Suatu Sore, Suatu Cerita.

Bayangkan Kota Hujan yang biasa kau saksikan di televisi dengan pohon rindang di sisi jalannya. Bayangkan Kota Hujan itu benar-benar hujan. Hujan yang tenang tanpa angin yang ribut. Jalanan basah, tapi kau tidak, sebab kau sedang berada di dalam mobil. Kau sendirian sore itu. Kau asik mengemudi di sepanjang jalan rimbun yang basah. Lantunan musik lembut kesukaan mengambang menemanimu. Kau merasa tenang. Kau merasa cukup. Kau menerka, apakah ini pantas disebut bahagia?

Lalu kau ingat tentang kekasih yang kemarin baru saja pergi. Ia pergi jauh ke benua lain. Lalu kau ingat bahwa malam yang akan segera kau cecap adalah pagi di benua kekasihmu. Kau akan diliputi kegelapan, sementara dia akan menikmati cahaya. Lelapmu adalah keterjagaannya. Lalu kau membayangkan jeda yang sepi yang akan tercipta. Lantas kau rasakan getir di dalam dadamu. Sedikit saja, hanya satu detak. Tapi tetap membuatmu kembali bertanya, apakah kau masih bahagia?

Kau masih meluncur di jalanan basah Kota Hujan. Hujan masih meluncur ke bumi dari langit. Kau tidak terlalu keras menginjak pedal gas dan jalanan tidak begitu sepi, jadi kau memang tidak bisa melaju kencang. Di sela-sela hujan yang jatuh, laju mobilmu, dan jalanan basah, pikiranmu menggelayut. Kau ingat lagi semua waktu yang membahagiakan yang telah kekasihmu ciptakan khusus untukmu. Kau ingat lagi derai tawanya yang renyah juga lembut usapannya pada kepalamu. Kau ingat lagi genggamannya pada tanganmu juga rengkuhannya. Lalu kau yakin, kau bahagia.

Sebentar lagi kau akan sampai di tujuanmu, sebuah kafe kecil di tengah kota. Kafe kecil terpencil di tengah kota. Pikiranmu sudah tidak mengambang lagi. Kau membayangkan kekasihmu akan datang sebab ia sudah berjanji akan kembali. Kau yakini janjinya. Kau mengamini keyakinanmu sendiri. Kau yakin akan bertemu kembali dengan kekasihmu dan berbahagia. Kau mengamini hal itu sepenuh hati.

Dan kau tiba di kafe kecil terpencil di tengah kota itu. Kafe dengan kebun yang hijau dan rindang, juga basah tentunya. Kau memilih duduk di pojok yang terang. Kau pesan segelas lemon sereh hangat sebab hatimu juga hangat. Kau buka buku yang memang kau bawa dan mulai membaca. Pikiranmu sudah tidak lagi penuh dengan kekasihmu sebab pikiranmu sudah terisi dengan dunia yang ada di dalam bacaanmu. Tapi hatimu penuh dan hangat. Kau merasa tenang. Kau merasa cukup. Dan kau tak lagi bertanya apakah ini dapat dikatakan bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s