Racauan untuk Ranum

Ranum, di luar sedang purnama. Ayo kita habiskan malam ini dengan bercerita di halaman depan rumahmu. Kalau malam semakin dingin, kita masuk ke dalam. Ranum, aku tahu aku delusional, kita kan beda kota. Hahahaha. Tapi aku sungguh rindu kamu saat ini. Aku sungguh ingin bercerita denganmu. Tadi, ketika aku sedang sekilas memandang langit, aku lihat bulan sedang bulat-bulatnya dan aku langsung teringat kamu.

Ranum, kenapa manusia mengenang? Apakah karena kenyataan sudah terlampau pahit? Ranum, kenapa kura-kuraku mati muda, ya? Aku rindu sekali dengannya yang diam. Ranum, bagaimana cara kunang-kunang berbahagia? Aku ingin bahagia, Ranum, meski tahu bahwa tidak akan ada akhir selain mati. Ranum, kenapa kepala suka berdenyut-denyut kalau sedang banyak pikiran, ya? Pikiran itu berdenyut? Seram juga, ya. Ranum, kenapa hidup memaksa banyak manusia untuk memilih mati? Ranum, kenapa dongeng lebih indah dari penjelasan pak guru tentang magnet? Ranum, kenapa anjing tidak suka roti? Ranum, apakah singa pernah bermimpi jadi gajah? Ranum, kenapa airmata tidak terbang saja? Tolong katakan kepada air mata untuk jangan jatuh kalau tidak bisa bangun. Ranum, kenapa ibuku sudah tidak mau mendongeng ya? Ranum, kapan terakhir kali kamu menyanyi untukku? Ranum, di mana rumah bagi cahaya? Ranum, kenapa aku cerewet sekali?

Ranum, sesunggunya aku hanya rindu kamu. Sangat rindu kamu. Sungguh.

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s