukmu setiap ada peristiwa yang menyita perhatianku, tapi ternyata energiku terkuras. Akibatnya, peristiwa itu kemudian berlalu begitu saja. Ada sebagian yang masih aku ingat, sebagian lainnya terlupakan.

Aku sudah lulus, Ranum. Kini aku punya gelar baru di belakang namaku. Aku pernah berniat menulis surat untukmu tepat setelah aku lulus, tapi ternyata aku tidak menulis apapun. Setelah aku dinyatakan lulus, aku masih mengurus dokumen-dokumen untuk mendapatkan ijazah. Lalu tiba-tiba aku wisuda. Sehari setelah wisuda aku pergi berlibur ke Jogja, kota kesayanganku. Aku terlalu lelah untuk menulis surat kepadamu. Maafkan aku, Ranum. Meskipun begitu, jangan pernah sekalipun berpikir bahwa aku melupakanmu. Kamu tidak mungkin aku lupakan.

Aku ingin bercerita betapa bahagianya aku menyandang gelar baruku. Aku juga ingin bercerita tentang perjuanganku dan kemalanganku dalam penulisan tugas akhirku. Aku ingin bercerita bahwa perjuanganku dalam menyelesaikan tugas akhir membuatku lebih menghargai gelarku, lebih menghargai kelulusanku. Hal ini tidak aku rasakan ketika aku lulus pada jenjang Pendidikan sebelumnya. Selama ini pendidikanku lancar sekali, tidak ada rintangan yang terlalu berarti, hingga kemarin ketika aku harus merombak penelitianku. Rasanya Lelah sekali. Jenuh sekali. Tapi aku ingin sekali lulus, lalu liburan. Akhirnya, setelah setahun berkutat dengan karya sastra yang sama, aku lulus. Rasanya bahagia sekali.

Tapi aku ingin bercerita tentang hal lain. Tentang kedukaan. Tentang kematian teman dekat. Tak apa, kan, Ranum? Beberapa sore yang lalu aku mendapat kabar yang sangat mengagetkan. Temanku mengabarkan bahwa salah satu teman baik kami telah meninggal dunia. Aku kaget, sedih, dan menyesal. Aku kaget karena dalam bayanganku dia masih akan hidup lama. Ternyata hidup dan mati hanya dipisahkan oleh garis yang tipis. Aku sedih karena menyadari bahwa ia sudah tidak ada. Ia dengan segala kebaikan dan suara merdunya telah tiada. Aku menyesal karena tidak menjenguknya ketika ia sakit dulu. Aku merasa semua sudah terlambat.

Ketika aku mengenangnya, aku hanya menemukan hal baik untuk diingat. Betapa ia sangat ceria. Ia tidak pernah mengeluh tentang apapun. Ia penuh dengan semangat, seorang wanita kuat yang baik hati. Ia tidak pernah absen mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Ia yang mengajarkan aku untuk disiplin dan menghargai waktu. Ia dan aku pernah terlibat satu kegiatan kampus, ia membimbingku menghadapi orang lain sehingga organisasi itu dapat berjalan dengan baik. Ia selalu menebarkan energi positif. Ia selalu bangga akan rambutnya yang mirip singa. Rambutnya indah, Ranum. Ia adalah seorang teman dan kakak yang baik.

Siapa yang lebih sedih ketika kematian memanggil? Mendiang atau orang-orang yang ditinggalkan? Aku tidak tahu apa-apa tentang perasaan orang yang telah meninggal. Tapi aku tahu kalua ada banyak orang bersedih karena kematian seseorang, berarti semasa hidupnya banyak orang yang menyayanginya. Atau dapat dikatakan, orang yang meninggal adalah orang baik. Cukup baikkah aku, Ranum? Akankah ada banyak orang bersedih jika aku sudah tidak ada di bumi ini? Aku tidak tahu.

Sudah selang beberapa hari semenjak kepergian temanku itu. Teman-teman dekatnya akan mengadakan pertunjukkan musik yang didedikasikan untuknya. Sebelum temanku itu meninggal, ia memang ingin datang ke pertunjukkan musik itu. Dulu ia tergabung di dalamnya. Siapa sangka ia telah terlebih dahulu berpulang? Akhirnya pertunjukkan musik itu didedikasikan untukknya. Ia yang bersuara merdu dan indah. Ia yang selalu menghargai karya yang indah. Ia yang selalu suka bernyanyi dan menyanyi. Ia akan selalu dikenang.

Aku rasa cukup aku bercerita tentang kedukaan. Lain kali aku akan bercerita tentang kerinduan atau mungkin tentang kerelaan. Atau mungkin tentang hal lain. Aku belum tahu akan bercerita apa untukmu, Ranum. Aku tidak tahu ada cerita apa di depanku. Aku harap aku dapat bercerita tentang kebahagiaan. Aku memohon kebahagiaan untukmu, Ranum. Semoga doaku sampai ke Tuhan. Amin

Salam termanis
Galuh Sakti Bandini