Surat Rindu untuk Kakek Bisma

Kakek Bisma, tahukah kau? Aksara tak mampu menampung rindu. Sebab detik ini tiba-tiba aku rindu kamu dan aku tahu benar, surat ini tak akan mampu mewakili rasa rinduku padamu. Aku rasa, rindu ini tidak dapat aku sampaikan lewat perantara. Aku rasa, aku harus bertemu denganmu.

Kau mungkin bertanya-tanya, setelah sekian lama, kenapa aku baru rindu sekarang? Tak hanya kau, aku pun bertanya kepada diriku. Kenapa setelah sekian lama, setelah aku memasuki babak baru hidupku, aku tiba-tiba merindukanmu? Aku rindu ketenanganmu. Aku rindu kebijaksanaanmu. Aku rindu ketabahanmu menghadapi segala.

Aku coba jawab sendiri pertanyaan itu, Kek. Mungkin karena aku sudah terlalu sibuk. aku pikir, rutinitas yang aku lalui sekarang secara tidak sadar telah merenggut inti dari diriku. Setelah aku renungkan, sudah berapa lama ini aku jarang menguji pikiranku sendiri. Akibatnya, aku menjadi tumpul; hati dan otakku. Di dalam diriku, aku merasa kekosongan sebab tak lagi aku rajin mengisi diri ini dengan ilmu baru.

Apakah aku masih aku jika aku sudah tidak lagi mengenal diriku? Aku ragu tentang apa yang benar-benar aku inginkan. Ini gawat kan, Kek? Aku ingin segagah kau ketika kau ucapkan sumpah mengerikan itu. Aku ingin sesadar kau ketika mengambil keputusan. Aku yakin, tak mungkin kau ucapkan sumpah itu jika kau tidak memperhitungkan segala akibatnya. Kau yakin mampu menanggung kesendirian itu. Aku ingin memiliki kesadaran akan setiap keputusan yang aku ambil, sebab sudah beberapa kali cerita hidupku dipilihkan nasib. Aku tidak menyesal, tapi merasa kecil.

Kek, apakah kau setuju dengan pernyataanku ini bahwa kita tidak akan mampu menggenggam hal baru seutuhnya jika kita belum bisa melepaskan yang lama seluruhnya? Aku menerapkan pernyataan itu untuk banyak hal dan seringkali berhubungan dengan kehadiran manusia di hidupku. Melepaskan, Kek, bukan berarti melupakan seutuhnya, tapi merelakan semua kenangan baik dan buruk pergi. Aku masih dengan tangan terbuka menerima kehadiran orang-orang yang memilih pergi dari hidupku. Sebab bagiku, cerita mereka yang lalu telah usai dan jika mereka tetap ada di hidupku, mereka akan menoreh cerita baru.

Aku selalu berusaha berdamai dengan masa lalu dan seringkali berhasil. Tidak aku ingkari, aku sering mengenang masa-masa indah yang telah lampau itu. Tapi, Kek, aku mengenang peristiwa, bukan mengenang persona di dalamnya. Aku mengenang sekadar untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa aku pernah berbahagia, jadi janganlah hidup dengan perasaan nelangsa sebab aku pernah dicinta dan mencinta, dan itu baik bukan? Kau tentu bisa menolak pendapatku, tapi tolong jelaskan dengan lembut, Kek, agar aku dapat lebih bijaksana.

Apa kabar duniamu, Kek? Aku rindu dengan cucu-cucumu, juga punakawanmu. Aku paling rindu Nakula dan Sadewa, juga Bima tentu! Aku rindu ketajaman pikiran mereka. Jangan tanya kenapa aku tidak rindu cucu Kurawamu, Kek. Sejak awal aku tak akrab dengan mereka. Sudilah kiranya kau kenalkan aku pada mereka, agar aku dapat menilai mereka dengan benar, berdasarkan perilaku mereka bukan berdasarkan omongan yang beredar dari mulut ke mulut. Di duniaku, Kek, Ada banyak orang seperti cucumu yang kerjanya bertengkar demi kekuasaan. Atau mungkin tidak hanya demi kekuasaan, tapi juga demi gengsi, demi harga diri. Ah, tak tahulah aku, Kek. Aku tak pernah ingin bertengkar.

Ngomong-ngomong, Kek, apa kabar Nenek Amba? Tolong jangan tersinggung dengan pertanyaanku ini, ya. Aku tahu, dia adalah wanita yang cintanya terluka oleh komitmenmu, oleh rasa setia dan sayangmu terhadap keluargamu. Dia cinta engkau, Kek. Jangan coba kau ingkari itu. Dan aku tahu, Kek, kau juga menyimpan rasa yang sama terhadapnya. Ah, Kek, kalau saja kau hidup di duniaku, kau tak perlu melalui cobaan itu. Aku yakin, jika kau membicarakan hal itu dengan baik-baik di hadapan semua pihak, kau akan menemukan jalan lain. Meskipun kau mungkin tetap tidak mendapatkan Amba, Kek, setidaknya ia tidak mendendam karena luka. Jalan ksatria yang kau pilih memang berat dan kau kuat, Kek. Kau kakekku yang kuat dan gagah juga bijaksana! Kakek kesayanganku!

Kakek Bismaku tersayang, lewat surat ini aku titipkan juga rasa terima kasihku. Terima kasih karena telah mengajariku banyak hal tanpa harus menggurui. Kau bercerita, Kek. Itu sebabnya aku tak pernah merasa digurui. Kau adalah guru yang baik, baik sekali. Darimu aku belajar menahan marah, aku juga belajar setia. Aku belajar mempertahankan komitmen juga dari dirimu.

Kusudahi dulu suratku, Kek. Kau kan juga tahu, setiap yang bermula akan jumpa pada akhirnya. Kucukupkan luapan rinduku sampai di sini. Terima kasih pernah hadir di hidupku, Kek.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s