Last Romance

​“Adakah lagi penjual kata-kata tanpa nota?”
Kalimatmu terngiang terbang menggema dalam tempurung kenangku

Hinggap dalam renungan
Kalimatmu itu sempat terlupa, tersembunyi

Dalam catatan yang lama tertutup 

Hingga suatu masa yang tiba-tiba ia lepas

Terbang dan merasuk padaku

pada suatu sore yang tenang

dalam kota yang riuh
Kau adalah penjual kata

Aku penikmatmu yang ingin sekali membeli kata-katamu

Tapi kubeli dengan apa? doa?
***

“Kita akan abadi di harapan yang ke seratus”
Dulu begitu kita ikrarkan mimpi di siang bolong

Di bawah rindang daun pohon

Yang masih saja mencoba menghalau terik
Tiba-tiba kau beri aku kata-katamu

“tak usah beli,” katamu

****
“Adakah kepak sayap kupukupu menggeleparkan suara

ketika sunyi menyediakan beranda bernama kematian?”
Pernah kau lintaskan pertanyaan itu

Pada cerita kita

Adakah telah kau temukan jawabnya

Pada enam puluh delapan harapan yang sempat mati?
Bagaimana rasanya mati sebelum kita hidupkan harapan yang ke seratus?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s