Terserah Siapa yang Bicara

Suatu sore di beranda rumah. 
“Apa yang ada dalam pikiranmu?”
“Savana.”
“Dengan kijang yang merumput?”
“Dengan lalat yang dilupakan.”
“Dengan senja yang mengharukan?”
“Dengan siang yang terik.”
“Apakah tidak terlalu terasing?”
“Apakah harus selalu akrab?”
“Tidak juga. Kita bahkan tak selalu akrab.”
“Benar juga. Tapi tak apa, kan?”
“Tentu tak apa. Daripada bosan.”
“Lalat suka kebosanan.”
“Kata siapa?”
“Kata lalat. Kemarin ia bilang padaku ketika aku hampir mati bosan.”
“Hati-hati gila.”
“Ah, pada dasarnya kita semua gila. Tapi kegilaan itu kita sembunyikan jauh-jauh agar tidak dilihat orang lain.”
“Berarti yang paling merdeka adalah orang gila, dong?”
“Bisa jadi. Tapi apalah artinya merdeka kalau tidak bisa memaknai kemerdekaan itu.”
“Apalah artinya memiliki kegilaan kalau tidak boleh gila.”
“Apalah artinya kita membicarakan kegilaan padahal kita tidak pernah benar-benar gila.”
“Hati-hati waras.”
“Aku selalu waras.”
“Kamu tidak konsisten kalau begitu. Katanya kita semua gila.”
“Pernah kau percaya orang gila? Pernah kau dengar ada orang gila yang mengaku gila?”
“Hahaha. Kau terlalu waras untuk ukuran orang gila.”
“Nah, itulah.”

Keadaan hening selama lima detik

“Apakah ada lalat yang gila?”
“Mungkin ada. Sapi dan anjing saja ada yang gila.”
“Hewan-hewan itu mikir apa, ya, bisa sampai gila begitu?”
“Mana aku tahu. Aku belum pernah jadi hewan.”
“Memang ada yang pernah?”
“Tanya saja ke Darwin. Dia bilang, kita berkerabat dengan hewan. Siapa tau ternyata dia pernah menjelma kera.”
“Hush! Kurang ajar kamu.”
“Saya menghargainya karena telah menemukan teori evolusi. Tapi apakah saya salah jika mempertanyakannya?”
“Caramu yang salah.”
“Wah, kau ini adalah perwujudan konstruksi sosial yang sangat bagus.”
“Kau menghinaku kalau begitu.”
“Aku memujimu.”
“Mana bisa begitu.”
“Bagaimana tidak begitu?”
“Aku ingin menjadi aku saja.”
“Tidak bisa. Kita tidak pernah menjadi kita seutuhnya.”
“Termasuk kamu?”
“Tentu saja. Aku pasti dipengaruhi orang lain, meski aku tidak sadar.”
“Tapi aku tidak ingin menjadi apa yang diinginkan orang lain.”
“Kalau begitu, berusahalah. Sadarlah dalam memilih pilihan yang menjadikan dirimu, dirimu.”
“Aku selalu sadar.”
“Baguslah. Hidup ini memang perkara pilih memilih dan hal yang paling penting adalah kesadaran dalam pemilihan kita.”
“Seperti aku sadar memilih berbincang denganmu yang gila.”
“Seperti itulah.”
“Jadi, kamu gila betulan?”
“Apakah aku semerdeka itu?”
“Entah”

Diam cukup lama

“Jangan diam lama-lama.”
“Kenapa?”
“Aku tidak suka.”
“Aku suka.”
“Jangan diamkan aku. Rasanya tidak enak.”
“Kenapa?”
“Aku tidak suka diacuhkan.”
“Kau ingin merasa berarti, ya?”
“Mungkin begitu.”
“Mungkin itu salahmu.”
“Kenapa aku yang salah?”
“Karena ingin merasa berarti.”
“Itu kan manusiawi.”
“Kata siapa?”
“Kataku, setidaknya.”
“Tetap saja kau salah.”
“Kamu kok menyudutkanku?”
“Karena kau ingin merasa berarti. Kita tidak pernah benar-benar berarti jika tidak benar-benar berguna.”
“Hmmm…apakah aku berarti bagimu?”
“Sekarang sih iya. Entah kalau nanti.”
“Kok bisa begitu?”
“Kenapa tidak bisa? Siapa sih yg benar-benar paham mengenai kepastian?”
“Tapi aku masih ingin merasa berarti.”
“Nanti kau tambah sedih.”
“Sedih juga manusiawi.”
“Yasudah kalau begitu. Terserah kamu. Kalau kamu siap sedih, ya silakan pupuk keinginanmu untuk merasa berarti.”

Hujan turun

“Kapan kita mati?”
“Kalau sudah waktunya.”
“Kapan.”
“Kamu maunya kapan?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu saja tidak tahu apa maumu, pakai segala bertanya kapan. Kalau sudah siap, barulah kau tanyakan itu.”
“Kalau aku sudah siap, aku tidak akan bertanya. Aku akan menyambutnya.”
“Menyambut kematian?”
“Iyalah.”
“Apakah mungkin?”
“Kenapa tidak?”
“Bukannya dia datang dengan penuh kejutan?”
“Siapa tau dia mengirim tanda terlebih dahulu.”
“Sayang sekali, di antara kita belum pernah ada yang mati.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s