Halo, Ranum!

Halo, Ranum! Apa kabar gitarmu? Masih sering kau dekap dan petik? Apakah ia masih mampu menghiburmu? Apakah ia masih mampu mengolah rasa bosan menjadi kesenangan? Aku rindu mendengarmu bermain gitar sementara aku meracau tentang ini dan itu dan hal-hal lain di luar ini dan itu.

Kali ini aku ingin bercerita tentang dia, lelaki ajaib yang kutemui. Dia ajaib sebab dia adalah perwujudan mimpi sekaligus ketakutanku. Aku dulu pernah cerita tentang profesorku, bukan? Profesor yang aku takuti ketika aku S1 dan ternyata menjadi ketua Tim Penelitianku ketika aku S2. Semesta memaksaku menghadapi hal yang aku takuti dan ternyata, setelah lebih dekat, tidak semenakutkan itu. Lelaki itu juga sama dengan profesorku. Kau kan tahu aku takut dengan dunia militer; aku takut Tentara dan Polisi, bahkan satpam. Sementara dia adalah lelaki yang akrab dengan dunia militer. Aku dipaksa dekat dengan dunia yang aku takuti. Dan ajaibnya, aku sama sekali tidak takut dengannya, dengan dunianya.

Pertemuanku dengan dia juga ajaib. Kami bertemu sebagai dua orang asing dan aku tidak menaruh perhatian kepadanya. Aku pikir aku tidak akan bertemu atau berhubungan lagi dengannya, sama seperti orang-orang asing lainnya yang kutemui di dalam hidupku. Tapi Semesta sungguh lucu, sebab kami kemudian bertukar kata hingga akhirnya kami memutuskan bertemu di kota kesukaanku (yang mungkin juga kesukaannya). Dia manis sekali saat itu, Ranum. Ia membuat aku tenang menghadapi masalah (dia lebih suka menyebutnya dinamika) dan mengantarku pulang ke rumah dan ia masih sempat berkelakar. Setelahnya, ia membuatku sulit tidur karena aku ingin bertemu dengannya lagi sementara kenyataannya tidak memungkinkan bagiku. Ia tidak tahu kalau dia membuatku sulit tidur. Bahkan hingga ponselku kehabisan daya, aku masih tak mampu terlelap. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk kembali bertemu sebelum dia pergi jauh. Aku sungguh ingin bertemu lagi dengannya, kali ini tanpa harus bertemu dinamika. Dan kami benar bertemu.

Hari itu kuhabiskan waktu hanya dengannya sejak pagi hingga malam. Aku ingat, aku bahagia hari itu sebab dia masih juga manis padaku. Kami mampir ke tempat servis ponsel, toko buku, makan siang, bertemu dengan temannya, makan malam, lalu pulang. Sederhana memang, tapi membahagiakan. Kami terus menerus bercakap dan bercerita. Kami tertawa dan saling mencoba memahami. Hari itu aku tahu apa yang aku mau, aku ingin lebih memahaminya, memahami dunianya. Aku ingin memahami kekhawatirannya, kegelisahannya, ketakutannya. Aku juga ingin ada di bahagianya dan mimpinya.

Akhirnya ia pergi jauh dan kami terpaut jarak. Jarak menghidupkan hasrat kami dan aku belajar untuk berbahagia dengan yang ada. Aku sudah cukup bahagia mendapat kabar darinya setiap hari, sebab dia pernah berkata bahwa dia mungkin akan hilang kabar. Aku mensyukuri setiap kabar yang datang darinya. Aku mensyukuri keberadaanya di dalam hidupku.

Ranum, sudah sempat kubilang tadi bahwa ia adalah perwujudan doa-doaku. Sebelum aku bertemu dengannya, aku sering berdoa pada Tuhan untuk mempertemukanku dengan lelaki yang bertanggung jawab dan memiliki pemahaman yang luas. Lalu Tuhan menjawab doaku dengan mempertemukanku dengan lelaki ajaib itu. Dia tidak pernah memaksaku untuk melakukan sesuatu, dan aku menyukai cara dia menghargai pendapatku. Aku juga menyukai cara dia menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Tuhan yang mahabaik memberiku kesempatan untuk dekat dengan lelaki ajaib itu. Tuhan sungguh mahabaik, mahapenyayang. Masih banyak hal lain yang membuatku merasa dia adalah perwujudan doa-doaku dulu.

Ranum, ia sering berkelakar tentang istilah apple to apple. Pada pertemuan kami yang kedua di kota kesukaanku, aku pernah mengatakan padanya bahwa perbandingan yang ia berikan tidak apple to apple. Dulu ia hanya mengalah dan tertawa dan mengajakku toss. Hahahaha. Kini ia sering jadikan hal itu sebagai kelakar. Ia akan berkata “Hellooowww, you said ‘apple to apple’ to a man from big apple!”. Aku akan diam dan tersenyum, paham kalau sudut pandangku masih terlalu sempit. Ia bilang, tidak semua hal di dunia harus apple to apple sebab hidup seringkali menghadapkan kita pada situasi yang tidak apple to apple. Aku paham. Sangat paham. Dan ia pasti lebih paham lagi. Pengalaman hidupnya jauh lebih banyak dariku meskipun umur kami hanya berbeda satu tahun.

Ranum, kuberi tahu hal-hal yang aku suka darinya kepadamu. Tapi jangan sampai dia tahu, ya. Nanti dia kepedean. Hahahaha. Aku senang ia tidak pernah membiarkanku kelaparan. Ia selalu memberiku makan. Kau tahu, kan, makanan adalah salah satu sumber bahagiaku. Ia juga membuatku berani bermimpi dan menghidupi mimpiku. Aku janji, aku akan menjadi wanita keren dan mengajaknya makan di tempat keren. Hahaha. aku juga senang sebab ia mengajakku pergi ke tempat baru dan menjagaku. Aku merasa aman di dekatnya. Dia juga membuatku merasa nyaman, sangat nyaman malah. Dia dapat membuatku nyaman dalam waktu singkat, makanya kusebut ia lelaki ajaib. Sebenarnya masih banyak hal yang membuatku menyebutnya lelaki ajaib. Tapi aku tak mampu mengungkapkannya. Aku menggunakan kata jaib untuk hal-hal yang sulit aku jelaskan.

Sudah terlalu panjang suratku untukmu, Ranum. Padahal aku masih ingin bercerita tentang kebetulan-kebetulan yang terjadi antara aku dengan lelaki itu. Mungkin aku akan bercerita tentang hal itu di surat lainnya. Surat ini kucukupkan sampai di sini. Intinya, aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku bahagia. Hehehehe. Aku harap kamu juga bahagia di sana. Aku berdoa untuk kebahagiaan dan kesehatanmu. Jangan telat makan, ya. Lain kali, kalau kita bertemu, aku akan membelikanmu coklat panas. Dan jika saat itu tiba, kamu harus banyak bercerita kepadaku, baik tentang hidupmu atau tentang “Hidup” itu sendiri. Ranum, aku menyayangimu (juga lelaki ajaib itu. hehehe).

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s