Ranum, ini kabar terbaru

Hai, Ranum. Apa kabar pagimu? Pagiku dingin dan menyegarkan. Aku harap kita bisa bersama merasakan pagi nikmat sambil menyeruput coklat panas dan roti panggang. Aku rindu, Ranum. Sudah berapa kali aku bilang aku rindu? semoga tidak segera menjadi klise, ya. sebab dalam setiap kata rindu yang kuucapkan aku kirimkan sejuta pelukan untukmu.

Sekarang aku jadi Bu Guru, lho. Apakah aku sudah bercerita? Aku menjadi guru sastra Indonesia. Iya, sastra Indonesia, bukan bahasa Indonesia. Ini adalah salah satu cita-citaku yang bahkan tidak kuucapkan lantang-lantang. Tuhan baik sekali kepadaku, ya. bahkan ia mendengar doaku yang paling lirih, yang ternyata aku lupakan seiring berjalannya waktu. Aku merasa diberkati. Dan setiap aku merasa hidupku diberkati, aku merasakan ketenangan di setiap denyut nadiku.

Ternyata menjadi guru adalah juga tentang belajar, Ranum. Menjadi guru bukan berarti aku lebih pintar dari muridku. Seringkali aku harus belajar dari mereka. Aku belajar tentang sudut pandang lain yang selama ini luput dari pandanganku. Aku belajar tentang kesabaran. Aku juga belajar tentang kerja keras dari mereka. Seringkali aku belajar dari muridku. klise, ya? hahahahaha. Aku juga menganggapnya klise sampai ketika aku menjadi seorang guru.

Aku tidak pernah merasa telah menjadi guru yang baik, Ranum. Kuceritakan kepadamu, aku seringkali merasa lelah ketika harus mengajar di kelas, aku seringkali tidak begitu menguasai materi, aku juga sering kehabisan akal menghadapi murid-murid remajaku. Aku tidak ingin mereka menjadi manusia yang diam dan tak berani besuara, aku dorong mereka untuk berdiskusi. Aku sangat senang berdiskusi, apalagi kalau diskusinya menggairahkan. Tapi tak jarang muridku tidak membaca karya yang akan didiskusikan, dan aku tak bisa marah sebab aku sadar mereka memiliki pilihan. Kalau sudah begitu aku hanya akan diam dan berkata, “Yasudah, terserah. Kalau kamu tidak mau paham, yasudah. Tapi jangan pernah merengek minta nilai ke saya.” di saat seperti itu sebenarnya aku sedih.

Tapi tak jarang aku bahagia ketika mengajar. Aku bahagia ketika muridku tertarik pada karya sastra yang aku berikan. Aku bahagia ketika muridku menanggapi cerita dengan rasa haru, marah, sedih, kecewa, dan apapun. Aku bahagia melihat tanggapan mereka. Aku bahkan bahagia ketika mereka kebingungan. Hahahaha. Itu kan tandanya mereka membaca. Dan aku paling bahagia ketika muridku berkata, “Ceritanya bagus sekali. Aku sampai menangis.”

Aku tak pernah berharap muridku mendapat nilai tertinggi di kelas sebab aku juga tak pernah mendapat nilai tertinggi. Dan tidak mendapat nilai tertinggi adalah sebuah hal yang biasa. Hidup akan terus berjalan membawa cinta dan luka. Tapi aku berharap, melalui kelasku murid-muridku akan lebih peka memahami manusia dan mereka menjadi lebih manusia. Aku harap muridku tidak ada yang menjadi manusia brengsek di kemudian hari. Manusia baik tidak ditentukan oleh nilai, tapi oleh pemahaman mereka terhadap hidup.

Aku harap, muridku dapat berguna bagi orang lain. Atau paling tidak, dia tidak membebani orang lain. Melalui bacaan yang aku berikan kepada mereka, aku ingin mereka paham bahwa dalam hidup juga ada luka. aku tak ingin mereka hancur ketika luka menganga di hati mereka. Aku ingin mereka siap menghadapi luka. Aku juga ingin mereka paham bahwa bahagia dapat datang dari berbagai macam cara, bahkan dari hal-hal kecil. Aku ingin mereka siap menghadapi peliknya hidup melalui sastra. Apakah aku berharap terlalu tinggi, Ranum? pada akhirnya, aku ingin semua muridku baik-baik saja.

Tenang, Ranum, aku masih ingat mimpiku. Mimpiku bukanlah menjadi guru. Dan menjadi guru mungkin adalah batu loncatan bagi mimpiku. Tapi belakangan hidup sedang abu-abu. Ada banyak yang lamur: mimpi, harapan, cita-cita. Aku mencoba tidak kehilangan diri sendiri. Sebab aku bisa saja hilang, ditelan harapan orang lain. Aku tidak mau seperti itu. Aku mau melambung di atas harapanku sendiri, menggapai apa yang selama ini aku mimpikan.

Kamu pernah bertanya, “Apakah di mimpimu ada aku?”. Tidak Ranum, belum ada siapa-siapa di mimpiku selain diriku sendiri. Tapi aku mulai memasukkan orang-orang yang aku sayang ke dalam mimpiku, dan tentu saja ada kamu di dalamnya. Tapi, kalau kamu tidak menginginkan berada dalam mimpiku, aku tak akan memaksamu untuk tinggal. Sebab bisa jadi mimpiku tak cocok untuk dirimu, untuk mimpimu.

Terima kasih ya, Ranum, untuk setiap jeda yang kau hadirkan dalam hidupku. Untuk setiap tenang yang kamu berikan ketika mendengarku bercerita. Untuk kebahagiaan yang tercecer di sana-sini. Kusudahi dulu suratku kali ini. Berbahagialah, Ranum. Kita berhak bahagia. Jangan terlalu memikirkan orang lain, pikirkan dulu dirimu sendiri sebab dirimulah yang paling perlu dicintai sebelum kamu mencintai orang lain. Aku menyayangimu, ranum.

 

Salam termanis,

Galuh Sakiti Bandini

 

 

3 thoughts on “Ranum, ini kabar terbaru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s