Terima Kasih, Ranum

Selamat pagi, Ranum! Bagaimana pagimu di sana? Pagiku di sini menyenangkan. Hujan turun dengan tenang, udara sejuk, dan tidak ada kebisingan. Hari pertama di tahun baru yang menyejukkan. Dan apakah padi yang beberapa bulan lalu hijau sudah menguning, Ranum? Kamu kan pernah bercerita tentang hamparan sawah yang hijau dan menyejukkan mata. Aku harap musim hujan tidak mengacaukan mereka dan mengecewakan petani, ya.

Ranum, pada surat ini aku ingin mengucapkan terima kasih yang sangat banyak kepadamu. Terima kasih karena masih dan selalu ada di sana. Ketika banyak orang yang pergi dan menorehkan luka padaku, kamu tetap ada di sana, bersedia menjadi muara semua ceritaku. Kamu adalah salah satu obat terbaikku, tapi aku sering lupa bahwa kau seberharga itu bagiku.

Terima kasih karena tidak pernah sekalipun menyuruhku diam atau pergi. Aku yakin, pasti ada saat-saat kamu muak dengan ceritaku yang begini-begini saja. Cerita yang lebih sering berisi keluhan dan tangisan daripada bahagia. Maafkan untuk semua hal negatif yang aku bagi kepadamu, Ranum. Terima kasih karena telah menahan rasa muak itu dan menampilkan ketenangan yang memang aku cari darimu. Hadiah apa yang mampu kuberikan padamu yang sepadan dengan semua tenang yang kau berikan padaku? Apakah sebuah pelukan hangat sudah cukup?

Ramun, temanku yang pemalu dan penuh kasih, terima kasih telah hadir dan baik kepadaku yang jauh dari kata baik ini. Terima kasih telah membiarkan rangkaian kata yang membelit pikiranku terurai pada diammu. Terima kasih atas semua kenangan indah yang kamu cipta di hidupku. Kamu mungkin tidak sadar, kenangan-kenangan itu yang membuatku tetap waras ketika aku merasa hampir gila karena kesepian.

Aku seringkali merasa kesepian, Ranum. Aku sering lupa bahwa sebenarnya ada banyak cinta mengalir di hidupku. Aku baru sadar bahwa aku mencipta sedih dan kelamku sendiri lalu aku menyalahkan hidup yang kuanggap terlalu kejam. Mulai sekarang aku akan lebih bersyukur untuk setiap orang yang hadir di hidupku, untuk semua hal yang menyenangkan, bahkan hal yang menerbitkan sembilu. Semua hal itulah yang membuatku bermakna, yang membuatku belajar, yang membuatku ada.

Ranum yang baik, aku sadar bahwa masa-masa kita menghabiskan waktu bersama memang telah usai. Masa-masa ketika kita dapat benar-benar bersandar di bahu satu sama lain memang sudah selesai. Kamu telah memilih untuk mewujudkan mimpimu, begitupun diriku. Tapi rasanya sama menyenangkan ketika kita bertukar kata lewat surat dan masih dapat mengandalkan satu sama lain untuk mengusir sepi. Terima kasih karena tidak menghilang, ya.

Aku harap Semesta menjagamu dan melingkupimu dengan kasih. Semoga hati dan kakimu kuat menghadapi semua yang kurang menyenangkan. Semoga selalu menebar kebaikan dan kasih di sana-sini sehingga semakin banyak yang menyayangimu. Aku selalu berdoa hal-hal baik hadir di hidupmu. Dan semoga semua doaku cukup melindungimu.

Maukah kamu membantuku berdoa? Aku berdoa semoga Semesta menjaga semua orang yang berharga bagiku. Semoga setiap hati yang keras dilembutkan, yang lemah dikuatkan, yang dingin dihangatkan. Semoga setiap lisan yang tajam dihaluskan, yang ragu diyakinkan, yang rumit disederhanakan. Semoga manusia lebih banyak menebar kebaikan dibanding kebencian. Semoga lebih banyak kasih terasa di hati setiap manusia.

Kusudahi dulu suratku kali, Ranum. Semoga kamu sehat dan berbahagia. Jangan berhenti menebar kebaikan, ya!

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s