: untuk temanku yang pemalu

Dulu pernah kita bercerita di bawah rindang pohon

Tentang hidup dan mimpi

Juga kecewa dan obatnya

Kita resapi setiap kata yang terlontar

***

Kemarin kita bertemu lagi setelah beberapa purnama lewat

Kau belikan aku segelas es limun,

dan secangkir kopi tanpa ampas untukmu sendiri

Kau tambahkan satu sendok gula ke dalamnya tapi tak segera mencecapnya

Kata-kata masih banyak terlontar

Tapi tak lagi terlalu kita resapi

Sebab waktu masih sibuk mengejarmu juga mengejarku dan kita tak sanggup berontak

***

Dalam perjumpaan itu, aku tahu sebagian dirimu hilang dalam perlombaanmu dengan waktu.

Dan mungkin kau tak terlalu peduli denganku atau ceritaku

Sebab bagimu cerita orang lain lebih penting untuk dicermati.

“Bagian dari pekerjaan,” begitu ujarmu.

***

Langit sudah memberi tanda bahwa bumi akan basah sebentar lagi

Kita beranjak sebelum itu terjadi

-Es limunku belum tandas, juga kopi tanpa ampasmu. Tapi kita tak bisa menunggu lebih lama-

Sebelum berpisah, kutatap matamu yang lelah

Terbaca kerinduan di sana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s