Ini Tentang Rindu, Ranum

Ranum, aku rindu kamu. Aku sungguh rindu kamu. Aku hampir menangis karena rindu ini–dan hal-hal lainnya. Aku butuh pundakmu untuk bersandar, dan petikan gitarmu untuk tenang. Aku ingin melepas beban di sampingmu dan bercerita tentang betapa mengerikannya prasangka. Tentang potensi menyakitkan yang dikandung harapan. Aku ingin bercerita dan bercerta terus sambil menghabiskan malam denganmu.

Ranum, kapan kita jumpa? Adakah kita akan benar-benar jumpa? Kemarin aku menjalin sesuatu yang berakhir kepada kesia-siaan, dan itu menyakitkan, Ranum. Kekecewaan dan kesedihan ternyata menjelma sakit dan membuat mulutku pahit. Kau tahu, Ranum, air mata rasanya masih asin. Dan ketika kau mengeluarkan air mata asin itu karena rasa pahit di dada, cappucino tanpa gula jadi terasa manis sekali.

Tapi, saat kau baca surat ini, Ranum, rasa sedih yang kurasakan kemarin tentu sudah berkurang. Bahkan ketika aku menulis surat ini, aku sudah tidak sesedih kemarin. Semua akan menjadi normal dan biasa karena waktu terus berjalan dan cerita terus bergulir. Aku akan bertemu orang baru dan akan mengukir cerita baru dengan kegembiraan baru dan mungkin kesedihan yang baru. Aku tahu, pada akhirnya semua akan baik-baik saja.

Tapi kalau aku bilang aku rindu kamu, itu sungguhan. Ternyata jarak dan waktu malah memupuk rindu. Menurutmu, apakah perjumpaan merupakan obat paling mujarab bagi rindu? Atau rindu bisa terobati hanya dengan percakapan tanpa perjumpaan? Aku memilih perjumpaan yang penuh percakapan manis. hehehehe

O iya, aku punya seorang teman baru. Dia yakin sekali aku kesepian dan tak pernah bahagia. Dia bilang, mataku memancarkan kesepian yang dalam. Apa iya mataku benar-benar memancarkan kesepian? Padahal, aku merasa baik-baik saja dengan hidupku. Aku memang terkadang merasa kesepian, tapi aku rasa aku tidak pernah memancarkannya lewat mata. Hal yang paling konyol, Ranum, temanku itu percaya bahwa aku tidak pernah menerima atau dibacakan puisi. Rasanya aku ingin menceritakanmu padanya. Kamu yang baik dan manis yang tidak hanya memberiku puisi tapi menciptakan puisi dalam hidupku. Tapi dia begitu percaya pada apa yang ada di pikirannya sehingga kata-kataku hanya akan jadi percuma. Tapi aku dekat dengan temanku itu. Dia dan aku memiliki ketakutan yang sama akan penerimaan orang lain terhadap kami. O iya, sekadar info saja, dia sedang kasmaran sekarang. Aku turut berbahagia untuknya.

Aku juga bahagia untukmu dan hidupmu. Semoga kau segera menemukan cinta yang membahagiakan. Semoga pertemuan segera terjadi antara kita, ya. Rindu ini, Ranum, sudah terlalu runcing. Semoga hujan dan terik tak membuatmu sakit.

 

Salam termanis,

Galuh Sakti Bandini

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s