Halo, Ranum! Ini Cerita tentang Jatuh Hati

Selamat pagi, Ranum.

Bagaimana mimpimu semalam? Aku harap mimpimu dapat membuatmu tersenyum ketika terjaga. Semalam aku lupa mimpi apa. Mimpi yang gampang dilupa berarti mimpi yang tidak menarik. Mimpi yang tidak menarik tidak perlu aku ceritakan kepadamu atau siapapun.

Bagaimana pagimu? Pagiku indah dan damai sebab hujan turun rimis, menenangkanku. Aku sudah pernah bercerita padamu, bukan? Aku sangat suka pagi damai seperti ini, apalagi ketika aku tak harus segera beranjak dari ranjang dan melakukan kewajiban. Aku akan berbaring di ranjang, memasang lagu lembut kesukaan, dan membiarkan pikiranku mengembara dengan tenang. Setelah pikiranku puas mengembara, aku akan menyeduh teh panas (belakangan aku sedang menyukai teh blueberry) sambil memandang halaman yang basah. Dan untuk keadaan yang demikian, aku berterima kasih kepada Tuhan yang mahalembut.

Semalam aku sulit tidur, Ranum. Penyebabnya tidak lain adalah ketakutan dan kegelisahan akan sesuatu yang tak pasti. Padahal aku tahu bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini. Perasaan-perasaan menakutkan tentang betapa tidak berharganya diri ini telah menyiksaku semalam. Aku baru dapat tidur ketika berpikir sebaliknya, berpikir bahwa aku dicintai. Bagaimanapun aku merasa tidak berharga, aku tidak dapat menyangkal bahwa pernah ada orang-orang yang mencintaiku. Dan hal itu menandakan bahwa aku berharga. Setidaknya aku pernah berharga bagi orang lain. Apakah aku berharga bagimu, Ranum?

Di tengah kekalutanku semalam, aku membaca sebuah tulisan dari temanku di media sosialnya. Dia menulis, “Jika tiba nanti, kugelar lepas rindu yang sesak ini.” Tulisan manis yang singkat, kan? Tulisan itu salah satu yang menenangkanku, Ranum. Mungkin aku sesak oleh rindu dan merasa terwakili oleh tulisannya. Dan pada tulisan ini aku akan bercerita tentang temanku itu.

Apakah kamu tahu sampai saat ini aku telah dua kali jatuh hati karena tulisan? Jatuh hati yang berbeda dari jatuh cinta yang sering aku rasakan. Jatuh hatiku ini dipicu oleh rangkaian kata yang membentuk gagasan. Gagasan itulah yang memukauku. Aku bahagia jika membaca tulisan-tulisan mereka.

Jatuh hati pertamaku adalah ketika aku SMA. Jatuh hati karena ketidaksengajaan dan cukup manis untuk diingat. Jatuh hati pertama memang sulit dilupa, kan? Awalnya aku hanya iseng membeli sebuah buku yang bentuknya tidak lazim (menurutku pada waktu itu) dan harganya murah di sebuah bazaar. Buku itu bertengger cukup lama di rak buku tanpa pernah aku baca sebab baunya seperti ikan asin. Aneh kan? Buku baru tapi berbau menyengat. Hingga suatu saat aku kehabisan buku bacaan dan terpaksa membacanya. Aku tak tahu itu buku apa, apakah cerpen, atau novel, atau komik. Ternyata setelah aku baca, buku itu semacam kumpulan editorial sebuah majalah yang ditulis dalam bentuk surat.

Karena bentuk tulisan itu adalah surat, bahasa yang digunakan tidak begitu sulit aku pahami. Dan karena itu adalah editorial, isu yang dibahas adalah isu terkini pada masanya. Dan aku terpukau pada cara penulis itu mengemukakan masalah-masalah yang ada, mulai dari perilaku orang-orang pemerintahan, masalah sosial, ekonomi, hingga budaya. Dari tulisan itu aku tertarik pada wayang, mengenal Tsun-zu dan Machievelli, hingga menikmati “obrolan warung kopi”. Singkatnya, tulisan-tulisan di buku itu membuka jendela baru bagiku. Dan apakah kamu tahu siapa penulisnya? Dia adalah Seno Gumira Ajidarma, seorang jurnalis, fotografer, juga sastrawan. Buku yang membuat aku jatuh cinta berjudul Surat dari Palmerah. Apakah kamu sudah membacanya, Ranum?

Jatuh hatiku yang kedua agak berbeda. Aku jatuh hati pada tulisan-tulisan temanku, namanya Ananto. Dia adalah seniorku di kampus, aktif di dunia teater. Kami sering bercanda. Dia suka sekali tertawa, Ranum, dan aku suka melihatnya tertawa. Dia juga suka membuat lelucon yang bisa menerbitkan tawa. Awalnya aku mengira dia hanyalah orang yang suka tertawa, aku belum tahu bahwa dia suka menulis.

Hingga suatu hari aku baca puisinya dan aku jatuh hati. Puisinya tak beda dari puisi lain yang membahas tentang perasaan manusia. Tapi aku jatuh hati pada susunan kata yang ia bangun. Kalau kata-kata dapat diibaratkan sebagai bangunan, kata-katanya adalah rumah tua yang bersahaja. Lalu aku berkunjung ke blog yang ia miliki, dari situ aku mulai baca semua tulisannya, tak hanya puisi. Dan aku semakin suka sebab kata-katanya menyejukkan. Kalau jiwa atau kata-kataku sedang kering, tak jarang aku mencari dan membaca tulisannya.

Di tulisan-tulisannya aku membaca bagaimana seorang manusia yang terjebak rutinitas memaknai kehidupan, terjebak kesepian, tapi tak pernah berhenti bermimpi dan berusaha. Dan setahuku, dia memang tidak pernah berhenti berusaha. Aku sudah tidak pernah bertemu lagi dengannya. Dan aku teringat dia pernah membuat puisi untukku bertahun-tahun lalu, tapi aku lupa keseluruhan puisinya, yang aku ingat hanya “Kita kata-kata manis sore tadi.”

Jatuh hati itu menyenangkan, Ranum. dan kita bisa jatuh hati pada apa saja, pada tulisan, pada pantai, pada matahari, pada langit, pada batu, pada apapun! Betapa menyenangkannya masih memiliki hati dan masih bisa merasakan bahagia. Aku harus banyak-banyak bersyukur untuk semua hal yang ada di hidupku. Aku bersyukur mengenalmu, Ranum. Lain kali, ayo kita pergi keliling kota dengan motormu. Kita habiskan sore di perjalanan sambil bersenda gurau tentang hal-hal kecil.

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

Advertisements

2 thoughts on “Halo, Ranum! Ini Cerita tentang Jatuh Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s