Celoteh tentang Ini dan Itu yang Tak Pasti

“Apa yang lebih pasti dari ketidakpastian?” selalu begitu kau ucap. Aku selalu mengiyakan tanpa membantah atau menambah. Tapi sekarang aku tahu apa yang lebih pasti dari ketidakpastian, yaitu kematian. Sekarang, bisakah kau menjawab pertanyaanku? Apakah yang lebih pasti dari kematian? Coba pikirkan baik-baik. Adakah jawabannya?

Ketidakpastian dan kematian sama-sama pasti, tapi siapakah yang mampu memastikan kapan kematian akan datang dan bagaimanakah cara kita mati nanti? Ternyata dalam kematian yang pasti masih ada juga ketidakpastiannya. Masalah pelik memang kalau kita berbicara soal kepastian. Kamu kan sudah tahu dari dulu jawabannya. Tidak ada yang absolut di dunia ini.

Misalnya saja kita. Apakah benar kita saling mencintai? Kalau pertanyaan macam itu, masih bisa kita jawab dengan pasti. Tapi, jika pertanyaannya aku ganti menjadi “Apakah kita SELALU saling mencintai?” wah, tentu tidak ada jawaban pasti untuknya. Manusia itu rumit. Jauh lebih rumit dari akar yang mencengkram tanah. Ah, manusia. Sarangnya kebohongan ada di manusia dan itulah hal yang malah tambah membuat rumit segala sesuatunya.

Tapi, apakah kita rumit? Kata orang, kita rumit. Kataku, kita indah. Apakah memang kita indah? Apakah keindahan itu sebenarnya? Kamu indah, tapi apakah keindahan adalah kamu? Kan tidak begitu. Jadi, apakah keindahan itu? hal-hal menyenangkan hati dapatkah disebut indah? Lantas, apakah kematian tidak indah? Adakah kematian yang menyenangkan hati? Kita kan belum pernah mati, bagaimana mampu berkata kematian itu tidak indah?

Jangan jengkel dengan kata-kataku. Kalau kau malas berbicara tentang yang pasti dan yang tak pasti, mari kita berbicara tentang pagi. Ketika semua hal dimulai. Eh, apakah semua hal dimulai pada pagi? Tentu tidak. Aku memang berlebihan. Kita tidak memulai pertengkaran pada pagi hari, kan? kita selalu ingin memulai hal baik pada pagi hari. Kamu lebih suka pagi yang riuh atau pagi yang tenang? Aku pernah mencoba keduanya. Sekarang aku dengan pasti menjawab bahwa aku lebih suka pagi tenang. Entah besok aku akan menjawab apa.

Pada pagi yang tenang pertanyaan-pertanyaan sering muncul, tapi tak begitu menggelisahkan. Pada pagi yang riuh, aku bahkan tak sempat berpikir karena semua seakan telah terjadwal. Pagimu pagi yang seperti apa? Aku ingin berada di pagi tenangmu. Kita berdua menikmati secangkir teh manis hangat di beranda rumahmu. Menyaksikan kebunmu yang kecil tapi rimbun. Dan Aku akan mengoceh tentang embun dan jendela yang berkasih-kasihan pada hari yang masih dini.

Tetapi jika kita terus menerus mengalami pagi tenang, pasti sangat membosankan. Bukankah hidup memang butuh kejutan agar tidak terlalu membosankan.

P.S: ini tulisan lama. Ditulis tiga tahun lalu dan belum juga selesai hingga saat ini. Jadi, dengan terbitnya tulisan ini, saya memaksa tulisan ini untuk selesai.

Selain itu, tiga tahun setelah saya selesai menulis ini, saya bertemu dengan orang yang memaknai benar kalimat “kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri”. Ajaib.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s