Perihal daun

Tiba-tiba terbayang daun yang jatuh dari ranting, tertiup angin, jatuh di jalan setapak, terbawa sepatu yang menginjaknya, dan berakhir di selokan yang mampat. Betapa ia rindu pohon yang selama ini menjadi rumahnya. Betapa ia sedih tak dipeluk tanah.

Tapi daun tak mengeluh. Tak pernah ada daun yang menangis. Dia rebah dalam pelukan semesta. Sebab selokan juga bagian dari semesta, kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s