Ranum, Ini Permohonan Maaf

Ranum, apa kabar?
Surat ini selalu dibuka dengan pertanyaan yang sama, menanyakan kabarmu. Ini bukan basa-basi, Ranum. Aku memang benar ingin tahu kabarmu. Apakah kamu benar bahagia di saat ini? Aku selalu berharap kebahagiaan menaungimu sehingga kau juga dapat memercikkan kebahagiaan ke sekitarmu.

Dan apa kabar pula kotamu? Mana yang lebih sering menyapanya, terik atau hujan? Kotaku lebih sering basah. Aku akan terbangun dengan bahagia jika air masih merintik dari awan yang singgah di atas kotaku. Bahagiaku bukan bahagia yang meledak-ledak dan membuat senyum mengembang sepanjang hari. Bukan seperti itu. Aku merasakan bahagia yang tenang, melenakan, dan membuatku ingin memperlambat waktu. Pada saat seperti itu biasanya aku tidak akan bersegera untuk memulai hari. Tapi bukan berarti aku tidak menyukai terik. Aku juga suka jika hariku dimulai dengan mentari yang bersinar cerah. Kalau matahari sudah menyala pada pagi, aku akan segera beranjak dari ranjang dan bersiap memulai hari. Sepertinya sinar matahari memberi semangat pada pagiku.

Aku ingin meminta maaf padamu, Ranum. Maaf aku jarang berkirim kabar dan jika suratku belakangan kepadamu terasa hambar. Aku tidak ingin dan tidak akan menyalahkan keadaan, aku yang salah. Aku yang tidak benar-benar menaruh hatiku pada setiap kata yang aku kirim padamu beberapa tempo lalu. Ini pengakuan dosaku padamu yang paling tulus. Dan aku harap kamu bisa memahami dan memaklumiku hingga akhirnya bisa memaafkanku. Pun jika kau tidak merasa itu sebuah hal yang perlu dimaafkan, aku tetap ingin meminta maaf padamu. Demi ketenangan jiwaku sendiri yang merasa bersalah padamu.

Sudah lama aku sadar bahwa aku semakin kering, begitu juga kata-kataku yang semakin tajam. Tentu saja aku paham sebenarnya ini hal yang wajar saja, semua kan memang akan selalu berubah. Tidak ada yang tetap. Tapi perubahan ini tidak membuatku nyaman. Atau setidaknya kupikir seharusnya aku bisa berubah menjadi lebih baik dari ini. Untuk berubah menjadi lebih baik aku pikir langkah pertama yang harus aku lakukan adalah meminta maaf pada orang-orang yang pernah tersakiti oleh kataku. Tentu, aku paham aku tidak benar-benar tahu siapa saja yang pernah tersakiti olehku. Bisa jadi sangat banyak, bisa jadi banyak juga yang tak peduli pada kata-kataku. Tapi demi ketenangan jiwaku, aku meminta maaf pada setiap orang yang aku pikir terluka olehku. Bukan hanya oleh kata-kataku yang tajam, tapi juga kata-kataku yang kering dan minim makna karena apalah artinya kita bercerita kalau tak ada makna terkandung di dalamnya. Jika itu yang terjadi, tak sampai selemparan batu kita pasti sudah lupa apa yang tadi diceritakan karena tak merasa itu berarti.

Kamu bukan orang pertama yang aku minta maafnya. Kemarin aku jumpa seorang teman baik yang aku rasa tidak terluka oleh perkataanku, tapi aku sudah terlalu lama berbohong padanya. Aku dulu sempat berpikir untuk menjadikan ini sebagai rahasia mutlak, tidak akan ada yang tahu apa yang aku rasa. Tapi, hidup memang sungguh lucu. Aku tak sanggup menyimpan rahasia ini, lalu akupun bercerita pada sahabatku, satu dua orang. Lama-lama aku merasa ini tidak lagi menjadi rahasia. Perasaanku yang selama ini aku pendam, yang aku pikir rahasia, sudah tidak lagi utuh dan menjadi semakin lamur.

Temanku itu sibuk dan sulit untuk ditemui. Aku beberapa kali minta untuk bertemu, tapi tidak kunjung dapat bersepakat tentang hari hingga akhirnya kami menyepakati sebuah hari untuk berjumpa. Pada hari itu aku bertekad untuk berkata sejujur-jujurnya padanya tentang apa yang selama ini aku pendam dan rasa. Aku yakin sebenarnya ia selama ini tahu apa yang aku rasa. Aku yakin ia tidak akan sekaget itu mendengar pengakuanku. Aku membayangkan hari itu akan berjalan lancar.

Hingga akhirnya aku benar jumpa dia. Ia tiba pada siang dan senyumku mengembang tanpa bisa aku kendalikan, mungkin karena rindu. Kami sama lapar, jadi kami pergi ke sebuah tempat makan. Kami berbincang tentang banyak hal yang terjadi di hidup kami masing-masing. Kami kenyang dan bahagia. Aku mengajaknya pindah ke café kecil di dekat situ, aku tahu dia suka kopi. Di sana, kami kedinginan karena pendingin udara yang menghadap langsung ke tempat kami. Hahahaha. Tapi obrolan kami hangat. Itu adalah satu hal yang aku syukuri karena aku takut kami sama-sama tak menyertakan hati sehingga percakapan hanya sekadar bertukar kata.

Lalu sore tiba dan aku belum juga berkata jujur padanya. Aku pikir akan mudah, tapi ternyata susah juga. Hingga akhirnya aku membuka percakapan ke arah sana, aku bilang bahwa sesungguhnya pada pertemuan ini aku ingin jujur padanya tentang sesuatu yang selama ini aku pendam. Kemudian aku tersendat dalam menjelaskannya. Dan setelah usai aku menjelaskan semuanya, dia bilang ia tidak tahu tentang apa yang aku rasa. Dia terlihat cukup terkejut. Dia pikir aku menyimpan rasa untuk orang lain. Lalu dia bilang, ia sempat memiliki rasa yang sama terhadapku. Lalu kami sama-sama tertawa karena merasa lucu. Ia berkomentar, “Kenapa baru sekarang? Kenapa lama sekali kau pendam itu? Kalau dulu kau langsung bilang padaku tentu ceritanya akan lain. Kita mungkin akan jadi sepasang kekasih. Tapi, mungkin kalau dulu kita sama-sama jujur, kita tak akan sedekat ini pada detik ini.” Lalu aku mengiyakan dan kami tertawa bersama. Rasa itu sudah tak ada lagi pada kami, kami paham. Tapi bukan berarti setelah hari itu kami menjauh dan hilang rasa. Kami masih akan sedekat hari itu, masih akan terus bercerita, dan masih akan tetap saling menyayangi dengan cara kami.

Aku bilang padanya bahwa dulu aku sempat merasa sangat menderita ketika harus menutupi apa yang aku rasa dari dirinya. Tapi, aku tidak menyesal karena ketika bersamanya aku juga banyak merasakan dan mengalami hal-hal yang manis. Kami sering pergi, jauh ataupun dekat, lalu berbincang hingga malam. Aku bilang padanya, “Bagiku, saat dekat denganmu merupakan masa-masa yang sangat manis.” Dia diam saja mendengarnya. Entah apa yang ia pikirkan. Aku mencoba mencairkan suasana dengan menertawakan semua yang aku ceritakan. Ia ikut tertawa. Dia bilang, “Kalau ini diubah menjadi novel pasti bagus.” Aku bilang, aku tidak akan bisa menulisnya, jadi aku suruh dia yang menulis. Dan kami sama tahu bahwa tidak akan ada dari kami yang menulis novel tentang ini. Kemudian dia kembali berkata, “Kau pendam ini selama enam tahun? Kau sabar juga, ya.”aku tersenyum

Aku mengakhiri pengakuanku pada malam. Kami masih di café yang sama, tapi pindah tempat duduk. Kami pindah ke luar, duduk di taman sambil menikmati udara malam dan lampu taman. Kami tidak lagi bicara tentang kami. Kami bicara tentang lagu-lagi indie yang diputar oleh pegawai cafe, tentang kucing di café itu yang selalu mengawasi cicak, tentang perut kami yang kembali lapar. Lalu kami makan malam di tempat lain, di tenda nasi goreng pinggir jalan, rekomendasinya. Aku memesan nasi goreng kambing, dia memesan bihun goreng. Ternyata porsinya besar sekali, aku tak sanggup menghabiskan. Akhirnya sisa makananku aku bungkus untuk dibawa pulang. Setelah makan, kami berpisah. Malam itu kami tutup dengan pelukan kaku. Hahahaha. Aku merasa malam itu dia manis sekali padaku. Entah hanya perasaanku saja atau memang benar demikian. Tapi setelah hari itu, dia akan menjadi sahabatku yang manis seutuh-utuhnya. Semoga kami akan selalu dekat dalam rasa seperti selama ini. Aku akan bilang rindu padanya ketika rindu memang sedang datang melanda.

Dan semoga setelah kau baca surat ini, kita akan semakin dekat dan jujur dalam mengutarakan cerita. Kamu adalah muara ceritaku, jangan sampai hilang. Tapi, seandainya kamu merasa terbebani olehku yang selalu bercerita, utarakanlah. Aku akan berhenti memberi cerita padamu. Jangan tiba-tiba hilang, ya, tapi kalau kau ingin pergi dariku ya boleh saja. Aku tidak pernah ingin menjadi beban bagi orang lain, apalagi bagimu.

Baiklah, kusudahi saja surat ini sampai di sini. Semoga kamu memaafkanku. Semoga pagimu selalu dimulai dengan bahagia. Semoga kamu selalu mendamaikan. Aku ingin kamu tahu bahwa aku menyayangimu.

Salam termanis,
Galuh Sakti Bandini

Advertisements

2 thoughts on “Ranum, Ini Permohonan Maaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s