Apakah Bahasa Penting dalam Mentransmisikan Kebudayaan?

Bahasa dan budaya saling terkait, terlebih jika dilihat dari penggunaaan struktur di dalamnya. Baik bahasa dan budaya adalah sistem yang menggunakan tanda untuk mengkomunikasikan ide seseorang ke orang lain. Bahasa yang dimaksud di sini tidak hanya bahasa natural (natural language), tapi juga gambar, bunyi dan lain-lain.[1] Bahasa dan budaya sama-sama memiliki struktur. Pendapat ini didasarkan pada teori yang diperkenalkan oleh Ferdinand de Sasussure tentang semiotik.

Menurut Sasussure, bahasa adalah sistem tanda. Sasussure menggunakan istilah signifier (penanda) dan signified (petanda). Menurutnya, petanda adalah konsep yang masih berada pada tataran langue, sedangkan penanda adalah gambaran akustik, dan relasi antara penanda dan petanda adalah tanda itu sendiri yang merupakan entitas yang konkret, misalnya kata.

Saussure menekankan pada tanda-tanda linguistik karena ia memang seorang linguis. Oleh karena bahasa merupakan sistem tanda, penelitian linguistik harus diarahkan terhadap produksi dan aturan yang melatar belakanginya (Lee dalam Christomy, 2010: 111). Sasussure juga menekankan konsep arbitrer dan dwipihak dalam  menghasilkan makna  suatu tanda. Pandangan seperti ini memungkinkan sebuah fenomena budaya direduksi menjadi sebuah tata aturan, sama seperti yang terjadi pada tata bahasa (Christomy, 2010: 112).

Pandangan Sasussure ini kemudian digunakan oleh Lévi-Strauss. Lévi-Strauss melihat budaya sebagai sistem simbolik bersama yang merupakan kumpulan kreasi pikiran (cummulative creations of mind); ia mencari struktur dari domain budaya (Keesing, 1981:47). Menurutnya, dunia fisik manusia menyediakan bahan mentah proses universal dari penggabungan pikiran menjadi beberapa perbedaan subtansial, tetapi pada dasarnya memiliki pola yang sama. Pikiran memaksakan urutan pola tertentu, logika kontras biner (binary contrast), dari relasi dan transformasi di dalam perubahan yang kontinu dan dunia yang acak ini (Keesing, 1981: 48).

Tidak hanya Lévi-Strauss yang menggunakan dikotomi Saussure untuk meneliti budaya, Roland Barthes juga demikian. Ia menggunakan dikotomi Sasussure dalam teori Mitosnya.  Barthes pernah  menyatakan bahwa myth is a type of speech (Barthes, 2013: 217). Baginya, mitos adalah sebuah sistem komunikasi, yaitu pesan. Semua hal dapat dijadikan mitos, selama dilengkapi dengan wacana. Sebuah mitos dapat menjadi sebuah ideologi ketika sudah berakar lama dan menyentuh norma sosial yang berlaku di masyarakat. Mitos tidak ditentukan berdasarkan objek dari pesan yang akan disampaikan, tapi cara bagaimana objek ini disampaikan sebagai pesan. Contohnya saja pohon beringin yang disakralkan oleh masyarakat Jawa. Pohon yang memiliki makna kesakralan adalah sebuah mitos karena dipercaya oleh masyarakat jawa seperti itu.

Barthes menyebut teori mitosnya sebagai a second-order semiological system. Mitos dapat dilihat sebagai dua sistem semiologi yang berhubungan, yaitu sistem linguistik dan mitos itu sendiri. Mitos di dalam sistem tersebut ia sebut sebagai metabahasa karena merupakan bahasa kedua yang menjelaskan tentang sistem linguistik (Barthes, 2013: 224). Benny H. Hoed (2014) menjelaskan tentang konsep metabahasa Barthes. Signifier disebut sebagai expression (E), sedangkan signified disebut sebagai contenu (C), hubungan antara E dan C adalah relasi (R). Relasi antara E dan C terjadi lebih dari satu tahap. Tahap pertama disebut primer yang terjadi ketika tanda dicerap untuk pertama kalinya. Inilah yang disebut denotasi, yaitu pemaknaan yang secara umum diterima dalam konvensi dasar sebuah masyarakat. Pemaknaan tersebut kemudian berkembang menjadi pemaknaan sekunder. Jika pemaknaan sekunder berkembang pada segi E, hal itu disebut metabahasa. Hoed memberikan contoh, yaitu seseorang yang menggunakan ilmu gaib untuk tujuan tertentu (C) disebut dukun, paranormal, atau cenayang (E).

Selain metabahasa, Barthes juga menjelaskan konsep mengenai makna konotasi. Konotasi terjadi jika pengambangan yang terjadi berada pada C. Konotasi adalah makna baru yang diberikan pemaikai tanda sesuai dengan keinginan, latar belakang pegetahuannya, atau konvensi baru yang ada dalam masyarakatnya (Hoed, 2014: 25). Barthes menggunakan konsep konotasi untuk menjelaskan bagaimana gejala budaya yang dilihat sebagai tanda memeroleh makna khusus dari anggota masyarakat.

Dari penjelasan dan penjabaran yang dilakukan sebelumnya mengenai kebudayaan dari sudut pandang semiotik, semakin jelas bahwa bahasa memang memiliki peranan penting dalam mentransmisikan kebudayaan. Kebudayaan dapat mengambil konsep sruktur bahasa yang awalnya dikembangkan oleh Ferdinand de Sasussure. Bahasa dan kebudayaan sama-sama merupakan struktur tanda. Bahasa dapat membentuk kebudayaan. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Danesi & Perron (1999) bahwa agenda semiotik adalah mencari bentuk dari sistem representasional di balik bentuk ekspresi manusia. Di dalam bentuk ekspresi itulah terkandung makna. Koherensi antara bentuk ekspresi ke dalam sistem menyeluruh dari produksi makna inilah yang disebut budaya. Bahasa dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang kemudian akan membentuk budaya di masyarakat tertentu.

 

Daftar Pustaka

Barthes, Roland. 2013. Mythologies. New York: Hill & Wang.

Christomy, Tommy. 2010. “Piercean dan Kajian Budaya” dalam Semiotika Budaya. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya.

Danesi, Marcel & Paul Perron. 1999. Analyzing Cultures: An Introduction & Handbook. Indiana: Indiana University Press.

Hoed, Benny H. 2014. Semiotik  Dinamika Sosial Budaya. Depok: Komunitas Bambu.

Keesing, Roger. M. 1981. “Theories of Culture” dalam Language, Culture, and Cognition. Ronald W. Casson (ed.). New York: Macmillan Publishing.

[1] Merujuk pada pengertian bahasa menurut Roland Barthes (Barthes, 2013)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s